• BUNGA PEPAYA GANTUNG ANTIOKSIDAN

    by  • 14/03/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Mereka yang baru pertamakali berkunjung ke kawasan timur Indonesia (NTT, Sulawesi, Maluku dan Papua), akan selalu bertemu dengan menu sayur bunga pepaya di mana-mana. Di kawasan ini, sayur bunga pepaya bukan hanya sekadar klangenan (menu eksklusif), melainkan kebutuhan sehari-hari. Karenanya, bunga pepaya selalu tampak dijual di warung-warung dan pasar. Kalau kita lihat fisik orang NTT, Bugis, Maluku dan Papua yang kuat-kuat, salah satu penyebabnya adalah sayur bunga pepaya ini. Sebab menurut penelitian fitokimia Departemen Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB), bunga jantan segar pepaya gantung, ternyata mengandung zat antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.

    bunga-pepaya2

    Kandungan bunga pepaya gantung adalah flavonoid, tanin, steroid – triterpenoid, dan karbohidrat. Penelitian dilakukan dengan cara ekstraksi sinambung menggunakan n-heksana, metilen klorida, etil asetat, dan metanol. Dari ekstrak metanol diperoleh satu senyawa amida dan dari ekstrak n-heksana diperoleh satu senyawa steroid. Hasil uji aktivitas antioksidan dengan metode reduksi larutan 1,1-difenil-2 pikrilhidrazil menunjukkan, ekstrak metanol memiliki aktivitas penangkap radikal bebas paling kuat dengan nilai EC50 0,3537 mg/mL. Hingga selain lezat rasanya, bunga pepaya gantung ternyata juga berkhasiat bagi kesehatan.

    Di kawasan timur Indonesia, sayuran ini biasa disantap bersama talas, keladi, ubi jalar dan singkong. Bagi mereka yang belum terbiasa mengkonsumsinya, rasa sayuran ini agak aneh. Kalau kita tidak bisa memasaknya, bunga pepaya malahan akan terasa pahit. Rasa pahit ini tidak hanya terdapat pada bunga, melainkan terutama pada daun, dan penyebabnya adalah alkaloid carpein (C14H25NO2). Carpein pada daun pepaya, pertamakali diketemukan oleh Dr. Gresfoff, dari Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1890. Penelitian lebih lanjut terhadap peluang carpein sebagai bahan obat penyakit jantung, dilakukan oleh Dr. Von Oefele pada tahun 1893, meskipun hasilnya tidak terlalu memberikan harapan.

    * * *

    Oleh masyarakat, daun pepaya sudah biasa digunakan sebagai pencegah malaria, dan membantu memperbaiki fungsi pencernaan, selain untuk melunakkan daging. Khasiat bunga dan daun pepaya ini, diduga disebabkan oleh getahnya. Seluruh bagian tanaman pepaya memang megandung getah. Secara tradisional, getah pepaya yang mengandung papain ini, dimanfaatkan masyarakat untuk menghilangkan kutil, katimumul dan gangguan kulit lainnya. Kemampuan papain dalam memecah protein dan mematikan jaringan sel, telah mengilhami dunia medis untuk memanfaatkannya sebagai pembunuh sel tumor. Namun enzime papain, paling banyak justru dimanfaatkan oleh dunia industri.

    bunga-pepaya1

    Industri yang paling banyak menyerap papain adalah pabrik bir, corned, sosis, wool, sutera, minyak ikan, pembersih muka, pembersih lensa kontak dan masih banyak lagi. Untuk itu, kita masih mengimpor papain murni (pektin). Padahal Indonesia tercatat sebagai penghasil pepaya nomor lima di dunia. Urutannya 1. Brasil (25%), 2. Nigeria (13%), 3. India (12%), 4. Meksiko (12%), 5. Indonesia (9%), 6. Ethiopia (4%), 7. Kongo (4%), 8. Peru (3%), 9. RRC (3%), 10. Kolombia (2%). tetapi tidak pernah ada upaya untuk pemproduksi papain. Idealnya, kita memproduksi papain sendiri, hingga tidak terlalu tergantung pada produk impor.

    Agribisnis pepaya di Indonesia masih sebatas menghasilkan buah meja (buah masak) dan buah mentah untuk sayuran dan saus makan. Agribisnis pepaya untuk bahan saus makan, sebenarnya sekaligus bisa memproduksi papain kasar (crude papain). Selain itu, agribisnis pepaya juga berpeluang menghasilkan daun dan bunga sebagai sayuran dan bahan farmasi. Dengan promosi yang baik, daun dan terutama bunga pepaya potensial untuk menjadi sayuran eksklusif bernilai tinggi. Sebab di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, banyak bermukim masyarakat dari kawasan timur Indonesia yang potensial sebagai konsumen. Tahun 1980an, masih tak terbayangkan bahwa pucuk labu siam, selada air dan daun adas, bisa masuk pasar swalayan. Tetapi sekarang sayuran itu sudah merupakan mata dagangan wajib, kalau satu pasar swalayan ingin disebut lengkap.

    Selama ini daun pepaya sudah masuk pasar tradisional maupun swalayan. Tetapi bunganya masih belum ada. Kendala utamanya adalah faktor pasokan. Sebab selama ini belum ada kebun yang khusus membudidayakan pepaya gantung. Bahkan di kebun-kebun penduduk pun, pepaya gantung sulit dijumpai. Kecuali di kawasan timur Indonesia. Di kawasan ini populasi pepaya gantung sudah cukup banyak, sebab masyarakat sudah mengetahui bahwa jenis pepaya ini bermanfaat. Sementara di Jawa, pepaya gantung justru akan dibuang. Sebab nilai pepaya buah, masih lebih tinggi dibanding pepaya gantung. Tetapi kalau bunga pepaya gantung dikemas rapi dalam wadah stereofoam, disertai dengan informasi khasiatnya sebagai antioksidan, maka nilainya bisa lebih tinggi dari buahnya.

    * * *

    Pepaya (Carica papaya L.) adalah tumbuhan asli Amerika Tengah dan Amerika Latin yang beriklim tropis. Genus Carica ada yang memperkirakan terdiri dari 20 sd. 25 spesies. Namun ada pula yang menghitung sekitar 27 sd. 30 spesies, bahkan ada ahli botani yang menaksir terdapat sampai 71 spesies Carica. Selain Carica papaya, spesies lainnya adalah Carica candicans (pepaya peru), Carica auliflora, Carica cestriflora (pepaya de Terra Fria), Carica chrysophylla, Carica citriformis, Carica microcarpa, Carica monoica, Carica parviflora, Carica peltata (pepaya de Mico),
    Carica pentagona (Babaco), Carica posopora, Carica pubescens (pepaya gunung), Carica quercifolia (pepaya daun oak), dan Carica stipulata.

    Selain Carica papaya, yang juga dibudidayakan sebagai substitusi pepaya adalah Carica pentagona, yang di Brasil disebut babaco. Buah Carica pentagona lebih kecil dari Carica papaya dan tidak berbiji. Daging buah babaco cukup keras, tetapi aromanya kuat. Kalau habitat Carica papaya di dataran rendah dan menengah di kawasan tropis, maka babaco hanya mau tumbuh baik di dataran tinggi. Pepaya yang berasal dari pegunungan Andes ini, di Indonesia hanya bisa dibudidayakan di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Spesies Carica yang juga banyak dibudidayakan adalah Carica spinosa, dan Carica dodecaphylla. Dua spesies ini, buahnya juga lebih kecil dibanding dengan Carica papaya.

    Pepaya gantung adalah Carica papaya, yang lebih banyak menghasilkan bunga jantan. Malai bunga jantan ini sangat panjang dan banyak cabangnya. Beda dengan pepaya biasa yang tangkai bunganya pendek. Bunga pepaya, baik pepaya biasa maupun pepaya gantung dikenal ada tiga macam. Pertama bunga jantan, kedua bunga betina dan ketiga bunga sempurna. Pepaya yang ditanam untuk dipanen buahnya, harus diseleksi hanya yang berbunga sempurna. Namun kadang-kadang terselip satu dua tanaman yang hanya berbunga jantan saja atau betina saja. Bahkan ada pula yang menjadi pepaya gantung. Kemungkinan ini bisa terjadi akibat persarian silang. Untuk mengatasinya, petani menanam pepaya sekaligus tiga tanaman dalam satu lubang, kemudian diseleksi ketika sudah mulai berbunga.

    Pepaya gantung pun kadangkala juga bisa berbuah. Hal ini akan terjadi, kalau di antara puluhan bahkan ratusan kuntum bunga dalam satu malai itu, terdapat bunga betina. Bunga betina yang terbuahi, akan berkembang menjadi buah yang bergelantungan di ujung malai. Buah pepaya gantung berbentuk bulat sebesar kepalan tangan. Daging buahnya tipis, umumnya berwarna kuning. Rongga bijinya sangat besar dan penuh berisi biji. Kalau biji dari buah pepaya gantung ini ditanam, peluang untuk menghasilkan pepaya gantung cukup besar. Meskipun satu dua tanaman juga akan menyimpang, dan tumbuh sebagai pepaya biasa. Sama halnya ketika petani menanam pepaya biasa, dan satu dua ada yang menyimpang menjadi pepaya gantung.

    * * *

    Di Indonesia, pepaya dianggap sebagai buah yang tidak terlalu penting. Martabat pepaya, kurang lebih sama dengan nanas, semangka dan melon. Dibanding dengan pisang, pepaya juga kalah prestisius. Itulah sebabnya di Indonesia, budi

    daya pepaya untuk diambil buahnya, tidak dilakukan dengan cukup intensif. Beda misalnya dengan di Hawaii. Di sini pepaya merupakan komoditas penting. Pepaya pertamakali didatangkan ke Hawaii tahun 1800. Bersamaan dengan nanas yang juga berasal dari Amerika Tropis, pepaya dikembangkan sebagai buah yang prestisius. Di Taiwan pun, pepaya dianggap sebagai buah yang bergengsi. Di negara pulau ini, pepaya dan jambu air bernilai lebih tinggi dibanding apel, jeruk dan anggur.

    Nasib bunga pepaya gantung sebagai sayuran, tampaknya sama dengan nasib bunga turi (Sesbania grandiflora). Bunga turi merupakan sayuran yang sangat lezat, terutama untuk dimakan sebagai pecel. Masyarakat juga menyukai sayur bunga turi. Namun sampai sekarang belum ada petani yang bersedia menanamnya. Sementara di Taiwan, kita bisa memperoleh bunga turi di pasar swalayan, yang sudah dikemas rapi dalam wadah stereofoam. Baik bunga turi putih maupun ungu tersedia di pasar swalayan. Petani bersedia membudidayakan tanaman ini, karena konsumennya jelas ada. Meskipun harga komoditas ini tidak terlalu tinggi. Bagi petani Taiwan, tingkat keuntungan yang baik, lebih penting dari tingginya harga.

    Bunga pepaya gantung pun bisa dibudidayakan dengan serius, agar masuk pasar swalayan. Untuk itu memang diperlukan perintis. Sama halnya dengan H. Suparman dari Pacet, Cianjur, yang tahun 1980an mengemas pucuk labu siam dan selada air untuk digerai di pasar swalayan. Juga sama dengan Bob Sadino yang pada era tersebut juga merintis jualan kangkung di pasar swalayannya. Di Taiwan, batang pepaya penghasil buah, sengaja dirobohkan (dimiringkan), agar mudah dipanen. Batang pepaya gantung untuk produksi bunga, bisa dipotong pendek hingga bunga gampang dipetik. Setelah getahnya dihilangkan, bunga itu bisa langsung dikemas dalam wadah stereofoam dan masuk pasar swalayan. (R) * * *

    Artikel pernah dimuat di Business News

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *