• DAMPAK TEROR TERHADAP EKONOMI

    by  • 02/07/2013 • PERTANIAN • 0 Comments

    Peristiwa 11 September 2001, berdampak sangat besar bagi meredupnya perekonomian AS, dan pasar global. Demikian pula ketika Bom Bali I meledak di Kuta tanggal 12 Oktober 2002, pariwisata di Pulau Dewata itu langsung sepi. Bagaimanakah dampak Bom Marriott II bagi perekonomian Indonesia?  

    Sesudah sekitar dua minggu terjadi ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, rupiah justru menguat. Rabu, 29 Juli 2009, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berada pada level Rp 9.975 per satu dollar AS. Seminggu sebelumnya, 23 Juli 2009, posisi rupiah terhadap dollar AS masih bertengger pada posisi Rp 10.063 per dollar AS. Sehari sesudahnya, 24 Juli 2009, rupiah mampu menembus “angka keramat” Rp 10.000, menjadi Rp 9.995 per satu dollar AS. Padahal tanggal 24 Juli adalah tepat satu minggu pasca ledakan Bom Marriott II.

    Ada beberapa penyebab, mengapa teror bom tidak terlalu berpengaruh terhadap faktor perekonomian kita. Pertama, kondisi perekonomian dunia sendiri, juga cenderung mulai membaik, yang ditandai dengan naiknya indeks di bursa saham regional Asia, Eropa dan AS. Membaiknya faktor ekonomi ini, tentu tidak terlepas dari faktor politik, dan keamanan dunia. Kunjungan Barack Obama ke Timur Tengah setelah dilantik sebagai Presiden AS ke 44, pada 20 Januari 2009, menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap membaiknya perekonomian dunia, yang kemudian juga berimbas ke Indonesia.

    * * *

    Di Indonesia sendiri, hasil Pemilu Legislatif 9 April 2009, dan Pilpres 8 Juli 2009, juga berdampak positif terhadap pasar. Bagaimanapun, faktor ini juga sangat berpengaruh terhadap penguatan ekonomi nasional. Hingga ketika tanggal 17 Juli 2009 ada dua bom meledak di “jantung” bisnis Indonesia, rupiah justru makin menguat. Fenomena ini bisa menjadi indikator, bahwa perekonomian nasional maupun global, semakin tahan terhadap pengaruh-pengaruh dari sektor lain. Sebab secara materiil, dampak dari kerusakan, kematian dan korban luka-luka pada teror bom selama ini, sebenarnya sangat kecil terhadap perekonimian nasional.

    Yang selama ini berdampak sangat negatif terhadap perekonomian, justru faktor psikologis dari sebuah teror. Ketika investor menahan diri, ketika pemerintah negara-negara maju mengeluarkan travel warning terhadap Indonesia bagi warga negara mereka, hal-hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian kita. Meskipun, yang secara langsung terkena dampak krisis ekonomi, biasanya masyarakat kelas menengah bawah. Masyarakat menengah ke atas, biasnya hanya sebatas menahan diri tidak belanja mobil, dan barang-barang mewah lainnya. Tahun ini pasar otomotiv nasional anjlok drastis, dibanding tahun lalu.

    Kondisi perekonomian kita, juga banyak terbantu oleh membaiknya harga-harga komoditas ekspor, terutama CPO (Crude Palm Oil, minyak sawit mentah), dan karet alam. Secara global, harga komoditas penting, terutama bahan pangan, kondisinya membaik, namun masih dalam batas wajar. Beda dengan periode sampai dengan Juli 2008, ketika semua harga komoditas penting seperti “terbang” terbawa kenaikan harga minyak mentah. Kenaikan harga-harga tahun lalu, sebenarnya bukan karena kebutuhan yang lebih tinggi dari pasokan, melainkan karena komoditas yang sama dipasarkan (diputar), sampai belasan, bahkan puluhan kali, sebelum diterima oleh konsumen.

    * * *

    Melihat obyek sasaran bom, ada dugaan bahwa teror kali masih tetap ditujukan untuk menunjukkan bahwa AS, Eropa, dan kapitalisme global adalah musuh mereka. JW Marriott adalah tempat menginap dan kumpul-kumpul para konglomerat papan atas. Meledakkan obyek ini, sangat efektif untuk menunjukkan, bahwa eksistensi teroris itu masih ada. Sinyal itu dimaksudkan untuk menggertak, bahwa masyarakat diharap tidak terlalu cepat berharap terhadap Barack Obama, dan Susilo Bambang Yudhoyono, dan terutama Boediono. Sebab mereka adalah bagian dari kapitalisme global, bagian dari politik neo liberalisme.

    Namun secara konkrit, dampak dari gertakan itu sebenarnya tidak berpengaruh apa pun terhadap perekonomian. Yang “panen” hanyalah media massa, terutama stasiun televisi. Dan dampak psikologis dari Bom Marriott II, ternyata juga tidak sekuat bom-bom sebelumnya. Pada akhirnya masyarakat juga akan makin “kebal” terhadap ancaman teror. Ketika masyarakat tahu, bahwa ancaman itu sebenarnya hanya sekadar ancaman, maka mereka menjadi tidak takut lagi. Para perancang teror bom itu, toh tidak akan sampai mengambil alih kekuasaan Pemerintah RI. Hingga mereka tidak akan pernah bisa mengatur kebijakan fiskal, tingkat suku bunga, bea masuk, dan lain-lain.

    Namun demikian, aparat keamanan tetap perlu waspada, dan juga rukun. Ada dugaan, bahwa teror bisa terjadi karena aparat keamanan di tingkat puncak selama ini tidak bisa rukun. Maka pihak yang mengetahui rencana teror, membiarkannya tetap terjadi, demi kepentingan kelompoknya. Kita juga tidak perlu meributkan siapa “dalang” di balik Bom Marriott II, apakah mereka yang kalah dalam Pilpres, atau justru pemenangnya. Jangankan Indonesia, AS pun, sampai tidak pernah berhasil mengungkap dengan jelas, siapa dalang di balik Serangan 11 September 2001. Secara resmi pemerintah AS telah menuduh jaringan Al Qaeda, dengan Osama Bin Laden. Tetapi sampai sekarang, Osama juga tidak pernah bisa tertangkap. (R) * * *

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *