The King? Legit, Biji Kempis, Aroma Kuat, Lembut, Tebal
by indrihr • 22/07/2013 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Welly Bolung 4 kali terserang stroke sejak 2008. Namun, penyakit mematikan itu tak menghentikan hobinya mengonsumsi durian musang king.
Beginilah bila Welly Bolung rindu kelezatan musang king. Ia bergegas memesan tiket pesawat terbang ke Kualumpur, Malaysia. Dari Kualalumpur International Airport, bos sebuah perusahaan percetakan di Jakarta itu melanjutkan perjalanan ke kawasan dataran tinggi Genting dengan bermobil. Sekitar 15 km sebelum Genting, ia menepikan kendaraan di sebuah pertokoan yang menjajakan durian.

Di Gohtong Jaya – nama tempat – itulah Welly membeli musang king matang pohon. Dalam sebulan bisa dua kali Welly ke sana. Sekali transaksi Welly bisa menghabiskan rupiah senilai sepeda motor touring terbaru. Kelahiran 9 Februari 1955 itu biasanya paling banyak menyantap separuh buah. “Kalau dulu saya bisa habis 2 buah,” ujar ayah satu anak itu. Welly mengurangi jumlah konsumsi durian sejak dokter mendiagnosis stroke. Ia kemudian meminta penjual untuk mengupas buah yang lain, memasukkan pongge-ponggenya ke dalam kemasan sebagai oleh-oleh untuk keluarga, teman, dan kolega di tanahair.
Urutan 197
Harap maklum Welly sudah kepincut musang king. “Rasanya manis, daging buah kering sehingga bisa dimasukkan saku tanpa lengket ke baju, lembut, tidak berserat, dan berbiji kecil,” kata Welly memuji musang king. Beberapa narasumber seperti peneliti, distributor buah, dan penangkar bibit di Indonesia juga sepakat bahwa mou san wan-nama lainnya yang berarti raja kucing gunung – durian dengan cita rasa terbaik saat ini.
Darimana muasal musang king? Peneliti Pusat Penyelidikan Hortikultura Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI), Dr. Johari Sarip, musang king pertama kali dikenal pada awal 1990. Ketika itu kawasan Tanahmerah, Kelantan, Malaysia, sohor pohon durian yang menghasilkan buah dengan karakter istimewa : daging buah kuning, lembut, rasanya manis agak pahit, dan biji sebagian besar kempis.
“Namun, hingga kini tidak diketahui nama pemilik pohon induk asli musang king yang jelas. Pada 1993 seorang warga Malaysia, Wee Chong Beng mendaftarkan durian itu sebagai varietas unggul dengan nama raja kunyit. Nama kunyit disematkan karena warna daging buah kuning seperti daging rimpang kunyit Curcuma longa.

Masyarakat juga kerap menyebut raja kunyit musang king karena lokasi pohon induk konon dekat Gua Musang di Kelantan. Raja kunyit adalah varietas ke-197 yang terdaftar di Kementerian Pertanian Malaysia. Itulah sebabnya Durio zibethinus itu mendapat kode klon D-197. Popularitas musang king semakin menanjak di Malaysia setelah media cetak berbahasa Tiongkok memuat artikel tentang durian itu pada 1993.
Sejak itu pekebun di Malaysia ramai menanam musang king. “Paling banyak di daerah Pahang, Johorbaru, dan Malaka,” kata Sarip. Pada 2000 pohon-pohon itu mulai belajar berbuah. Kualitas buah musang king ternyata stabil. Sejak itu populasi musang king terus berkembang. Sayang, MARDI tidak memiliki data perkembangan luas areal tanam musang king.
