SUWEG UMBI PALING BESAR DI DUNIA
by indrihr • 22/01/2014 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Suweg adalah umbi paling besar di dunia. Ukuran umbi suweg bisa mencapai diameter lebar 40 cm. Bentuknya bundar agak pipih. Sementara diameter tinggi umbi bisa mencapai 30 cm. Seluruh permukaan kulit suweg penuh dengan bintil-bintil dan tonjolan yang sebenarnya merupakan anak umbi dan tunas. Sementara di bagian atas tepat di tengah-tengah lingkaran umbi, terletak tunas utamanya. Bobot umbi suweg ukuran raksasa ini bisa mencapai 10 kg. lebih. Kandungan airnya cukup tinggi, yakni antara 65 sd. 70%. Sementara kandungan patinya di bawah 30%. Umbi suweg masih satu kerabat dengan bunga bangkai raksasa dari Sumatera, yang tingginya bisa mencapai 2 meter lebih. Suweg pun sering mengeluarkan bunga. Hal itu akan terjadi ketika pertumbuhan vegetatifnya telah mencapai titik optimum dan kandungan pati pada umbi telah penuh. Apabila terjadi kemarau sangat panjang, maka dari umbi tersebut akan keluar bunga yang bentuknya mirip dengan bunga bangkai raksasa, namun dengan ukuran yang lebih pendek. Suweg dan bunga bangkai raksasa memang sama-sama keluarga Amorphophallus. Suweg adalah Amorphophallus campanulatus, bunga bangkai raksasa Amorphophallus titanum. Bunga bangkai raksasa Amorphophallus ini sering dikelirukan oleh masyarakat awam dengan bunga Raflesia Sp.
Di seluruh dunia, ada sekitar 90 jenis Amorphophallus. Selain suweg dan bunga bangkai raksasa, yang juga dikenal masyarakat adalah iles-iles (Amorphophlallus konyac) dan acung (Amorphophallus variabilis). Umbi suweg, sebenarnya merupakan batang yang berada dalam tanah. Sementara batang suweg yang bisa mencapai diameter 10 cm. tinggi 1,5 m. dan berwarna hijau belang-belang putih mirip tubuh ular itu, sebenarnya hanyalah tangkai daun. Daun suweg sendiri menjari banyak dan membentuk seperti payung selebar 1 m. Batang semu ini akan menguning, layu lalu mati menjelang musim kemarau. Hingga pada musim kemarau umbi akan mengalami masa dorman (istirahat), untuk tumbuh lagi pada awal musim penghujan. Dari benih berupa tonjolan di kulit umbi suweg seukuran kelereng, hingga mencapai ukuran optimal seberat 10 kg, diperlukan masa pertumbuhan sekitar 5 tahun bahkan lebih. Itupun baru akan terjadi apabila tanaman suweg tumbuh di lahan yang cocok dengan tuntutan agroklimatnya. Suweg menuntut tanah yang gembur di bawah naungan tanaman lain. Dia bisa hidup mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 800 m. dpl, dengan curah hujan tinggi sampai sedang. Suweg kurang cocok tumbuh di kawasan yang ekstrem kering seperti NTT.
