• PENANGGULANGAN HAMA SAWIT

    by  • 17/06/2014 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Pengembalian tandan buah kosong (TBK) dari pabrik ke kebun sawit, telah berhasil menekan biaya pemupukan sampai 50%. Tetapi di lain pihak, TBK juga menjadi penyebab meningkatnya hama kumbang tanduk.

    Ada empat jenis kumbang tanduk, yang juga sering disebut kumbang badak. Pertama kumbang tanduk atlas (atlas beetle, Chalcosoma atlas), dengan dua tanduk di atas punggung, dan satu tanduk di kepala. Kedua  kumbang tanduk asia (asiatic rhinoceros beetle, coconut rhinoceros beetle, Oryctes rhinoceros); dengan hanya satu tanduk di kepala. Ketiga kumbang tanduk siam (siamese rhinoceros beetle, fighting beetle, Xylotrupes gideon); dengan satu tanduk di punggung dan satu tanduk di kepala. Keempat kumbang tanduk biasa (common rhinoceros beetle, coconut palm beetle, Xylotrupes ulysses).

    Bunga-medali-mas-a

    Sama dengan kumbang tanduk siam, kumbang tanduk biasa juga punya satu tanduk di kepala, dan satu tanduk di punggung. Bedanya, tanduk mereka lebih pendek, ukuran tubuh lebih kecil. Dari empat jenis kumbang tanduk ini, kumpang tanduk asia, kumbang tanduk siam, dan kumbang tanduk biasa paling banyak merusak tanaman sawit, terutama yang masih muda. Meskipun disebut kumbang tanduk siam (Thailand), sebaran hama ini meliputi seluruh kawasan Asia Tenggara, Australia Utara, sampai ke Kepulauan Solomon. Di Thailand kumbang tanduk siam jantan sering diadu sebagai tontonan dan taruhan.

    Siklus hidup kumbang tanduk dimulai dari telur, menetas menjadi larva, larva menjadi pupa, dan dari pupa ke kumbang dewasa. Larva kumbang tanduk hidup dalam tanah, dan memakan humus. Ketika TBK dikembalikan ke kebun sawit dan berubah menjadi kompos (humus), larva kumbang tanduk bisa tumbuh dengan pesat dan subur. TBK menjadi seperti buah simalakama. Tak dikembalikan ke kebun pupuk boros. Dikembalikan ke kebun populasi kumbang tanduk naik. Penggunaan tanaman penutup tanah (cover crops), untuk menekan pertumbuhan gulma pada tanaman muda, juga ikut meningkatkan populasi kumbang tanduk.

    # # #

    Larva kumbang tanduk sebenarnya sama sekali tak merusak tanaman sawit, karena hanya makan humus. Kecuali tanaman semusim, misalnya kacang tanah, yang akarnya bisa ikut dirusak oleh larva kumbang tanduk.  Dalam stadium pupa, kumbang tanduk juga tak beraktivitas. Perusakan tanaman sawit terjadi pada saat kumbang tanduk dalam fase dewasa (imago). Kumbang ini akan memakan jaringan tanaman yang masih muda, hingga titik tumbuh akan mati. Karena sawit merupakan tumbuhan monokotil (berkeping satu), yang tak bercabang, matinya titik tumbuh akan berakibat tanaman mati.

    Kumbang-tanduk-siam-a

    Pada tanaman tua, serangan hama kumbang tanduk hanya akan berakibat rusaknya tandan buah sawit (TBS), yang berdampak ke penurunan produksi. Serangan kumbang tanduk jarang mengakibatkan tanaman sawit dewasa sampai mati. Kecuali populasi kumbang tanduk pada individu pohon tersebut sudah sampai ke tahap luarbiasa. Pada tanaman kelapa, kumbang tanduk akan mengakibatkan daun seperti tergunting dengan rapi. Ini disebabkan oleh jaringan daun yang masih muda dan menguncup dimakan oleh kumbang tanduk. Selain itu, tandan bunga yang dimakan kumbang tanduk juga bisa rusak, dan tidak bisa tumbuh normal.

