MARASI MIRACLE FRUIT ASLI
by indrihr • 07/02/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Selama ini para pecinta tanaman, lebih mengenal miracle fruit Synsepalum dulcificum, yang mengandung miraculin, dan berasal dari Afrika barat. Padahal Indonesia juga punya miracle fruit asli, yang disebut marasi (Curculigo latifolia).
Setelah mengunyah-ngunyah dan mengulum daging buah marasi, selang sekitar lima sampai 10 menit kemudian; jeruk nipis, belimbing wuluh, dan asam jawa yang paling masam sekali pun, akan terasa manis di mulut kita. Air tawar yang kita minum pun juga akan terasa manis. Pengaruh curculin pada lidah dan rongga mulut, akan bertahan antara 30 menit sampai dengan dua jam, bergantung seberapa banyak, dan seberapa lama kita mengunyah daging buah marasi. Efek ajaib ini disebabkan dalam daging buah marasi terkandung curculin, sebuah rantai protein, yang efeknya mirip dengan miraculin pada buah miracle fruit Synsepalum dulcificum. Tingkat kemanisan zat curculin antara 430 – 2070 kali gula biasa,
Selama ini yang populer sebagai miracle fruit adalah buah Synsepalum dulcificum, yang tanamannya berupa perdu berkayu. Miracle fruit berupa buah berry, berbentuk seperti lonjong berukuran sedikit lebih kecil dari buah melinjo. Tanaman miracle fruit berasal dari Afrika Barat, dan sekarang sudah menyebar ke seluruh dunia. Miraculin dalam miracle fruit sudah diketahui sejak tahun 1725, sementara curculin dalam marasi, baru berhasil diisolasi pada tahun 1990. Setelah itu curculin langsung mengundang kontroversi. Pasalnya, para pebisnis multinasional, malas untuk membudidayakan marasi, dan lebih senang membuat produk sintetis curculin dengan cara lebih cepat.
Penolakan Curculin Sintetis
Maka pada tahun 1997, dicoba membuat produk curculin dengan bahan dari bakteri escherichia coli (e-coli), yang dicampur dengan bahan lain dari kapang yeast (Saccharomyces cerevisiae). Kombinasi protein dari bakteri dan kapang ini, tidak mendatangkan hasil seperti yang diharapkan. Maka pada tahun 2004, dicoba memroduksi curculin buatan, hanya menggunakan escherichia coli (e-coli). Ternyata hasilnya cukup baik, dan berpotensi untuk dikembangkan secara komersial. Produksi curculin secara massal pun dimungkinkan. Namun Uni Eropa dan AS menolak produk curculin berbahan baku bakteri e-coli ini.
Alasan penolakan cukup jelas, yakni karena beberapa tipe bakteri e-coli seperti O157:H7, berpotensi mengakibatkan kerusakan makanan, yang akan berdampak serius pada kesehatan manusia. Salah satunya adalah gangguan diare berdarah, akibat verotoksin. Bakteri e-coli biasanya terdapat pada daging atau ikan yang disimpan di ruang terbuka, dengan handling kurang higienis, dan dimasak tidak sampai matang. Namun di lain pihak, beberapa tipe bakteri e-coli sudah biasa digunakan dalam teknologi rekayasa genetika. Misalnya untuk menghasilkan vitamin K, sebagai vektor untuk memasukkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. E. coli dipilih karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah penanganannya.
Di sinilah terjadi inkonsistensi di tiga negara maju: AS, Jepang, dan Uni Eropa. Dalam hal rekayasa genetika, untuk memroduksi benih-benih transgenik, AS adalah pelopor di depan. Salah satu contoh yang paling mencolok adalah kedelai dan jagung transgenik, yang berukuran raksasa. Produk ini ditolak oleh Uni Eropa dan Jepang. Namun ketika bakteri e-coli digunakan untuk memroduksi curculin, yang menolak justru Uni Eropa dan AS, sementara Jepang menerima. Penolakan Uni Eropa dan AS terhadap produk curculin sintetis berbahan baku bakteri e-coli, sebenarnya merupakan peluang yang sangat besar bagi Indonesia. Marasi yang merupakan tumbuhan asli Indonesia, pasti akan mudah dikembangkan di negeri ini. Tumbuhan ini juga terkenal bandel, hingga mudah sekali dibudidayakan, asal terlindung dari terik sinar matahari.
Potensi Budi daya Marasi
Selama ini marasi hanya tumbuh liar di dataran rendah sampai dataran tinggi di Asia Tropis, Indonesia, sampai Australia Tropis. Di Indonesia, marasi dikenal dengan banyak nama. Antara lain parasi, terasi-terasian, lemba, lumbah, cua mok, dan lentahi. Nama latinnya Molineria capitulata, dengan sinonim Curculigo latifolia, Curculigo capitulata, dan Molineria capitata. Sosok tumbuhan marasi mirip dengan anggrek tanah Spathoglottis plicata, yang berbunga ungu. Bunga dan buah marasi tumbuh dalam tandan kecil yang melekat di tanah. Habitat marasi adalah kawasan yang tertutup tegakan hutan, atau tanaman kebun, yang lembap dan basah. Anak-anak kampung mengenal marasi dan sering mengonsumsi buahnya, agar ketika minum air tawar akan terasa manis.
Dengan karakternya yang perlu perlindungan dari sinar matahari, marasi cocok untuk dibudidayakan di bawah tegakan pohon karet dan sawit. Yang penting kawasan tadi cukup lembap. Perum Perhutani dan PT Perkebunan Nusantara, paling berpeluang untuk mengembangkan komoditas ini. Dua BUMN ini bisa menjalin kerjasama dengan BUMN yang selama ini memroduksi bahan-bahan farmasi, misalnya PT Indofarma Tbk. Kerjasama dengan Indofarma menjadi penting, sebab bahan pemanis curculin paling banyak diperlukan untuk industri farmasi, atau produk makanan yang terkait dengan diet gula. Produk curculin dari buah marasi, potensial akan diterima oleh Uni Eropa dan AS. Kendala utama produksi curculin dari marasi adalah ketersediaan bahan baku. Sebab produktivitas buah marasi per satuan hektar per tahun pasti akan sangat rendah.
Kendala ini bisa diatasi dengan budi daya marasi sebagai tanaman sela di bawah tegakan sawit dan karet. Hingga biaya produksi akan menjadi sangat rendah. Selain itu hasil panen marasi juga akan menjadi tambahan pendapatan bagi para buruh tani di kebun karet/sawit. Marasi bisa dibenihkan dari penyemaian biji, namun yang lebih cepat dari pemisahan anakan. Sampai saat ini Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), di Bogor, dan Balai Penelitian Tanaman Obat (BPTO), Tawangmangu, belum tertarik memperhatikan marasi. Para penangkar benih pun juga belum ada yang tahu, bahwa tumbuhan ini berpotensi untuk menghasilkan devisa. Yang selama ini tahu marasi, baru para kolektor tanaman hias, serta para pemerhati tanaman unik. # # #
Artikel pernah dimuat di Majalah Flona


