GEMBILI DAN GEMBOLO SEBAGAI “GOA POTATO”
by indrihr • 13/01/2014 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Pada pertengahan bulan Agustus, di pedalaman Jawa tengah, seorang kakek kedatangan cucu-cucunya yang lahir dan besar di Jakarta. Pada musim kemarau seperti itu, kebun (pekarangan) rumah si kakek kering kerontang. Singkong sudah habis dicabut. Buah-buahan tidak ada. Sebab mangga baru akan tua dan masak pada bulan Oktober. Yang ada hanyalah kelapa muda yang sudah bisa menyenangkan cucu-cucunya. Tetapi kakek tadi tampak membawa cangkul dan sabit, lalu menuju ke arah pinggir sungai. Di sana, kebun itu mirip dengan hutan. Selain rumpun bambu, ada pula pohon jengkol yang sedang lebat berbunga. Ada rumpun pisang yang sebagian daunnya mengering. Selebihnya tanaman albisia (sengon = jeungjing). Kakek itu lalu menggali tanah di bawah salah satu pohon sengon. Hanya beberapa jengkal dari permukaan tanah, kakek itu menemukan beberapa umbi berbentuk lonjong sepanjang 30 cm. berdiameter 15 cm. Umbi itu dibawa pulang, dikupas, dipotong-potong dan dikukus. Setelah masak, umbi yang berwarna putih bersih itu, empuk, manis dan aromanya sangat khas. Anak-anak Jakarta yang menikmati umbi kukus itu heran. Mengapa dari tanah yang kering kerontang itu kakeknya bisa menemukan umbi yang sangat enak? Lebih enak dari ubi madu dari Cilembu yang dioven?
Ketika tahun 1998 terjadi krisis ekonomi yang berlanjut ke krisis politik dan pergantian kekuasaan, sekelompok elite masyarakat khawatir Indonesia akan bernasib seperti Ethiopia. Rakyatnya kelaparan hingga perlu bantuan pangan dari FAO, Unicef dan lain-lain badan dunia. Mereka lalu mengundang Prof. Dr. Bungaran Saragih yang waktu itu belum jadi menteri, untuk memberikan penjelasan. Bungaran mengatakan bahwa Indonesia tidak akan pernah mengalami kelaparan seperti halnya Ethiopia. Sebab produksi pangan kita melimpah. Waktu itu Bungaran mengatakan, kalau seluruh Jawa Barat ini ditanami sagu, maka Indonesia akan cukup punya karbohidrat bagi 210 juta rakyatnya. Prof. Bungaran benar. Sebab kakek yang “menemukan” umbi di kebunnya yang kering kerontang tadi adalah contoh. Umbi tadi disebut gembolo. Forma yang kecil disebut gembili. Baik forma yang besar maupun yang kecil kadang-kadang disebut sebagai umbi aung. Atau kalau di Jawa Barat dinamakan huwi (h.) kemayung, h. landak, h. teropong dan h. ceker. Gembolo dan gembili merupakan salah satu dari 18 genus uwi-uwian (Dioscorea sp) yang rasanya paling enak dan sekaligus paling manis.
Umbi manis ini merupakan spesies Dioscores aculeata dengan berbagai formanya. Mulai dari forma kecil (diameter umbi 4 sd.7 cm) yang disebut gembili sampai forma besar (diameter umbi 15 cm) yang disebut gembolo. Gembili pun masih terdiri dari berbagai forma. Mulai dari forma umbi bulat telur sampai lonjong. Forma lonjong berukuran lebih besar dibanding forma bulat. Diameter umbi forma bulat sekitar 3 cm, sementara forma lonjong sampai 7 cm. Batang gembili maupun gembolo memanjat dengan cara membelit ke kanan. Panjang batang bisa mencapai 5 meter lebih. Diameter batang antara 3 sd. 7 mm, berkulit keras (kaku) dan berduri. Forma gembolo malahan juga menghasilkan akar yang juga berduri yang disebut “gemarung”. Duri gemarung ini sangat kuat hingga sulit sekali lapuk. Meskipun sudah bertahun-tahun dalam tanah, duri gemarung akan tetap utuh berwarna hitam mengkilap. Daun gembili maupun gembolo berbentuk jantung berwarna hijau tua dengan tulang daun tampak menonjol. Panjang daun mulai dari 7 cm (gembili) sampai 15 cm (gembolo).
Sebagai tanaman pemanjat, gembili maupun gembolo memerlukan panjatan. Gembolo memerlukan batang pohon sebagai panjatan, sebab batangnya lebih panjang dengan jumlah cabang lebih banyak. Sampai saat ini, gembolo tidak pernah dibudidayakan secara khusus. Umbi ini banyak tumbuh liar dihutan-hutan jati atau dibudidayakan satu dua batang di kebun rakyat. Meskipun gembolo berukuran jauh lebih besar dari gembili, namun umbi ini kurang disukai masyarakat karena rasanya tidak selezat gembili. Kandungan pati gembolo lebih rendah dari gembili, sementara kandungan airnya lebih tinggi. Hingga rasa gembolo kurang begitu enak dibanding gembili. Selain itu, tangkai umbi gembili cukup panjang, kadang-kadang sampai lebih dari 50 cm. Duri gemarungnya yang banyak, kuat dan sangat tajam juga kurang disukai petani. Namun sebagai sumber genetik plasma nutfah, sebenarnya gembolo layak untuk tetap dilestarikan. Keberadaan gembolo di hutan jati merupakan alternatif pelestarian yang cukup aman.