Harga Istimewa
Di negeri jiran, Malaysia, musang king saat ini memang tengah naik daun. Musim panen musang king biasanya jatuh pada Mei-Juli. Pada akhir tahun pohon tetap berbuah, tetapi jumlahnya sedikit. Menurut pekebun di Pulau Pinang, Chang Teik Seng, pada 2012 terjadi anomali. Musim panen puncak justru terjadi pada akhir tahun. “Saya seperti memenangkan jackpot dua kali setahun,” ujarnya dengan raut sumringah. Meski tengah panen raya yang menyebabkan pasokan melimpah, jangan harap harga melorot tajam.
Harga jual musang king di kedai-kedai di Malaysia tetap tinggi. Contohnya di sentra lapak durian di jalan SS-2, Petaling Jaya, Donald Ng, membanderol raja kunyit minimal RM10 setara Rp 30.000 per kg utuh. Bobot musang king rata-rata 1,5-2,8 kg. Artinya harga 1 buah musang king di kios Donald Ng Rp 45.000-Rp 84.000. Saat pasokan terbatas, harga durian berkode D-197 itu melambung hingga RM30 atau Rp 90.000 per kg.
Bandingkan dengan jenis durian kampung – sebutan untuk durian yang tidak memiliki nama atau yang kurang pupuler – Donald hanya menetapkan tarif RM10 atau Rp 30.000 per orang untuk menikmati sepuasnya. Sementara untuk mencicipi D-24 – durian yang paling banyak ditanam pekebun di Malaysia – setiap pengunjung dikenakan biaya RM20 atau Rp 60.000.
“Pada Desember ini biasanya jumlah buah sedikit, jadi harganya mahal. Tapi kali ini hasil panen banyak sehingga harga bisa mencapai RM10 per kg,” kata Donald. Durian asal Tanah Merah, Kelantan, Malaysia, itu tetap laris manis meski berharga premium. Dalam sehari ia mampu menjual 50-100 musang king.
Berebut pasokan
Leong Soon Hong pekebun dan pengepul durian di Mukimgali, Raub, Pahang, mesti berebut dengan pengepul lain untuk memperoleh durian musang king dari pekebun. Dalam sekali kirim ke Singapura dan Kualalumpur, Hong hanya sanggup memasok rata-rata satu truk setara 5 ton musang king. “Pengiriman pun belum tentu bisa setiap hari karena jumlah buah terbatas. Pengiriman maksimal setiap dua hari karena musang king mudah pecah sehingga harus cepat dikirim,” katanya.
Harga raja kunyit di tingkat pekebun mencapai RM7-RM8 atau Rp 21.000-Rp 24.000 per kg. Volume penjualan terbesar tetap D-24. Setiap hari Hong mengirim hingga 15 ton durian D-24 ke Kualalumpur dan Singapura. Namun, harga D-24 di tingkat pekebun murah, hanya RM1,5-RM2 atau Rp 4.500-R[p 6.000 per kg. Ia juga menjual beberapa jenis durian lain seperti thraka, D-2, dan udang merah.
Penanaman musang king tersebar di berbagai tempat seperti Johorbaru, Pahang, Malaka, dan Selangor. Sayang, populasi, luas tanam, dan umur pohon rata-rata tidak terdata. “Tidak ada data,” kata Dr Johari Sarip. Menurut Chang Teik Seng pekebun durian di Pulau Pinang, permintaan musang king tinggi bukan berarti merupakan yang terbaik. “Kita tidak bisa membandingkan mana yang lebih baik antara musang king dengan udang merah, misalnya. Sebab, keduanya memiliki karakter berbeda,” kata Seng.

Menurut Seng, musang king tergolong durian berdaging buah kering. “Ia mungkin yang terbaik di antara durian yang berdaging buah kering,” ujarnya. Sementara udang merah tergolong berdaging buah basah. “Di antara durian berdaging basah, udang merah terbaik karena tekstur daging buah benar-benar lengket di lidah,” ujar pemilik Bao Seng Durian Farm itu.
Impor
Kabar tentang musang king di tanahair sejatinya bukan perkara baru. Trubus pertama kali memuat artikel tentang mao san wang – sebutan lain musang king – pada 2003. Beberapa pekebun di tanahair kemudian menanam musang king. Namun, kehadiran musang king pertama kali di tanahair belum diketahui pasti. Menurut Ismail Ginting, penangkar tanaman buah di Medan, Sumatera Utara, kemungkinan bibit musang king pertama kali masuk ke Indonesia pada 1997.
Di Medan Ismail menemulkan 9 pohon musang king berumur 15 tahun di sebuah kebun. Sayangnya Ismail belum berhasil memperoleh buah dari pengelola kebun musang king di Medan, lalu mengirimnya ke Trubus. Dari penampilan buah durian itu memang mirip musang king itu terlihat dari bagian dasar buah terdapat pola menyerupai bintang.
Namun, bentuk buah tidak beraturan Bentuk buah musang king cenderung bulat atau lonjong. Warna daging buah juga tampak lebih pucat ketimbang musang king yang tumbuh di Malaysia. Namun, rasa dan tekstur buah mirip, manis agak pahit dan creamy. Bijinya juga dominan kempis.
Sejak setahun terakhir popularitas musang king di tanahair terus menanjak. Itu karena mania durian tak perlu lagi jauh-jauh ke Malaysia untuk mencicipinya. Beberapa toko buah dan restoran di kota besar menjual buah segar baik utuh maupun beku. Contohnya Total Buah Segar di Jakarta Barat. Menurut asisten manajer Total Buah Segar, Mutakim, dalam sebulan menjual 2.000 kg musang king utuh. Harga jual buah utuh Rp 135.000 per kg. “Jumlah penjualan itu belum memenuhi permintaan konsumen,” kata Mutakim.
Pasar Swalayan Hokky di Surabaya, Jawa Timur, juga mengimpor durian musang king utuh dan beku melalui sebuah distributor di Jakarta. Sekali impor masing-masing sebanyak 100 kg. Hokky menjual buah utuh dengan harga Rp 150.000 per kg, beku Rp 465.000. Menurut Haryono dari pasar swalayan Hokky di Graha Famili Surabaya, jumlah pasokan durian beku sebanyak itu biasanya habis dalam dua pekan. Sementara pasokan buah utuh habis dalam sepekan.
Kebunkan musang king
Beberapa pehobi tanaman buah dan pekebun seperti Ir. H. Asep Suswanda langsung jatuh hati mengebunkan musang king. Asep Suswanda di Desa Babakan Karet, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu menanam 100-200 musang king di lahan 25 ha sejak 4-5 tahun silam. “Saat ini sedang belajar berbuah,” ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran itu.
Menurut Asep masa berbuah musang king lebih lama dibandingkan dengan varietas lain yang mulai belajar berbuah pada umur 3-4 tahun. Pada musim berbuah tahun lalu, ukuran buah musang king di kebun Asep bisa mencapai bobot lebih dari 0,5 kg per buah. “Tapi jumlahnya masih seidkit,” katanya. Ia menjual musang king dengan harga Rp 75.000-Rp 100.000 per buah.
Di Desa Sumbersari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, Budi Tejakusuma mengebunkan 2.000 tanaman musang king pada 2009. Budi mendatangkan bibit langsung dari Malaysia. Sayang, dari jumlah bibit itu sebanyak 1.700 bbit mati karena perakaran kurang kuat. Musibah itu tak membuat Budi kapok. Pada Juli 2012 ia kembali mendatangkan 100 bibit dari Malaysia dan 30 tabulampot musang king.
Tjandra Ronywijaya di Ponorogo, Jawa Timur, baru menanam durian 500 musang king di kebunnya di Desa Merayan, Kecamatan Ngrayun, pada awal Desember 2012. Ia berencana mengebunkan hingga 5.000 tanaman. Namun, saat ini baru tersedia 2.000 bibit. Untuk mengebunkan musang king sebanyak itu Tjandra membutuhkan lahan minimal 80 ha.
Tjandra bermitra dengan para petani di Desa Merayan, Binade, Selur, dan Cempoko, semuanya di Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo. Di Subang, Jawa Barat, ada Erik Wiraga yang mengebunkan 200 musang king pada Februari 2012.
Imbas popularitas musang king di tanahair turut memicu melonjaknya permintaan bibit. Lihat saja permintaan yang mengalir ke penangkar bibit di Bogor, Jawa Barat. Syahril Sidik sepanjang 2012 jumlah permintaan bibit tanaman anggota famili Bombacaceae itu mencapai 5.000 bibit. “Saya cuma bisa memasok 1.000 bibit,” ujarnya. Syahril menjual sebuah bibit setinggi 30-40 cm seharga Rp 250.000.
Ajie Win, penangkar tanaman buah di Bogor, Jawa Barat, menuturkan permintaan bibit musang king naik 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah itu baru 70% yang terpenuhi. Harga jual bibit Rp 75.000-Rp 150.000 tinggi 40 cm, lebih dari 40 cm Rp 300.000-Rp 500.000. Win bisa melayani 2 klien per bulan. Satu klien minimal memesan 1.000 bibit.
Menurut kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor (IPB), Sobir PhD, musang king memang memiliki keistimewaan, daging buah berwarna kuning rasa manis kombinasi pahit, tekstur lembut aroma kuat, dan biji agak kecil. Bandingkan dengan monthong yang hanya berasa manis, agak berpati, cenderung tidak berbau, dan agak polen,
“Penggemar durian sejati pasti lebih menyukai musang king karena adanya sensasi pahit. Kombinasi manis dan pahit musang king tepat,” kata Sobir. Namun, Sobir mengingatkan agar pekebun tidak jor-joran menanam musang king Pasalnya, hingga saat ini Sobir belum menemukan musang king yang berbuah di Indonesia. “Rasanya belum tentu seenak di tempat asalnya,” ujarnya. Yang cenderung stabil untuk semua jenis iklim di tanahair adalah monthong.
Menurut Sobir ada dua faktor yang dpaat mempengaruhi kualitas musang king bila ditanam di tanahair. Pertama, agroklimat seperti iklim, jenis tanah, dan ketersediaan hara. Sobir menduga kawasan yang cocok untuk musang king adalah daerah Deliserdang, Sumatera Utara. Daerah itu berada pada garis lintang hampir sama dengan Malaysia sehingga kondisi tanahnya relatif mirip.
Kedua, jenis penyerbuk. “Terkadang jenis penyerbuk dapat mempengaruhi rasa maupun ukuran buah yang dihasilkan,” ujarnya. Sampai saat ini belum diketahui jenis pohon penyerbuk yang paling baik untuk musang king. Sebab, durian berumah ganda, bunga jantan dan betina di pohon berbeda. Pada durian monthong, pohon penyerbuk terbaik adalah kradumtong. Tingkat keberhasilan penyerbukan mencapai 27%.
Menurut Sobari di Indonesia sejatinya banyak terdapat durian yang lebih unggul daripada musang king, misal dari Balaikarangan, Kalimantan Barat (baca : Rival Raja Musang, halaman 22-24). Para mania durian sepakat Balaikarangan memang gudangnya durian enak. “Sayang, karena saking banyaknya, promosi durian Indonesia malah tidak fokus,” kata Sobir. Itulah sebabnya Sobir menyarankan seleksi durian terenak di Indonesia dan lalu ditunjang dengan promosi. Semua durian enak itu ada di negeri sendiri. (Imam Wiguna/Peliput : Andari Titisari, Bondan Setyawan, Desi Sayyidati R, Evy Syariefa, Riefza Vebriansyah, dan Rona Mas’udi)
Sumber : Majalah Trubus Edisi Januari 2013