Di beberapa kawasan di Jawa Tengah, budi daya suweg sudah cukup memasyarakat. Meskipun masih jarang yang melakukannya secara monokultur. Budi daya suweg biasanya dilakukan secara tumpang sari. Tanaman suweg dibudidayakan di sela-sela tanaman jagung dan singkong, atau di bawah tegakan tanaman keras. Suweg yang ditanam di bawah tegakan tanaman keras, biasanya hasilnya lebih optimal. Pertumbuhan tanaman lebih baik dan ukuran umbinya lebih besar. Namun kadar patinya lebih rendah sementara kandungan airnya lebih tinggi. Suweg yang ditanam secara tumpang sari di areal terbuka, pertumbuhannya kurang baik, umbinya juga lebih kecil. Namun kadar patinya lebih tinggi dengan kadar air lebih rendah. Benih suweg berupa anakan umbi sebesar telur puyuh dan mata tunas yang berasal dari kulit umbi dewasa, akan menghasilkan individu tanaman yang kecil dengan hasil umbi maksimal sebesar kepalan tangan. Umbi demikian masih belum bisa dikonsumsi. Petani akan membiarkan umbi ukuran kecil ini tetap berada dalam tanah hingga pada musim penghujan berikutnya akan tumbuh menjadi tanaman berukuran sedang. Setelah dua sampai dengan tiga tahun dibiarkan tumbuh terus, ukuran umbi akan mencapai diameter sekitar 15 cm. Umbi dengan ukuran ini sudah mulai dikonsumsi.
Umbi dengan diameter 15 cm. akan menghasilkan anakan umbi sebesar kelereng dan mata tunas yang cukup banyak. Namun tanaman yang dihasilkan dari anakan umbi serta mata tunas dari umbi kecil demikian, ukurannya juga akan sangat kecil hingga pertumbuhannya lamban. Namun tunas utama yang ada di tengah-tengah umbi bagian atas, akan menghasilkan individu tanaman yang cukup besar dan bisa tumbuh cepat. Cara pengambilan dan penanaman tunas utama pada suweg ini cukup unik. Dengan pisau yang runcing dan tajam, mata tunas diiris melingkar ke dalam dengan jarak sekitar 3 cm. dari batas paling luar. Irisan ini akan membentuk kerucut yang melebar. Bagian tunasnya menjadi alas kerucut dan irisan ke dalamnya akan membentuk pucuk kerucut. Setelah tunas diiris, umbi dikupas cukup tebal agar mata tunas serta tonjolan anakan umbi bisa tumbuh dengan baik. Apabila umbi akan langsung dikonsumsi, pengambilan tunas utama dan pengupasan, dilakukan petani langsung pada lubang galian. Kalau hal tersebut dilakukan di rumah, maka kulit serta tunas utama akan kembali dibawa ke kebun untuk ditanam lagi. Cara penanamannya dilakukan secara terbalik. Bagian kulit luar yang bertunas ditaruh menghadap ke bawah, sementara bekas irisan menghadap ke atas. Demikian pula halnya dengan tunas utamanya. Mata tunas dengan lingkar kulit sekitar 3 cm. diletakkan menghadap ke bawah, sementara kerucut bekas irisan umbi menghadap ke atas. Tunas utama ini ditaruh di bagian tengah lubang, sementara kulit dengan anakan umbi dan mata tunas ditaruh di sekelilingnya. Selanjutnya lubang ditimbun tanah.
Kalau penanaman tunas utama ini tidak dibalik, maka pertumbuhan tanaman akan terhambat, atau malahan tidak bisa tumbuh karena tunas membusuk. Setelah hujan turun sekitar dua mingguan, maka tunas suweg akan tumbuh. Tunas utama menjadi tanaman dengan tunas yang besar, sementara anakan umbi dan kulit akan menjadi tanaman yang sangat bervariasi ukurannya, yang tumbuh di sekitar tunas utama. Kalau tunas utama atau umbi yang masih berukuran kecil ini menumbuhkan dua batang tanaman, (berarti sebenarnya dua tangkai daun), maka petani akan mengambil pucuk tanaman yang tumbuh belakangan untuk disayur. Sayur pucuk tanaman suweg ini rasanya sangat khas. Selanjutnya tanaman akan tumbuh selama musim penghujan. Pada awal musim kemarau tanaman akan menguning, layu lalu mati. Pada saat itulah umbi suweg bisa dipanen. Tunas utama tanaman suweg akan menghasilkan umbi yang tiap tahun ukurannya makin besar hingga bisa mencapai ukuran optimal, diameter sekitar 40 cm. Dengan catatan pengambilan tunas utama tersebut harus dengan cukup menyisakan daging umbinya. Sebab apabila pengambilan tunas utama ini terlalu tipis, maka pertumbuhannya akan lamban, tanamannya mengecil atau malahan tidak dapat tumbuh karena rusak.
Kulit luar umbi suweg yang berukuran raksasa ini penuh ditumbuhi akar, bintil anak umbi serta tunas. Ketika diangkat dari lubang tanam, seluruh permukaan umbi akan penuh dengan tanah. Apabila umbi utuh ini dicuci bersih, maka kulit umbi akan tampak berwarna kecokelatan dengan puluhan tunas yang berwarna kemerahan. Kalau umbi ini berasal dari irisan matatunas utama, maka pada bagian bekas irisan akan tampak kulit umbi yang sangat halus dengan warna lebih muda. Pada kulit bekas irisan ini, sama sekali tidak tumbuh tunas maupun anak umbi. Warna daging umbi suweg cokelat kekuningan. Tekstur umbi sangat kasar, mirip dengan uwi lajer. Biasanya umbi suweg dimasak dengan cara dipotong-potong lalu dikukus. Untuk menghindari rasa gatal, maka umbi dikupas ulang sampai bersih (tidak ada kotoran tanah) dan selanjutnya tanpa dicuci langsung dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam kukusan. Rasa umbi suweg mirip dengan talas, hanya sedikit lembek. Umbi kukus ini bisa langsung dikonsumsi ketika hangat. Tetapi bisa pula umbi ini ditumbuk hingga hancur lalu dipadatkan pada nampan atau nyiru dan dibiarkan dingin. Gethuk suweg ini selanjutnya bisa dikonsumsi dengan kelapa parut. Bisa pula ketika ditumbuk, ditambahkan gula merah dan vanili hingga jadilah “kue” suweg yang lebih lezat lagi. Kadang-kadang umbi suweg juga dibuat kolak secara tunggal (tanpa campuran), bisa pula bersama dengan ubi jalar, labu parang, kolang-kaling dan pisang.
Umbi suweg akan tetap dalam kondisi cukup baik apabila tetap berada dalam tanah selama musim kemarau, sampai dengan menjelang musim hujan. Itulah sebabnya petani selalu memanen umbi suweg yang akan langsung dikonsumsi secara bertahap. Meskipun kadar airnya cukup tinggi, sebenarnya umbi suweg juga bisa dikeringkan sebagai gaplek. Lebih ideal kalau umbi yang akan dijadikan gaplek ini berasal dari tanaman suweg yang tumbuh di lahan terbuka. Sebab umbi dari lahan terbuka demikian, meskipun ukurannya lebih kecil, kadar patinya lebih tinggi dibanding dengan suweg yang tumbuh di bawah naungan. Cara pembuatan gaplek suweg adalah dengan mengupasnya sampai bersih dan mengiris tunas utamanya untuk benih. Daging umbi ini selanjutnya diiris dengan ketebalan sekitar 1 sd. 2 cm, lebar sekitar 5 cm. dan panjangnya mengikuti ketebalan (tinggi) umbi. Selanjutnya irisan umbi ini dijemur sampai kering. Pengeringan umbi juga bisa menggunakan dryer. Tingkat kekeringan irisan umbi yang ideal, kalau kadar airnya di bawah 15 %. Tandanya, irisan umbi sudah tidak lembek lagi hingga mudah dipatahkan. Bagian dalam irisan umbi sudah tidak kelihatan basah. Umbi dengan kadar air di bawah 15 % bisa tahan disimpan lebih dari 1 tahun. Gaplek umbi suweg ini selanjutnya bisa ditepungkan lalu dimasak sebagai “tiwul” umbi suweg, bubur dan macam-macam kue sesuai dengan selera kita masing-masing. (R) * * *
Artikel pernah dimuat di Business News