Sementara itu, gembili sudah umum dibudidayakan secara monokultur di Jawa maupun Sumatera. Masyarakat lebih menyukai gembili dengan berbagai alasan. Pertama, meskipun ukuran umbi gembili kecil-kecil, namun produktivitas per satuan luas, lebih tinggi dari pada gembolo. Kedua, menyangkut rasanya yang lebih enak. Selain itu gembili juga tidak menghasilkan duri gemarung yang dulu sangat ditakuti petani. Sebab ketika itu petani bekerja di kebun tanpa alas kaki maupun sarung tangan. Beda dengan petani sekarang yang sudah banyak mengenakan sepatu boot dan sarung tangan. Hasil budi daya gembili ini sudah dipasarkan secara terbatas. Bahkan kadang-kadang, di Jakarta pun kita akan menemukan penjual gembili kukus berbentuk bulat memanjang sepanjang 12 cm. dengan kulit umbi cokelat muda yang pecah dan dari rekahan kulit itu akan tampak daging umbi yang putih bersih. Budi daya gembili kurang berkembang karena tidak ada dukungan dari media massa untuk menciptakan trend. Beda dengan ubi cilembu yang memperoleh dukungan media massa hingga tercipta trend mengkonsumsi umbi cilembu oven.
Budi daya gembili dilakukan seperti halnya budi daya ubi jalar, yakni di atas guludan. Benihnya berupa umbi yang ukurannya sedang atau kecil. Benih ini merupakan hasil panen yang baru saja dilakukan. Biasanya petani akan menyimpan umbi ini di tempat yang sejuk dan terhindar dari panas matahari langsung. Menjelang musim penghujan, biasanya umbi gembili ini akan mulai memunculkan tunas. Pada waktu hujan turun dan guludan sudah siap, umbipun bisa segera ditanam. Cara penanamannya dengan menugal puncak guludan hingga membentuk lubang. Ke dalam lubang inilah dimasukkan benih berupa umbi yang telah menampakkan tunas. Lubang tanam kemudian ditutup dengan tanah. Dalam waktu antara 1 minggu sd. 10 hari, tanaman gembili akan menyembul dari lubang tanam. Pada saat itulah petani telah menyiapkan ajir berupa belahan bambu atau ranting-ranting kayu sepanjang 3 meter. Biasanya ajir ini dipasang miring ke arah samping hingga bersama ajir pada guludan di sebelahnya, akan membentuk segitiga.
Di beberapa kawasan di Jawa, kita akan menyaksikan petak tanaman gembili ini tumbuh subur pada musim penghujan. Tidak berkembangnya budi daya komoditas gembili, barangkali juga disebabkan oleh panjangnya umur tanaman. Kalau penanaman dilakukan pada bulan November, maka gembili baru bisa dipanen pada bulan Juni atau Juli tahun berikutnya. Hingga umur panennya sama dengan singkong. Padahal biaya budi daya gembili lebih tinggi dari singkong mengingat adanya persyaratan guludan, biaya benih berupa umbi (singkong hanya potongan batang) dan biaya untuk ajir yang juga relatif tinggi. Gembili juga tidak menghasilkan limbah yang bisa dimafaatkan oleh petani. Hingga hasil penanaman gembili hanya berupa umbi konsumsi tadi. Biasanya panen dilakukan pada saat tanaman gembili sudah mulai tampak menguning dan mengering. Gembolo yang tumbuh di hutan jati atau di kebun rakyat malahan bisa baru dipanen setelah tanamannya mengering sama sekali dan tidak tampak bekas-bekasnya.
Biaya tanam gembili lebih tinggi dari ubi jalar. Sebab pada ubi jalar, tidak diperlukan ajir, serta benihnya yang hanya berupa setek batang (pucuk sulur) nilainya juga relatif murah dibandingkan dengan ubi gembili. Namun harga gembili di tingkat konsumen juga bisa lebih tinggi dari ubi jalar. Kalau ubi jalar biasa di tingkat konsumen di Jakarta mencapai Rp 1.000,- (mentah) maka gembili bisa mencapai Rp 1.500,- sd. Rp 2.000,- Harga komoditas ini sebenarnya bisa menjadi tidak terbatas, karena konsumennya pasti bukan masyarakat lapis bawah. Namun untuk itu memang diperlukan adanya promosi untuk menciptakan trend. Kalau trend sudah terbentuk, maka harga akan ditentukan oleh perbandingan antara pasokan dengan permintaan. Saat ini, tidak ada permintaan pun tidak menjadi masalah. Sebab petani menanam gembili bukan untuk tujuan dipasarkan, melainkan untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Lain halnya kalau trend makan gembili sudah memasyarakat. (R) * * *
Artikel pernah dimuat di Business News

