• BACANG UNTUK KONSENTRAT BUAH DAN KONSERVASI AIR

    by  • 12/03/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Di Indonesia, mangga yang paling masam sekalipun, masih laku untuk dikonsumsi segar. Caranya, mangga itu dikupas, daging buahnya disisir empat tetapi tidak sampai putus. Selanjutnya mangga kupasan yang telah terbelah berikut bijinya ini, ditaruh dalam keranjang lalu dicelupkan ke dalam air panas. Air panas ini sudah diberi sakarin dan zat warna oranye. Pencelupan dilakukan hanya beberapa menit, agar daging buah mangga tetap renyah. Jadilah mangga masam itu berpenampilan menarik dan rasanya manis. Mangga masam yang telah jadi manis ini banyak dijajakan dengan gerobak dorong di kota-kota besar. Khususnya di Jakarta. Karenanya, industri konsentrat buah, sulit untuk mendapatkan pasokan mangga masam. Jenis mangga yang paling potensial untuk dijadikan konsentrat adalah, berukuran besar, berserat, berair banyak, masam namun beraroma kuat. Produktivitas tanaman juga harus tinggi.

    bacang

    Mangga dengan spesifikasi tersebut, sebenarnya cukup banyak. Baik yang asli Indonesia maupun yag diintroduksi dari India. Di kebun koleksi plasma nutfah (biodeversity) mangga di Cukur Gondang, Pasuruan, Jatim, tersimpan sekitar 200 jenis mangga (Mangifera indica). Sayangnya, mangga dengan spesifikasi untuk industri konsentrat tersebut, belum berkembang di masyarakat. Mangga cengkir (Indramayu), juga berukuran besar, daging buah tebal, biji kecil dan rasanya masam. Namun kelemahan cengkir, tidak berserat dan aromanya tidak ada. Karena tidak berserat, maka mangga ini masih diserap oleh pasar segar dengan harga cukup baik. Yang aromanya kuat dan sudah ada di masyarakat adalah kwini atau mangga kebembem (Mangifera odorata GRIFF), kemang (Mangifera ceesia JACK) dan bacang atau pakel (Mangifera foetida LOUR). Tiga spesies mangifera ini masih banyak dijumpai tumbuh liar di kebun-kebun rakyat.

    Kelemahan kwini sebagai bahan konsentrat rasanya yang justru sangat manis. Hingga jenis ini juga masih potensial diserap pasar segar. Pasar-pasar swalayan dewasa ini sudah rutin memajang mangga kwini. Harga kwini juga tidak kalah dengan harummanis dan manalagi. Kelebihan kwini adalah aromanya yang sangat kuat. Kemang, juga diserap oleh pasar segar karena meskipun rasanya agak masam, namun rasa manisnya masih. Kemang juga digemari masyarakat karena selain aromanya yang khas, daging buah sama sekali tidak berserat. Satu-satunya spesies mangifera yang produksinya melimpah  dan ditolak konsumen adalah bacang. Spesies mangifera ini aromanya sangat kuat, ukuran buahnya besar, produktivitasnya tinggi, namun rasanya kebanyakan masam dan daging buahnya berserat. Hingga nilai ekonomis bacang sebagai buah segar sangat rendah. Di Jawa sekali pun, buah ini hanya dibiarkan berjatuhan di kebun dan membusuk. Sebab daya serap pasar segar terhadap bacang sangat rendah.

    Kelebihan lain mangga bacang adalah, tanaman ini mudah tumbuh tanpa perawatan sama sekali. Dia juga tahan hidup di lahan-lahan marjinal. Kalau mangga kwini sangat rentan terhadap penggerek buah, maka bacang relatif tahan. Kalau ada bacang yang rentan terhadap penggerek buah, maka klon tersebut rasanya pasti manis dan tidak berserat. Bacang tipe ini sangat jarang, dan cocoknya untuk dikembangkan bagi pasar segar. Sementara kebanyakan klon bacang merupakan tipe berserat dan rasanya sangat masam. Bacang tipe inilah yang paling cocok untuk dikembangkan sebagai bahan konsentrat. Agribisnis bacang, harus dikaitkan dengan penghijauan atau reboisasi (penghutanan kembali), lahan-lahan kritis. Namun bacang tidak mungkin diharapkan hasil kayunya. Sebab kualitas kayu bacang sangat jelek. Baik kualitas serat, kekerasan, kekuatan maupun keawetan.

    Agribisnis bacang, paling tepat hanyalah untuk dipanen buahnya, dan sekaligus untuk konservasi lahan sehubungan dengan tata air. Kalau hasil buahnya akan ditujukan bagi industri konsentrat skala besar, maka minimal luas lahan yang dihijaukan adalah 50 hektar. Dengan asumsi, populasi tanaman 200 pohon per hektar. Hasil per pohon setelah mencapai titik optimum 200 kg per musim. Hingga tiap hektar lahan akan menghasilkan buah 40 ton per musim. Musim bacang agak ke belakang dibanding musim mangga, yakni bulan November dan Desember. Dengan asumsi saat tua (masak) bacang tidak bersamaan dalam satu pohon maupun dalam satu areal tanam, maka akan dilakukan pemanenan tiap minggu selama bulan November dan Desember (8 X panen). Pabrik konsentrat besar, menuntut pengiriman raw material antara 80 sd. 100 ton per hari. Hingga minimal luas lahan yang siap melayani satu pabrik selama November dan Desember adalah 50 hektar.

