• ENERGI ALTERNATIF DARI BLUE AGAVE

    by  • 14/08/2013 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Seorang teman yang baru pulang dari Meksiko, bercerita bahwa tanaman hias nanas-nanasan yang banyak tumbuh liar di NTT, bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif. Benarkah itu, dan bagaimana caranya? (Lourens, Larantuka)

    Sdr. Lourens, yang dikatakan teman anda itu benar. Tanaman nanas-nanasan yang bisa digunakan sebagai sumber energi adalah blue agave, yang juga disebut tequila agave, mezcal atau maguey (Agave tequilana, dan Agave americana). Tanaman ini memang berasal dari Amerika Tengah, khususnya Meksiko, dan Arizona AS. Di negeri ini blue agave telah dibudidayakan secara komersial dalam skala besar. Di Meksiko tanaman ini dibudidayakan bukan sebagai energi alternatif, melainkan untuk bahan Tequila, minuman beralkohol yang sangat terkenal sebagai komoditas ekspor negeri ini.

    BLUE AGAVEBlue agave disebut nanas-nanasan, karena bentuknya mirip tanaman nanas. Bedanya, daun blue agave rata, lebih tebal dan kaku, serta berwarna biru keabu-abuan, hingga disebut blue Agave. Di Meksiko, bonggol tanaman ini disebut piñas, Bahasa Spanyol yang berarti nanas. Blue Agave masuk ke Indonesia dibawa oleh Bangsa Portugis, dan kemudian Belanda, sebagai tanaman hias. Di kota-kota besar kita bisa melihat tanaman ini sebagai elemen taman. Blue agave juga banyak ditanam di kuburan, dan tumbuh liar di lahan gersang.

    Blue Agave merupakan tanaman jangka panjang, karena pinãsnya baru bisa dipanen pada umur 12 tahun setelah tanam. Ketika itu bobot satu pinãs akan mencapai 35 sampai 90 kg. Di seluruh Meksiko, saat ini ada sekitar 100 perusahaan penghasil Tequila, dengan lebih dari 2000 merek terdaftar. Tahun 2006, satu botol Tequila limited-edition premium volume satu liter, dilelang dengan harga 225.000 dollar AS, dan dicatat dalam buku Guiness Book of Records. Sentra penanaman blue agave terbesar ada di Negara Bagian Jalisco.

    Panen pinãs harus tepat waktu. Terlalu tua, kadar gulanya masih kecil, terlalu tua kadar gulanya juga sudah berkurang untuk pertumbuhan. Setelah dipanen, bonggol blue agave yang menggembung dan bersih dari daun, segera belah, dibakar (dioven) lalu digiling. Bubur  pinãs ini difermentasi, disaring, lalu didestilasi (disuling), sebanyak dua sampai tiga kali. Tahap paling akhir tequila di”tuakan” dalam drum-drum kayu, seperti pada proses penuaan wine. Paling sedikit tequila harus dituakan selama dua bulan, baru boleh dibotolkan. Tequila hasil pemeraman 2 – 12 bulan disebut Reposado. Penuaan selama 1 – 3 tahun disebut Anĕjo, dan lebih dari tiga tahun disebut Extra Anĕjo.

    Karena mengandung banyak gula, logikanya bonggol blue agave bisa digunakan sebagai bahan energi, terutama etanol dan metanol. Kendala utamanya, selama ini pinãs merupakan bahan baku tequila, yang nilai ekonomisnya cukup tinggi. Hingga memroduksi pinãs untuk gula misalnya, marjinnya masih terlalu rendah. Apalagi untuk etanol dan metanol sebagai bahan bakar alternatif, yang nilainya terlalu rendah jika dibandingkan dengan tequila. Selama ini Meksiko juga hanya memanfaatkan blue agave sebagai bahan baku tequila, bukan untuk gula, atau bahan bakar alterlatif.

    Di Meksiko, blue agave hanya dibudidayakan di lokasi-lokasi tertentu. Sebab komoditas ini memerlukan jangka waktu berproduksi cukup panjang. Lahan-lahan marjinal yang kering, paling cocok untuk budi daya blue agave. Meskipun blue agave sudah banyak tumbuh di Indonesia sebagai tanaman hias, tidak berarti tanaman tersebut juga mampu menghasilkan gula dengan rendemen setinggi di Meksiko. Apakah budi daya blue agave cocok di NTT, terutama di kawasan yang ekstrim kering? Masih diperlukan penelitian yang cukup serius, seberapa besar potensi komoditas tersebut di negeri kita. ***

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *