• KHASIAT MINUM KOPI

    by  • 28/05/2014 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Malam di Ethiopia, sekelompok kafilah beristirahat di tenda setelah perjalanan seharian. Mereka membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Seorang anggota kafilah memungut ranting dengan buahnya yang merah, lalu memasukkannya ke dalam api.

    Serantak tercium aroma harum, dari buah yang hangus terbakar itu. Kafilah itu memungut buah gosong itu, menciumnya, lalu memakannya. Ternyata rasanya pahit. Untuk menetralkannya, si kafilah segera minum beberapa teguk air. Tak berapa lama kemudian ia merasakan tubuhnya menjadi segar, kantuk dan capeknya hilang. Teman-temannya segera ikut mengunyah buah gosong itu lalu minum air, untuk membuktikan “promosi” salah satu temannya tadi. Sejak itulah Homo sapiens sapiens mengenal biji kopi, sebagai bahan minuman. Kopi memang termasuk komoditas baru sebagai minuman. Dunia baru mengenal kopi sekitar abad XIV. Sementara bir sudah dikenal sejak tahun 2.500 SM, teh sejak tahun 2.700 SM, dan wine sejak tahun 7.000 SM.

    Kopi1

    Legenda lain menyebutkan, bahwa para peternak Ethiopia melihat kambing yang mereka gembalakan, saling menaiki satu sama lain, setelah mereka makan daun dan buah kopi. Maka sampai sekarang masyarakat Ethiopia, tetap menyeduh daun kopi sebagai minuman penyegar. Dari Ethiopia, kultur minum kopi menyebar ke Somalia, Yaman, Arab Saudi, Mesir, Turki, dan kemudian mendunia. Hingga kultur minum kopi, relatif masih sangat muda dibanding dengan teh, bir, wine, bahkan juga dengan susu dan madu. Namun demikian, dalam waktu yang sangat singkat kopi telah mampu menandingi teh, dan mengalahkan bir, wine, susu dan madu. Kultur minum kopi makin menjadi trend peradaban modern, berkat franchise Starbucks, Cofee Beans, dan juga Kopitiam.

    Arabika dan Java

    Karena dunia Barat (Eropa) mengenal kopi dari Arab, maka salah satu spesies kopi yang kemudian mendunia adalah kopi arabika (Coffea arabica). Baru kemudian dikembangkan pula kopi robusta (Coffea canephora), kopi ekselsa (Coffea excelsa), dan kopi liberika (Coffea liberica). Pada zaman pemerintah kolonial Hindia Belanda, sekitar abad 18 dan 19, Pulau Jawa pernah menjadi produsen kopi arabika utama dunia. Karena terkenalnya kopi arabika dari Jawa, maka di Eropa Utara, kopi disebut sebagai “java”. Hingga di Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Denmark, sampai sekarang orang akan menyebut “minum java” untuk pengertian minum kopi. Pada abad 19, penyakit karat daun akibat cendawan Hemileia vastatrix, menghancurkan perkebunan kopi arabika di Jawa.

    Pemerintah Hindia Belanda, kemudian mengganti spesies kopi arabika dengan kopi robusta yang lebih tahan terhadap karat daun, dan dengan produktivitas lebih tinggi. Sekarang sentra kopi arabika di Indonesia, tinggal tersisa di dataran tinggi Takengon (Aceh), Sidikalang (Sumut), Lereng Timur Gunung Ungaran (Jateng), Ijen (Jatim), Ruteng (Flores, NTT), Toraja (Sulsel). Belakangan ini kopi arabika juga berkembang di Jaya Wijaya, Papua. Karena produktivitasnya rendah, pembudidaya kopi arabika tak sebanyak kopi robusta. Maka harga kopi arabika selalu lebih tinggi dibanding dengan robusta. Ciri khas kopi arabika adalah aromanya yang sangat kuat, kafein rendah, tetapi rasanya masam. Kopi robusta berkafein tinggi, dan pahir, tetapi aromanya tak sekuat arabika.

