• INDUSTRI HILIR SAWIT

    by  • 07/05/2013 • Perkebunan • 0 Comments

    Perkebunan kelapa sawit tidak hanya menghasilkan minyak goreng. Dari CPO (Crude Palm Oil, minyak sawit mentah), bisa diproduksi margarin, sabun mandi, biodisel, sampai plastik. Sayangnya, industri hilir sawit masih belum terlalu menarik perhatian investor. Hingga ketika harga CPO jatuh, semua hanya bisa mengeluh.

    Margarin (Blue Band, Simas, dan lain-lain), sudah sangat dikenal masyarakat, dan sering salah kaprah disebut sebagai “mentega”. Padahal mentega berasal dari susu ternak, terutama sapi, sementara margarin adalah produk nabati, terutama dari minyak sawit. Margarin hanyalah salah satu produk CPO disamping minyak goreng. Sabun batangan, baik sabun mandi maupun sabun cuci, juga berasal dari lemak nabati, terutama CPO. Sabun batangan pertama dari CPO bermerk Sun Rise, menyusul Sun Light, yang di tahun 1850an – 1960an populer sebagai “sabun cap tangan”.

    Popularitas sabun cuci merosot ketika tahun 1970an muncul produk deterjen, dalam bentuk pasta (sabun colek), maupun serbuk (Rinso, Soklin, Atack, dan lain-lain). Deterjen adalah pembersih dengan bahan baku lemak minyak bumi, yang relatif lebih murah dibanding lemak nabati. Kelemahan deterjen adalah, limbahnya potensial mencemari lingkungan, karena lebih sulit terurai dibanding sabun dari lemak nabati. Pencemaran sungai di DKI Jakarta, terutama disebabkan oleh limbah deterjen dari saluran air rumah tangga. Bukan dari Industri besar.

    # # #

    CPO juga paling unggul untuk diolah menjadi biodisel, sebab produktivitas per hektarnya paling tinggi. Produktivitas kelapa sekitar 2,3 ton, jarak malahan hanya 1,5 ton, sementara sawit bisa 5,5 ton per hektar per tahun. Rumus kimia disel adalah C10H20 sampai C15H28. Sementara rumus kimia palmatic acid dalam CPO adalah CH3 – (CH2)14 – COOH. Dengan membuat atom oksigen (O), dan mengubah komposisi karbon (C), serta hidrogen (H), melalui berbagai cara, maka palmatic acid dari CPO bisa menjadi biodisel, baik 100% maupun masih harus dicampur dengan disel dari minyak bumi.

    Kandungan utama CPO adalah 44.3% asam palmatik (Palmitic Acid, C16H32O2); 38.7% asam oleik (Oleic Acid, C18H34O2); 10.5% asam linoleik (Linoleic Acid, C18H32O2); 4.6% asam stearik (Stearic Acid, C18H36O2); 1.0% asam miristik (Myristic Acid, C14H28O2); dan 0.9% terdiri dari bahan lain. Semua bahan itu dikategorikan sebagai asam lemak. Palmitic, Stearic, dan Myristic adalah asam lemak jenuh. Oleic merupakan asam lemak tak jenuh tunggal, sementara Linoleic asam lemak tak jenuh majemuk. Sama dengan minyak nabati lainnya, dalam CPO sama sekali tidak terkandung kolesterol. Sebab kolesterol hanya terdapat dalam lemak hewan (daging, telur, susu, keju dan mentega).

    CPO berasal dari sabut buah kelapa sawit. Biji buah sawit (inti biji, kernel), menghasilkan minyak kernel (Palm Kernel Oil, PKO), yang volumenya kurang dari 10% dari volume CPO dalam buah sawit. PKO juga mengandung asam lemak sama dengan CPO, hanya prosentasenya berbeda, yakni 16.2% Myristic Acid, 15.3% Oleic Acid, 8.4% Palmitic Acid, 2.5% Stearic Acid, dan 2.3% Linoleic Acid. Selain itu, PKO juga masih mengandung 48.2% asam laurik (Lauric Acid, C12H24O2); 3.4%) asam kaprik (Capric Acid, C10H20O2); 3.3% asam kaprilik (Caprylic Acid, C8H16O2); dan 0.4% bahan lain. Meskipun tetap diolah dan diperdagangkan, nilai ekonomis PKO berada jauh di bawah nilai ekonomis CPO, karena volumenya yang di bawah 10% dari volume CPO.

    Asam lemak dalam CPO, bisa diisolasi (dipisahkan satu dengan lainnya, dimurnikan), untuk diproses menjadi puluhan produk. Di antaranya adalah untuk bahan baku farmasi (obat-obatan), aromatik (esense), dan plastik ramah lingkungan. Plastik dari bahan CPO, disebut ramah lingkungan, karena mudah sekali terurai ketika berada di alam terbuka. Kelemahan plastik dari bahan CPO adalah, saat ini masih tinggi harganya, dan hanya bisa digunakan untuk tas kresek. Sebab untuk tali, benang, kain, terlebih untuk green house, plastik berbahan CPO, tidak tahan lama. Tetapi justru inilah kelebihannya: mudah terurai kembali menjadi bahan organik, ketika berada di alam terbuka.

    # # #

    Agroindustri berbahan CPO di Indonesia, sampai saat ini masih sebatas pada minyak goreng, margarin, sabun mandi, dan baru-baru ini biodisel. Volumenya memang sangat besar, tetapi sebagian besar dari produk agroindustri itu hanya dikonsumsi di dalam negeri, bukan untuk diekspor. Lemahnya industri hilir kelapa sawit di Indonesia, justru disebabkan karena kita adalah penghasil utama komoditas tersebut. Ketika harga CPO melambung sampai tembus 1.000 dolar AS, pelaku bisnis di Indonesia berlomba-lomba untuk membuka kebun sawit. Perkebunan yang sudah ada menahan tidak meremajakan tanaman, yang seharusnya sudah waktunya diremajakan.

    Tujuannya hanya satu, yakni untuk menggenjot produksi. Andaikan agroindustri hilir sawit di Indonesia sudah rx pharmacy canada tumbuh, sejalan dengan pertumbuhan industri hulunya, maka pelaku sawit di negeri ini tidak akan terpukul oleh jatuhnya harga. Mereka justru akan menangguk untung besar, sebab harga produk turunan CPO, terutama untuk bahan sourtening (perenyah kue), farmasi, esense, dan bio plastik, tidak pernah jatuh. Saat ini, ketika harga CPO jatuh, harga margarin, dan sabun mandi tetap saja tidak turun. Hingga industri dua produk itu bisa memperoleh keuntungan yang cukup besar. Harga minyak goreng memang juga turun, namun prosentase penurunannya hanya 30% (dari Rp12.000 menjadi Rp8.000) di tingkat konsumen.

    Sementara penurunan harga CPO mencapai 50% (dari 1.000 ke 500 dolar AS per ton). Yang paling terpukul adalah petani sawit. Penurunan Tandan Buah Sawit (TBS), mencapai 70%, dari Rp2.000 ke Rp600 per kg. http://pharmacyonline-incanada.com/ Meskipun sekarang harga CPO dan TBS sudah mulai merayap naik, para pelaku bisnis menduga harga CPO hanya akan mencapai 850 dolar AS per ton, dan TBS cukup Rp1.000 per kg. Jatuhnya harga CPO dan TBS, menyadarkan pemerintah dan para pelaku bisnis sawit, bahwa Indonesia sudah saatnya mengembangkan secara serius industri hilirnya. Hingga yang kita ekspor bukan hanya CPO, tetapi paling tidak produk turunan pertamanya. (R) # # #

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *