PLANTAIN SEBAGAI BAHAN PANGAN
by indrihr • 20/05/2013 • Pangan • 0 Comments
Plantain adalah istilah yang digunakan untuk pisang olahan. Di pasar internasional, pisang dibedakan menjadi dua: sebagai buah meja, dan sebagai pisang olahan. Pisang sebagai buah meja, lebih sering disebut “cavendish”. Bahkan, kadang hanya disebut merknya, seperti Chiquita, Del Monte, Dole dan Fyffes.
Untuk membedakannya dengan pisang buah, pisang olahan disebut plantain. Plantain berkembang di Afrika Barat, Amerika Tengah dan Latin sebagai bahan pangan. Di Indonesia, plantain dikenal sebagai pisang biasa. Pisang konsumsi dikelompokkan menjadi iga spesies, yakni Musa acuminata (mas, ambon, raja sereh), dan Musa balbisiana (pisang batu). Plantain (Musa x paridisiaca), adalah hasil silangan alami antara Musa acuminata dan Musa balbisiana. Contoh plantain adalah pisang kepok, pisang tanduk, pisang raja.
Semua genus Musa, berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan Australia Utara. Baru pada abad XVI pisang genus Musa dibawa oleh Bangsa Kulit Putih ke Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Afrika. Cavendish, pisang buah meja paling terkenal di dunia, justru lahir di Inggris. Induk cavendish, memang berasal dari Vietnam dan China bagian selatan. Nama Cavendish digunakan untuk mengenang bangsawan Inggris, William George Spencer Cavendish, Duke ke 6 dari Devonshire (21 Mei 1790 – 18 Januari 1858). Ahli taman William Cavendish bernama Sir Joseph Paxton (3 Agustus 1803 – 8 Juni 1865), memasukkan induk pisang cavendish ke Inggris dari Vietnam dan RRC pada abad XVIII.
Dari Inggris, benih pisang unggul ini dikembangkan di Amerika Tengah, dan Australia, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Plantain pun sama, berasal dari Asia Tenggara, tetapi berkembang di Amerika Tropis. Jenis plantain asli yang ada di Indonesia adalah pisang tanduk, dan pisang nangka. Namun pemanfaatan dua varietas pisang ini sangat terbatas. Bahkan pisang australia alias raja medan, plantain introduksi dari Australia pun, tidak berkembang sebagai bahan pangan.
# # #
Di Amerika Tengah, Latin, dan di Afrika, plantain berkembang sebagai makanan pokok. Baik dengan terlebih dahulu ditepungkan, direbus begitu saja dan dimasukkan ke dalam sup, dibuat keripik, dan lain-lain menu. Tepung pisang, lazim dimasak menjadi roti, kue, dan bubur, lalu dikonsumsi sehari-hari sebagai substitusi gandum, jagung, dan singkong. Di Ecuador, Colombia, Honduras, Dominika, Venezuela, Haiti, Guatemala, Ekuador, Honduras, Panama, Peru, Kolombia, Kuba, dan Puerto Rico, menu terkenal dari plantain disebut Plátanos Maduros.
Plantain berkandungan karbohidrat lebih tinggi, dengan kadar gula rendah. Pisang buah berkarbohidrat rendah, dan kadar gula tinggi. Pisang tanduk, (pisang agung, pisang byar), merupakan plantain Indonesia paling besar. Sebagai plantain, pisang tanduk, dan juga pisang kepok, tidak pernah dikonsumsi segar. Di Indonesia pun, pisang dibedakan menjadi dua: sebagai buah meja, pisang olahan. Pisang ambon dan raja sereh adalah buah meja. Tanduk, raja bulu dan kepok kuning adalah pisang olahan.
Plantain Indonesia, selama ini hanya dimanfaatkan sebagai makanan ringan. Pisang baru akan dikonsumsi sebagai makanan pokok, oleh masyarakat miskin, ketika terjadi kelangkaan pangan. Hingga pisang sebagai makanan pokok, selalu diasosiasikan dengan kemiskinan, dan kelangkaan pangan. Dengan kesan seperti ini, sulit untuk mengembangkan plantain sebagai bahan makanan pokok. Di Indonesia, pergeseran makanan pokok justru terjadi dari jagung, singkong, dan sagu ke beras, lalu dari beras ke gandum.
Di Amerika Tengah dan Latin, pisang adalah menu terhormat. Sebagai tanaman pendatang dari Asia Tenggara, pisang dianggap sebagai buah
eksotis oleh imigran kulit putih, para budak Negro, maupun penduduk asli Indian. Di Amerika Tengah, dan Latin, makanan dari bahan pisang memang berkembang lebih bervariasi. Sebaliknya di Indonesia makanan dari bahan singkong asli Amerika Latin berkembang menjadi sangat bervariasi.
# # #
Budi daya plantain, agak berbeda dengan pisang buah, khususnya cavendish. Pisang buah ditanam sekali, dengan benih dari rumpun, benih pecahan bonggol, maupun benih hasil kultur jaringan. Benih daun pedang dari rumpun, ukuran 2 m, akan berproduksi paling capat. Pisang akan menghasilkan minimal dua anakan, sebelum berbunga (keluar jantung). Setelah induk ditebang untuk dipanen tandannya, anakan paling besar sudah siap untuk menggantikan posisi induk. Demikian seterusnya, hingga dalam satu rumpun pisang, selalu ada tiga individu tanaman.
Ada pula pisang yang menghasilkan anakan banyak tetapi kecil-kecil, dengan ukuran seragam. Misalnya pisang tanduk yang tgolong sebagai plantain. Tumbuhnya anakan pun, menjelang buah tua. Hingga ketika induk pisang tanduk ditebang, beberapa anakan yang ditinggalkan berukuran seragam, setinggi 50 cm. Anakan ini tidan mungkin dibiarkan di sekitar bonggol induk, sebab tidak akan berkembang. Ketika induk ditebang, seluruh bonggol dengan anakan ukuran 50 cm, harus dibongkar. Anakan dipisahkandari bonggol induk, lalu disemai.
Benih pisang tanduk hasil semaian anakan, baru bisa ditanam kalau sudah mencapai ketinggian, minimal 1,5 m. Demikian seterusnya, hingga pisang tanduk hanya bisa ditanam sekali, kemudian bonggol induk dan anakan dibongkar. Meskipun budidaya pisang tanduk lebih rumit dibanding pisang buah, namun ukuran sisir dan buahnya lebih besar. Meskipun hanya bisa ditanam sekali, tetapi nilai pisang tanduk sebagai plantain selalu lebih tinggi dibanding pisang biasa. Terutama pisang tanduk berdaging merah (oranye). (R) # # #