    Hama kumbang tanduk tidak bisa dibasmi menggunakan pestisida apa pun. Maka satu-satunya cara hanya menanggulanginya secara manual (mekanis), dengan pengumpulan larva, pupa, serta imago untuk dimusnahkan. Selain dimusnahkan dengan cara dibakar misalnya, larva, pupa, dan imago kumbang tanduk juga bisa untuk pakan ternak, terutama ayam kampung. Larva dan pupa bisa diberikan langsung ke ayam, sementara imagonya harus dipanggang (ditaruh di atas wajan gerabah), dihancurkan, dan dicampurkan pada pakan. Selain untuk unggas, larva dan pupa kumbang tanduk juga bisa untuk pakan ikan, terutama ikan karnivora seperti lele dan patin.

    Yang jadi masalah, mengumpulkan kumbang tanduk dewasa juga tidak mudah, sebab mereka berada di celah-celah pelepah sawit. Larvanya juga menyebar di seluruh lahan. Untunglah, spesies kumbang ini sangat menyenangi getah (resin) beberapa tumbuhan famili Fabaceae. Yang diketahui disenangi kumbang tanduk antara lain tanaman medali mas (Gold Medallion Tree, Cassia leptophylla), dan flamboyan (Delonix regia). Medali mas merupakan tanaman hias perdu berbunga kuning asal Kalifornia Selatan, AS, flamboyan berupa pohon asal Madagaskar. Sekarang dua tanaman ini sudah menyebar ke seluruh kawasan tropis dunia. Di Indonesia, medali mas dan flamboyan ditanam sebagai elemen taman dan peneduh jalan.

    # # #

    Pohon medali mas dikembangbiakkan secara generatif dengan biji. Tanaman ini hanya akan tumbuh setinggi empat meter, dengan lebar tajuk antara tiga sampai empat meter. Tanaman ini cocok digunakan sebagai hiasan sepanjang petakan lahan sawit, tanpa mengganggu tanaman utama. Jalur petakan lahan sawit yang dipenuhi pohon medali mas, akan mengalihkan perhatian kumbang tanduk dari menyerang sawit, ke menyerang kulit pohon Cassia tersebut. Sebenarnya yang disukai kumbang tanduk bukan jaringan kulit Cassia itu, melainkan resin (getah), yang keluar dari kulit yang mereka lukai.

    Pada musim penghujan, saat kumbang tanduk keluar dari pupa, kawin lalu bertelur, pohon medali mas bisa dipenuhi oleh imago kumbang tanduk. Pada saat itu imago kumbang tanduk bisa dikumpulkan dengan sangat mudah. Ketika pohon medali mas digoyang, kumbang tanduk akan berjatuhan, dan harus secepatnya dipungut. Kalau tidak, mereka akan cepat sekali menyusup ke dalam tanah untuk berlindung. Dibanding flamboyan, medali mas lebih berpeluang sebagai pengendali kumbang tanduk, karena berupa perdu. Flamboyan akan tumbuh sebagai pohon, hingga menyulitkan upaya pengumpulan kumbang tanduk.

    Pada dekade 1990an, perkebunan sawit Indonesia dan Malaysia juga pernah diganggu oleh hama tikus, terutama tikus pohon (tikus belukar, Rattus tiomanicus), yang hidup di tajuk sawit. Tikus ini mengerat dan memakan TBS. Yang dimakan tikus sebenarnya tak seberapa, tetapi seluruh tandan itu akan rusak. Hama ini juga sulit dikendalikan, sampai ada solusi pengendalian menggunakan predator burung hantu putih (Tyto alba). Tikus berhasil dikendalikan, tetapi produksi TBS justru turun drastis. Ternyata, selain merusak TBS, tikus juga membantu penyerbukan (polinasi) bunga sawit. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *