BISNIS SIRUP MARKISA
by indrihr • 23/06/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Sirup markisa yang ada di pasar, semua berasal dari buah markisa asli, hasil pertanian dan industri rakyat. Beda dengan sirup dan konsentrat jeruk, yang berasal dari jagung atau singkong, produksi perusahaan multi nasional.
Meskipun iklan produk minuman itu selalu menyebut “terbuat dari jeruk asli” tetapi dilihat dari harga yang sangat murah, tidak mungkin produk itu berasal dari buah jeruk asli. Harga buah jeruk per kg, di tingkat petani paling murah Rp 5.000 per kg. Komposisi kulit, serat dan biji dalam buah itu bisa mencapai 70% dari bobot buah segar. Tiap kilogram buah jeruk segar, akan menghasilkan sekitar 300 ml. air jeruk. Nilai air jeruk asli volume 600 ml, minimal sudah Rp 10.000, belum termasuk biaya pemerasan, gula, kemasan, biaya pemasaran, PPN, dan keuntungan.
Selama ini, yang disebut minuman jeruk merupakan bahan sintetis, terbuat dari karbohidrat. Sumber karbohidrat paling murah berasal dari jagung dan singkong. Di pabrik minuman jeruk, karbohidrat itu diubah menjadi gula melalui proses enzimisasi. Sebagian dari karbohidrat itu difermentasi menjadi asam sitrat, untuk dicampurkan ke dalam gula jagung atau singkong. Agar benar-benar berpenampilan sebagai minuman jeruk, bahan itu diberi aroma dan warna jeruk. Dengan bahan baku murah, dan proses massal, produk minuman jeruk ini bisa dijual dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat miskin.
Harga konsentrat (pulp) markisa selalu lebih tinggi harga konsentrat jeruk. Urut-urutan harga konsentrat buah : paling rendah nanas, menyusul jeruk manis (orange, Citrus sinensis), mangga dan paling tinggi markisa. Tinggi rendahnya harga konsentrat buah ini, disebabkan oleh hukum pasar. Ketika permintaan tinggi sementara pasokan terbatas, harga akan naik. Sebaliknya ketika pasokan melimpah permintaan tetap, harga akan turun. Nanas merupakan buah paling banyak diproduksi, hingga berharga paling murah. Jeruk manis, yang sering disebut salah kaprah sebagai jeruk “sunkist”, juga produk massal dan murah di Kalifornia, AS.
# # #
Nanas dan jeruk diproduksi massal, karena aneka kegunaannya. Selain dipasarkan segar, nanas juga diolah menjadi jam, jelai, potongan nanas bersirup dalam kaleng, dan konsentrat. Jeruk manis Kalifornia hanya untuk dipasarkan segar. Akan tetapi, ketika produk melimpah, kelebihan dari permintaan segar itu akan diolah menjadi konsentrat. Karena berupa “kelebihan produksi”, harga konsentrat jeruk juga menjadi sangat murah. Mangga yang diolah menjadi konsentrat bukan mangga konsumsi, melainkan mangga biasa (Mangifera indica L.) varietas masam, atau mangga bacang (Mangifera odorata Griff.). Mangga biasa varietas manis, akan diserap oleh pasar segar.
Markisa sebagai bahan sirup, sudah dibudidayakan di Indonesia sejak zaman Hindia Belanda. Bangsa Portugis dan Spanyol membawa buah ini masuk ke Hindia Belanda. Nama markisa sendiri berasal dari kata maracujá (Portugis), dan maracuyá (Spanyol). Merekalah yang membawa buah ini dari Amerika Selatan ke seluruh kawasan tropis di dunia. Sebagai bahan sirup, dibudidayakan markisa masam (Passiflora edulis). Ada dua jenis markisa masam, yakni markisa dataran tinggi berkulit ungu (purple maracuyá, Passiflora edulis var. kerii); dan markisa dataran rendah berkulit kuning (rola, yellow maracuyá, Passiflora edulis f. flavicarpa). Markisa kuning dataran baru masuk Indonesia pada tahun 1990an.
Dua jenis markisa masam ini sama-sama berdaging buah kuning sampai oranye, dengan aroma khas markisa. Belakangan Balai Penelitian Buah (Balitbu), Solok, Sumatera Barat telah menghasilkan hibrida antara varietas kerii dengan forma flavicarpa. Kulit buah markisa baru ini ungu muda kemerahan, dengan bintik-bintik yang cukup jelas. Kelebihan markisa hibrida ini, hasil pulpnya lebih besar dibanding dua markisa induknya. Markisa baru ini cocok untuk dikembangkan di dataran menengah. Belakangan, di masyarakat sendiri juga tercipta silangan-silangan alam antar varietas dan forma Passiflora edulis, dengan variasi ukuran, bentuk, warna, dan karakter buah yang sangat beragam.
Markisa masam dibudidayakan dengan benih dari biji. Biji markisa mudah sekali tumbuh, meskipun sudah tersimpan lama. Markisa merupakan terna merambat (memanjat), dengan bantuan sulur, seperti halnya labu, timun, dan paria. Hingga budi daya markisa memerlukan para-para, atau pohon sebagai panjatan. Biasanya markisa dirambatkan di pohon lamtoro, kaliandra, albisia, atau tanaman lain yang tahan terhadap rambatan. Markisa akan berbuah sekitar delapan bulan sejak tanam. Baik markisa ungu, maupun kuning, sama-sama berwarna hijau pada saat masih muda. Setelah masak, buah akan berangsur menjadi kuning atau ungu tergantung jenisnya.
# # #
Tahun 1980an, para ahli markisa dari Indonesia “berburu” markisa masam dataran rendah, sampai ke Australia dan Amerika Latin. Sebab produktivitas markisa dataran tinggi tidak terlalu besar. Di dataran tinggi, cuaca lebih sering berkabut, hingga fotosintesis tidak bisa seoptimal di dataran rendah. Awal tahun 1990an, masuklah markisa dataran rendah ini ke Indonesia. Isu ini merebak, dan konon, markisa baru ini berada di kawasan Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Ternyata markisa baru yang tumbuh lebat ini tidak mau berbuah. Padahal bunganya tumbuh lebat, dan banyak dikerubuti kumbang. Baru pada pertengahan tahun 1990an, markisa dataran rendah ini bisa berbuah di Indonesia.
Di Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan Hawaii, beberapa spesies markisa menjadi gulma yang invasif dan sulit diberantas. Markisa masam dataran rendah ini pun berpotensi untuk menjadi gulma yang invasif. Meskipun sekarang markisa jenis ini sudah menyebar kemana-mana, masyakarat masih belum tahu pemanfaatannya. Masyarakat justru kecewa karena rasa buah ini sangat masam. Padahal justru markisa masam inilah yang berpotensi menjadi bahan minuman segar. Di Thailand, minuman markisa bukan sekadar dibotolkan dalam bentuk sirup, melainkan juga yang siap minum. Di negeri ini minuman markisa juga disajikan dalam kaleng.
Selain markisa masam di Indonesia juga dikenal markisa manis atau konyal (sweet granadilla, Passiflora ligularis). Konyal juga tanaman dataran tinggi. Di Jawa Barat, konyal tumbuh di lereng gunung Gede dan Pangrango dan dijual di jalur wisata puncak. Demikian pula di tepi jalan raya dari Solok, menuju Padang, serta Padang Panjang, Sumatera Barat, banyak dijajakan markisa konyal. Beda dengan markisa masam yang berdaging buah kuning, markisa konyal yang manis berdaging buah putih. Masih ada dua jenis markisa lain yang tumbuh di Indonesia, yakni erbis (giant granadilla, Passiflora quadrangularis), dan markisa mini, ciplukan (wild maracuyá, Passiflora foetida). # # #


