KAPUK RANDU
by indrihr • 21/05/2014 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Tiap bulan September dan Oktober, jalan Pajajaran di Kota Bogor mirip dengan suasana kota Eropa. Serpih putih seperti salju beterbangan, dan terserak di jalan serta trotoar. Inilah serat kapuk randu, dari polong buah yang sudah pecah.
Secara rutin kapuk randu berbunga pada awal musim kemarau sekitar bulan Mei dan Juni, serta akan tua dan pecah pada bulan September dan Oktober. Ketika tua, polong buah kapuk akan pecah, lalu serat dengan biji yang disebut klentheng beterbangan ditiup angin. Kebetulan, September dan Oktober merupakan bulan pancaroba, pergantian musim kemarau ke musim hujan, yang ditandai dengan datangnya angin barat. Serpih serat kapuk dengan biji di tengahnya itu akan beterbangan hingga mencapai jarak yang cukup jauh. Pada musim penghujan, biji kapuk yang jatuh jauh dari induknya itu akan tumbuh menjadi individu tanaman baru. Itulah cara spesies tumbuhan menyebarluaskan generasi penerusnya, agar tidak tumbuh di dekat pohon induk.
Pada zaman penjajahan Belanda, Pulau Jawa tercatat sebagai penghasil utama kapuk dunia. Hasil kapuk jawa terutama diekspor ke Eropa, dan dikenal sebagai kapuk jawa (java kapok). Sisa-sisa kejayaan kapuk jawa inilah yang bisa terlihat di Jalan Pajajaran Bogor. PT Perkebunan Nusantara IX, juga masih menyisakan sedikit areal kebun Kapuk di Kabupaten Batang dan Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Areal tanaman kapuk randu dari zaman Hindia Belanda ini hancur akibat serangan benalu pada dekade 1940an, karena tak terawat akibat pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, belum sempat areal tanaman kapuk yang rusak ini diremajakan, sudah terlanjur diketemukan serat sintetis dari minyak bumi dan gas alam, yang lebih murah, hingga harga serat kapuk jatuh.
# # #
Meskipun Jawa pernah tercatat sebagai penghasil utama kapuk randu dunia, namun komoditas ini berasal dari Amerika Selatan bagian utara, Amerika Tengah, dan Kepulauan Karibia. Setelah Columbus menemukan benua ini pada abad 15, Bangsa Eropa menyebarkan tanaman kapuk ke seluruh kawasan tropis di dunia. Bangsa Belanda membawa kapuk ke Jawa dan mengebunkannya secara intensif, hingga pulau ini dikenal sebagai penghasil utama kapuk dunia. Ada dua varietas tanaman kapuk randu (Ceiba pentandra), yakni Ceiba pentandra var. caribaea, yang berasal dari Amerika Tengah/Karibia; serta Ceiba pentandra var. guineensis yang berasal dari Afrika. Kapuk randu yang tumbuh di halaman bekas kampus IPB di Jalan Pajajaran, Bogor, varietas guineensis dari Afrika. Sementara pohon kapuk yang masih banyak dijumpai di kebun rakyat, varietas caribaea dari Amerika.
Masyarakat sering keliru, menganggap pohon kapuk randu varietas guineensis dari Afrika sebagai kapuk hutan (randu alas). Kekeliruan ini bisa dimaklumi, sebab pohon kapuk varietas guineensis dari Afrika berukuran lebih besar, dan lebih tinggi, dibanding varietas caribaea dari Amerika, hingga sepintas mirip dengan tanaman kapuk liar yang ada di hutan. Padahal yang disebut randu alas bukan pohon kapuk genus Ceiba, melainkan genus Bombax. Randu alas (Bombax ceiba), berasal dari daratan Asia (India – China), dan berbunga merah. Sementara tanaman kapuk varietas caribaea maupun guineensis, dua-duanya berbunga putih. Tanaman randu alas bisa dijumpai antara lain di dalam Kebun Raya Bogor, juga di pinggir-pinggir jalan raya di Jawa. Sosok tanaman randu alas, sangat berbeda dengan kapuk randu varietas guineensis maupun caribaea.