    Kalau satu pabrik dengan kapasitas 100 ton raw material per hari, diharapkan bisa beroperasi full menangani bacang selama November dan Desember (60 hari kerja), maka diperlukan areal “hutan” bacang seluas 375 hektar. Di Jawa, masih terdapat cukup banyak lahan-lahan marjinal yang harus dihijaukan, karena tidak mungkin dijadikan lahan budi daya. Penghutanan dengan albisia atau tanaman kayu lainnya potensial suatu ketika akan dilakukan penebangan. Dengan “hutan” bacang, maka lahan tersebut akan aman, karena nilai ekonomis kayu bacang sangat rendah. Namun melayani pabrik besar, juga ada kelemahannya. Konsentrat bacang dari pabrik besar, akan dipasarkan sebagai komoditas ekspor berupa mangifera consentrate. Harga konsentrat mangga di pasar internasional (FOB) ini, setelah dipotong biaya produksi, akan merupakan harga bacang segar pranko pabrik. Hingga yang akan menentukan harga rew material (bacang segar) bukan petani atau pedagang pengumpul, melainkan pasar konsentrat dunia.

    bacang1

    Selain untuk melayani pasar industri besar, bacang juga potensial untuk diolah oleh industri rumah tangga. Sirup markisa (Pasiflora sp) di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan, merupakan industri kecil dan menengah. Di Jawa, ketersediaan raw material markisa menjadi kendala untuk pengembangan industri sirup markisa. Padahal “hutan bacang” banyak dijumpai, dengan hasil buah yang hampir tidak pernah bisa dipasarkan segar. Potensi inilah mestinya yang harus ditangkap untuk pengembangan agroindustri sirup rakyat. Namun, apabila industri ini berjalan, tetap dituntut adanya kebun produksi dengan luasan tertentu. Hingga paling tidak, pabrik skala rumah tangga itu bisa aktif antara 2 sd. 3 bulan dalam setahun. Untuk itu, masih harus dicarikan alternatif buah guna mengisi kapasitas kerja bulan-bulan selebihnya.

    Dengan jarak tanam 6 X 8 m. maka populasi tanaman bacang per hektar mencapai 200 pohon. Hingga kebutuhan benih tiap hektarnya sekitar 250 pohon, dengan 50 pohon  untuk cadangan. Benih bacang selalu berupa cabutan, bukan cangkok atau sambungan (okulasi maupun sambung pucuk). Benih cabutan tersebut bisa berasal dari bacang yang tumbuh liar di kebun rakyat, maupun yang sengaja disemaikan. Benih bacang ditumbuhkan langsung dari biji. Selama ini tidak ada penangkar benih yang sengaja menyemai bacang. Tahun 1980an, para penangkar benih buah-buahan tanaman keras, memang biasa menggunakan bacang dan mangga lalijiwo (Mangifera lalijiwo KOST.) sebagai batang bawah  untuk disambung dengan mangga harummanis. Sekarang para penangkar cenderung menggunakan mangga madu anggur dan podang sebagai batang bawah pengganti bacang dan lalijiwo.

    Karena tidak digunakan untuk batang bawah, maka bacang tidak pernah lagi disemaikan oleh para penangkar benih. Hingga spesies mangga ini lebih banyak tumbuh liar di areal “hutan” bacang. Populasi “benih” cabutan yang tumbuh liar ini cukup banyak, karena bacang relatif tidak pernah dipanen. Akibatnya, buahnya banyak yang berjatuhan, sebagian dimakan kalong hingga volume penyebaran bijinya, secara alamiah cukup banyak. Namun demikian, untuk kebutuhan penghijauan atau reboisasi, diperlukan benih kualitas baik dalam jumlah yang cukup. Meskipun populasi tanaman di alam cukup banyak, namun pengumpulan dalam jumlah sampai ribuan tetap sulit dilakukan. Seandainya populasinya cukup, maka tingkat keseragaman benih akan tinggi. Baik keseragaman ukuran maupun kualitas.

    Hingga untuk kebutuhan penanaman dalam skala luas, diperlukan upaya penyemaian secara profesional. Biasanya, para penangkar benih mangga akan mengupas biji dengan membuang kulit biji yang keras itu. Tujuannya untuk mempercepat pertumbuhan. Penyemaian biji bisa dilakukan di bedeng maupun langsung di polybag. Dalam jangka waktu 3 sd. 5 bulan, benih bacang sudah akan mencapai ketinggian 50 cm. dan sudah siap untuk disambung.  Batang atas diambil dari tanaman bacang yang berbuah besar, berserat dan sangat masam. Makin masam rasanya makin baik. Setelah sekitar 3 sd. 5 bulan disambung, benih sambungan ini sudah mencapai ketinggian 1 m. dan siap dipindahkan ke lapangan. Namun untuk menghijaukan lahan kering dan berbatu-batu, diperlukan benih yang sudah berukuran 1,5 m. Maksudnya agar prosentase tanaman yang hidup cukup tinggi. Kalau benihnya berasal dari sambungan, maka bacang sudah akan mulai berbuah pada umur antara 3 sd. 4 tahun setelah tanam atau 4 sd. 5 tahun sejak biji disemaikan. Pemda, PTPN atau Perhutani yang berminat menghutankan bacang, bisa terlebih dahulu menghubungi pabrik-pabrik konsentrat buah. (R) * * *

    Artikel pernah dimuat di Business News

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *