• ANGGUR PRABU BESTARI

    by  • 26/03/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Anggur Prabu Bestari itu berbuah lebat di Kebun Percobaan (KP) Banjarsari, Tongas, Prpbolinggo, Jatim. Dompolan buahnya penuh berisi butiran buah anggur. Kulit buahnya orange bercampur sedikit ungu, tampak mencolok di antara daun yang hijau.

    Rasa anggur Prabu Bestari manis. Daging dan kulit buahnya renyah. Beda dengan anggur hitam Probolinggo dan Bali, yang masam dan berkulit buah alot. Anggur Prabu Bestari memang tergolong anggur buah (table fruit), beda dengan anggur hitam Bali yang sebenarnya merupakan anggur wine. Dengan penampilan dan rasa seperti itu, anggur Prabu Bestari segera menarik perhatian petani anggur Probolinggo, untuk dikembangkan. Selama ini, mereka lebih banyak menanam anggur hitam Probolinggo, yang sebenarnya sama dengan anggur Bali, merupakan anggur wine, bukan anggur buah. Salah satu ciri khas anggur wine adalah, kulit buahnya yang alot, dan banyak mengandung tanin.

    Prabu-Bestari

    Anggur Prabu Bestari merupakan hasil seleksi dari anggur red prince yang diintroduksi dari Australia. Hasilnya telah dilepas oleh Menteri Pertanian dengan SK Nomor  600/Kpts/SR.120/11/2007 tanggal 7 November 2007. Namun ada juga yang meragukan asal-usul Prabu Bestari. Sebab dalam ensiklopedi anggur dunia, tidak diketemukan nama anggur red prince. Yang ada justru Black Prince. Red Prince sendiri bukan merupakan nama kultivar anggur, melainkan apel. Meskipun disebut black prince, warna anggur nenek moyang Prabu Bestari ini justru merah, bukan hitam. Nama anggur black prince, mengacu pada tiga jenis kultivar anggur, yakni Cinsaut, dari Perancis; Schiava Grossa, dari Italia; dan Rose of Peru, dari Afrika Selatan. Tidak jelas, dari mana induk Prabu Bestari berasal, namun yang paling penting, sekarang sudah berada di Indonesia, dan siap untuk dikembangkan.

    Pasti Manis

    Selama ini sudah banyak varietas anggur di Indonesia. Yang paling banyak ditanam di halaman rumah adalah varietas Isabella, yang diintroduksi oleh pemerintah Belanda. Anggur ini  diketemukan oleh Isabella Gibbs dari South Carolina, AS, pada tahun 1816. Induknya merupakan spesies Vitis vinivera, yang didatangkan dari Eropa. Di Indonesia, Isabella sangat adaptif di hampir semua agroklimat, termasuk bisa dibudidayakan di kawasan basah, dengan elevasi sampai 800 m. dpl. Sementara anggur lain menghendaki kawasan yang ekstrim kering, pada ketinggian 0 – 300 m. dpl. Anggur kedua yang sangat populer adalah varietas Bali, dan Probolinggo Hitam, yang merupakan hasil seleksi dari varietas Alphonse Lavallee. Varietas ini berasal dari Perancis, dan merupakan hasil silangan antara anggur Muscat Hamburg dengan Kharistvala Kolkhuri.

    Belakangan di kota Kediri juga berkembang anggur hijau Belgia, yang tidak begitu jelas induk tetuanya. Beda dengan anggur Isabella dan Alphonse Lavallee yang merupakan anggur wine, anggur Kediri adalah anggur buah. Hingga selain daging buahnya renyah, rasanya juga manis. Sebenarnya anggapan bahwa anggur Isabella dan Alphonse Lavallee berasa masam, juga keliru. Sebab dua varietas anggur ini sebenarnya juga bisa manis. Anggur Bali yang masam, disebabkan karena waktu pemetikan yang terlalu awal. Agar mencapai tingkat kemanisan optimal, seharusnya Isabella dan Alphonse Lavallee dipetik pada umur 110 hari setelah pangkas. Akan tetapi, jenis anggur hitam ini sudah akan berwarna hitam pada umur 90 hari. Maka pedagang biasanya memetik anggur yang mereka tebas, pada umur antara 90 – 100 hari setelah pangkas, yang rasanya masih masam.

    Kawasan yang optimal untuk budi daya anggur adalah yang beriklim kering dan panas, serta bertanah pasir. Aslinya, anggur merupakan tanaman gurun, yang kemudian dikembangkan di kawasan sub tropis. Di kawasan ini, anggur akan merontokkan daunnya pada musim gugur, kemudian pada musim semi keluar bunga dan daun, lalu buah akan masak pada akhir musim panas. Hingga di kawasan sub tropis, anggur hanya akan berbuah satu kali setahun. Di kawasan tropis, anggur bisa berbuah dua kali dalam setahun. Bahkan apabila dipaksakan, dalam jangka waktu 1 tahun anggur dapat berbuah tiga kali. Di Bali Utara anggur dipetik rata-rata pada umur 90 – 100 hari, dan 20 hari kemudian daun serta rantingnya dipangkas habis. Hingga praktis dalam satu tahun (365 hari), anggur akan mampu berbuah sebanyak tiga kali.

    Sistem Budi daya

    Umumnya, anggur dibudidayakan dengan sistem pagar (knifin), dan para-para. Di KP Banjarsari, pagar dan para-para untuk budi daya anggur, menggunakan tiang pohon jaran (jaranan, kuda, kudo, Lannea coromandelica), bukan pohon jaran Mangrove Trumpet Tree (Tui, Dolichandrone spathacea). Pohon jaran dipilih, karena tumbuhan ini sangat tahan pangkas. Dipangkas seperti apa pun, ia tetap akan mampu menumbuhkan tunas baru. Hingga pohon jaran paling cocok untuk tiang pagar, atau para-para dalam budi daya anggur. Di KP Banjarsari sendiri, saat ini ada belasan varietas anggur yang dijadikan unggulan. Varietas anggur yang dikoleksi KP Banjarsari pernah mencapai 75 varietas/kultivar.  KP Banjarsari merupakan bagian dari Balai Penelitian Jeruk dan Tananaman Sub Tropika, di Tlekung, Batu.

    Tahun 1970an, Probolinggo pernah menjadi sentra anggur yang sangat terkenal di Indonesia. Ketika Probolinggo surut, perannya digantikan oleh Kabupaten Bulelang (Singaraja), di Provinsi Bali. Anggur Bali saat ini sudah diproduksi menjadi wine, dengan merk Hatten. Sebab anggur Bali jelas merupakan bahan wine, dan bukan untuk buah meja. Pelan-pelan, para petani dan pedagang kita harus menyadari hal ini. Mereka membudidayakan anggur untuk bahan wine, atau untuk buah meja? Kalau untuk bahan wine pilihannya anggur Bali. Tapi kalau ingin menghasilkan buah meja, maka tanamlah Prabu Bestari. Akan tetapi Prabu Bestari pun tetap akan berasa masam, apabila usia petik kurang dari 110 hari sejak pangkas. # # #

    Artikel pernah dimuat di Majalah Flona

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *