GINJE SEBAGAI TANAMAN HIAS
by indrihr • 23/02/2026 • Uncategory • 0 Comments
Generasi muda Indonesia sekarang banyak yang tidak mengenal tanaman hias ginje, yellow oleander, Cascabela thevetia. Mereka hanya tahu keberadaan perdu berdaun indah, berbunga kuning, dengan buah berbentuk aneh; tanpa tahu namanya.
Generasi tua, banyak yang masih ingat nama daerah ginje. Ny. Mien Sugandhi, yang pernah menjadi anggota DPR/MPR, Ketua Kowani dan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita; menyebut tanaman ini “kontol bimo”. Dalam sebuah seminar tanaman obat yang diselenggarakan oleh Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, Konrad-Adenauer-Stiftung, Bina Desa dan Air Mancur; peserta seminar menyebut nama ginje sebagai “anunya Bima”. Saat itulah Bu Mien Sugandhi dengan suaranya yang medok Jawa mengatakan: “Mau bilang kontol bimo saja kok pakai malu-malu!” Serentak peserta seminar tertawa berkepanjangan.
Kadang nama ginje diperhalus menjadi “kunta bima”, ada pula yang menyebutnya “kemiren” karena buahnya mirip dengan kemiri, Aleurites moluccanus. Masing-masing daerah punya sebutan sendiri-sendiri untuk ginje misalnya johar manik dan nogosari. Dulu ginje banyak ditanam di kuburan bersama dengan kamboja sebagai tanaman peneduh sekaligus tanaman hias.
Harapannya dua jenis tumbuhan dari Amerika Tengah ini tidak akan diambil daunnya untuk pakan ternak atau ditebang sebagai kayu bakar. Ternyata kayu ginje dan kamboja cukup keras hingga banyak ditebang untuk dibuat arang.
Daun ginje yang bergetah putih juga disenangi kambing. Yang dimakan kambing bukan hanya daun dan pucuk ginje, melainkan juga kulit kayu dan daging buahnya. Tempurung buahnya kadang ikut termakan kambing dan keluar utuh bersama kotoran. Meskipun bergetah, daun, kulit kayu dan daging buah ginje tidak beracun. Sama halnya dengan daun singkong (Manihot esculenta) dan kastuba (Euphorbia pulcherrima) yang bahkan dikonsumsi manusia. Kebutuhan kayu bakar dan pakan ternak telah membuat ginje yang banyak tumbuh di kuburan terancam keberadaannya. Setelah kayu bakar diganti kompor minyak tanah dan kemudian gas, penebangan ginje di kuburan terhenti.

Ginje kemudian banyak digunakan sebagai perdu hias untuk taman kota dan peneduh jalan. Daun ginje yang sempit, memanjang dan tumbuh rapat memenuhi ranting, memang tampak indah. Terlebih apabila tajuk tanaman tersebut rutin dipangkas dan dibentuk. Bunga ginje berbentuk terompet berwarna kuning, memang tidak tumbuh menggerombol banyak seperti halnya terompet kuning, Yellow Elder, Tecoma stans. Atau tabebuia kuning, putih dan pink yang sekarang banyak dijumpai sebagai perdu hias di mana-mana. Tetapi ginje tetap punya daya tarik tersendiri dengan daunnya yang artistik, bunga kuning, dan bentuk buahnya yang unik.
Didatangkan Belanda
Ginje yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, masuk ke kepulauan Nusantara karena didatangkan oleh Bangsa Belanda sebagai tanaman hias. Tak jelas apakah Belanda membawanya langsung dari Benua Amerika atau dari Asia. Penyebaran ginje dari Benua Amerika ke Asia kemungkinan dibawa oleh Bangsa Spanyol dan Portugis. Lain halnya dengan penyebaran bunga kamboja, genus Plumeria; dari Benua Amerika ke Asia yang sudah terjadi sejak abad 3 dan 4 Masehi, dibawa oleh Bangsa Indian yang mengarungi Samudera Pasifik menggunakan rakit kayu balsa. Migrasi ini juga menyebarkan ubi jalar dan jagung.
Diduga awalnya ginje dibawa oleh Bangsa Eropa dari Florida dan Hawaii ke China dan India baru menyebar ke kepulauan Nusantara. Di India dan Srilanka ginje kemudian dikenal sebagai “kacang bunuh diri”. Beda dengan bagian lain tanaman, biji ginje yang dilindungi tempurung sangat kuat itu mengandung racun glikosida terutama thevetin A dan thevetin B, peruvoside, neriifolin, thevetoxin, dan ruvoside. Senyawa ini merupakan kardiotoksin kuat yang mempengaruhi fungsi jantung. Mengonsumsi 3 sampai empat butir biji ginje dapat berakibat fatal (kematian) akibat disfungsi jantung.
Tak diketahui dengan pasti kapan masyarakat India dan Sri Lanka mengetahui bahwa biji ginje beracun sangat keras hingga mereka gunakan untuk bunuh diri. Kasus bunuh diri menggunakan biji ginje diketahui oleh dunia luar karena para korban, baik yang kemudian meninggal maupun yang selamat, dibawa ke rumah sakit. Para dokter dan tenaga medis rumah sakit inilah yang pertama-tama mengetahui bahwa para pasien mereka keracunan biji ginje. Keluarga kemudian memberikan keterangan bahwa korban sengaja menelan biji ginje untuk tujuan bunuh diri. Di dua negara ini ginje sudah tumbuh invasif dan menjadi tanaman liar.
Menyikapi adanya kasus bunuh diri menggunakan biji ginje, pemerintah Inggris yang pernah menguasai India dan Sri Lanka tidak bersikap reaktif dengan memusnahkan ginje yang sudah menjadi tumbuhan liar. Tekanan kemiskinanlah yang umumnya menjadi pemicu bunuh diri di dua negara ini. Sama dengan fenomena “pulung gantung”, kasus bunuh diri dengan cara gantung diri di Kabupaten Gunungkidul, DIY yang umumnya dipicu faktor kemiskinan. Lain halnya dengan kasus bunuh diri di Jepang yang disebabkan oleh “budaya malu” karena telah berbuat salah, atau gagal berprestasi dalam bidang tertentu termasuk gagal naik kelas/lulus ujian bagi anak-anak dan remaja.
Di Indonesia ginje juga sudah tumbuh liar tetapi tidak sampai invasif seperti halnya di India dan Sri Lanka. Karena tumbuhan ini memang tahan cuaca kering ekstrim. Biji ginje yang berada dalam tempurung sangat keras tahan terpapar sinar matahari berbulan-bulan dan akan segera tumbuh pada saat turun hujan. Ginje hanya berkembang biak secara generatif menggunakan biji. Tanpa perlakuan khusus, penyemaian biji ginje juga berlangsung cukup lama antara dua sampai tiga bulan. Sebagai tanaman hias dan peneduh jalan, belakangan ginje kalah pamor oleh tabebuia dan Tecoma stans. # # #
Artikel pernah dimuat di Tabloid Kontan
Foto F. Rahardi