Masyarakat juga sering sulit membedakan kapuk dengan kapas. Serat kapuk hanya dihasilkan oleh tanaman kapuk randu, dan penggunaan paling besar untuk kasur serta bantal. Serat kapuk terlalu pendek hingga tidak bisa dipintal menjadi benang, dan ditenun menjadi kain. Kapas merupakan serat tanaman semak berkayu genus Gossypium. Meskipun ada saingan serat sintetis rayon berbahan baku serat kayu, dan polister berbahan baku minyak bumi serta gas alam, serat kapas tetap diminati oleh masyarakat dan tetap berharga tinggi. Beda dengan serat kapuk yang kemudian tersisihkan, karena tersaingi oleh bantal dan kasur busa dari bahan sintetis. Sebenarnya dunia industri juga tetap memerlukan serat kapuk randu, bersama dengan serat asbes sebagai isolasi dan peredam panas mesin dan pabrik. Karena ketersediaan serat kapuk randu terbatas, dunia industri beralih ke serat nabati lain.
# # #
Selain berkembang biak secara generatif dengan biji, kapuk randu juga bisa dibudidayakan dengan benih stek batang/cabang. Bahan stek paling ideal berupa batang atau cabang kapuk randu yang masih berwarna kehijauan, diameter 15 – 20 cm, panjang 2,5 sampai tiga meter. Penanaman stek sebaiknya pada awal musim penghujan. Dengan menggunakan benih asal stek batang/cabang, umur berbuah tanaman bisa dipercepat. Dengan benih dari biji, kapuk randu baru akan berbuah pada umur antara lima sampai enam tahun setelah tanam. Dengan benih berupa stek berukuran besar, tanaman akan berbuah pada tahun 3 sampai 4 tahun sejak tanam. Kapuk randu bisa hidup di lahan berketinggian dari 0 m. dpl, sampai dengan elevasi 700 m. dpl. Kapuk memerlukan sinar matahari penuh sepanjang tahun, dan relatif tahan kekeringan. Benalu merupakan pengganggu utama tanaman kapuk, selain hama Helopeltis.
Sampai dengan tahun 1980an, batang kapuk randu sama sekali tidak punya nilai ekonomis, karena berkayu sangat lunak. Belakangan batang kapuk randu dibuat papan, dan digunakan sebagai sekat dalam pengecoran semen. Papan kapuk randu dipilih karena murah, hingga tidak sayang apabila setelah pengecoran langsung dibuang. Selain menghasilkan serat alami, biji kapuk randu yang disebut klentheng, juga menghasilkan minyak nabati, dan bungkil pakan ternak. Buah kapuk randu harus dipanen sebelum pecah. Buah ini dikeringkan di lantai jemur, dengan dikitari kawat kasa atau net, hingga serat dari buah yang pecah tidak beterbangan tertiup angin. Biji klentheng dan kulit buah akan terkumpul di bagian bawah lantai penjemuran. Kulit buah dimanfaatkan oleh para petani sebagai kayu bakar. Serat kapuk dipadatkan dan dikemas dalam bentuk ikatan besar.
Dari tanaman buah kapuk, masih bisa diharapkan pula hasil madunya. Bunga kapuk merupakan salah satu bunga penghasil madu dalam volume paling besar. Tanaman yang juga menghasilkan madu dalam volume besar antara lain durian dan pisang. Madu dari dua tanaman ini sulit dipanen. Bunga durian mekar pada malam hari, sementara pisang tidak pernah berbunga secara serempak. Madu dari bunga kapuk randu diambil olah lebah Apis mellifera, lebah impor yang dikembangkan oleh Pusat Apiari Pramuka. Lebah lokal Apis indica yang biasa dipelihara masyarakat dalam rongga potongan batang kayu (glodog), juga bisa memanen madu kapuk randu, namun efektifitasnya kalah oleh lebah Apis mellifera. Sisa-sisa kejayaan java kapok di Batang dan Pati, sampai sekarang tetap menghasilkan serat kapuk dan madu. # # #
Artikel pernah dimuat di Majalah Flona