    Merk-merk kopi-kopi terkenal, tidak pernah menggunakan spesies tunggal, melainkan selalu merupakan campuran berbagai spesies, varietas, bahkan juga kultivar. Para produsen kopi, dan terutama pemegang franchise kedai kopi, selalu berburu kopi sampai ke kebunnya. Kopi-kopi di Starbucks, atau coffe shop di hotel bintang, selalu merupakan “blandid” dari kopi arabika, kopi robusta, kopi ekselsa, dan kopi liberika. Bahkan, kopi budi daya saat ini, sudah tidak ada yang spesies asli. Semua sudah merupakan varietas atau kultivar hibrida antar spesies.Di dunia, saat ini diketahui ada 114 spesies kopi. Sampai sekarang spesies-spesies kopi baru masih terus diketemukan. Tahun 2008 dan 2009, the Royal Botanic Gardens, Kew, telah memberi nama 10 spesies kopi baru. Salah satunya Coffea charrieriana.

    Pro Kontra Khasiat Kopi

    Coffea charrieriana diketemukan di Kamerun, oleh The International Institute for Species Exploration, dari Arizona State University, bekerjasama dengan an international committee of taxonomists. Keistimewaan Coffea charrieriana adalah sama sekali tidak mengandung caffeine. Hingga para pecandu kopi di masa depan, tidak perlu takut menyeruput kopi lagi, karena tersedia kopi yang harum, pahit, tetapi bebas caffeine. Dari data FAO 2009, produsen kopi utama dunia adalah Brasil (2,44 juta ton), Vietnam (1,18 juta ton), Kolombia 890 ribu ton),  Indonesia (700 ribu ton), dan India (290 ribu ton). Sebenarnya, Vietnam baru pada tahun 1990an serius belajar membudidayakan kopi dari Indonesia. Tetapi Vietnam yang sebelumnya bukan negara penghasil kopi dan bukan anggota the Association of Coffee Producing Countries (ACPC) dan the International Coffee Organisation (ICO), tiba-tiba menyodok duduk di posisi 2 dunia.

    Mereka yang kontra kopi, keberatan dengan pengaruh kopi terhadap peningkatan tekanan darah, dan kinerja jantung. Mereka yang tidak biasa minum kopi, akan merasakan dampak secara langsung, berupa jantung yang berdetak lebih kuat, dan lebih cepat. Kopi juga mengakibatkan sulit tidur. Namun demikian mereka yang pro minum kopi, akan menyebut kopi berkhasiat diuretik (memperlancar pembuangan urine). Dampak dari keluarnya urine, harus disertai dengan minum air putih sebanyak mungkin. karena itu sebenarnya minum kopi akan berakibat ke penurunan tekanan darah. Belakangan diketemukan fakta baru, bahwa kopi jelas berdampak mengurangi resiko tingginya kadar gula darah, termasuk pada para penderita diabetes. Bahkan mereka yang sangat pro kopi, memromosikan minuman ini sebagai berkhasiat mengurangi resiko terserang kanker.

    Selain diuretik, khasiat kopi yang paling nyata memang berupa pulihnya stamina, hilangnya kantuk, dan semua organ tubuh bisa bekerja normal kembali. Dengan catatan, kopi harus diminum ketika perut terisi. Sebab kopi, terutama kopi arabika, juga mengandung asam yang cukup kuat, hingga minum kopi ketika perut kosong, akan potensial untuk menimbulkan gangguan maag. Sebenarnya khasiat tonik, pada kopi juga bisa berbahaya, apabila diminum ketika tubuh sudah terlalu capek. Dampak sesaat dari kopi, memang akan menimbulkan kesegaran. Namun itu tidak akan berlangsung lama, sebab daya tahan tubuh tetap ada batasnya. Maka, iklan salah satu permen kopi: “Kalau ngantuk dan tak sempat ngopi, makanlah permen ini…” sebenarnya telah membodohi publik. Kalau ngantuk kita harus tidur, dan kalau capek istirahat. # # #

    Artikel Pernah dimuat di Majalah Flona

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *