• CHUPA-CHUPA

    by  • 30/06/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Chupa-chupa merupakan buah pendatang baru di Indonesia. Berasal dari hutan tropika basah di Brasil, Kolombia, Ekuador, dan Peru, Amerika Selatan. Karenanya buah ini juga disebut sawo amerika selatan (South American sapote).

    Padahal chupa-chupa (Quararibea cordata, famili Malvaceae, subfamili Bombacoideae);  tak ada hubungan dengan sawo (Manilkara zapota, famili Manilkara zapota). Chupa-chupa justru masih satu sub famili dengan kapuk randu, pachira, dan baobab. Di Amerika Selatan sendiri, chupa-chupa masih merupakan “buah hutan”, yang baru dibudidayakan Kolumbia. Pada saat musimnya chupa-chupa tampak dijual di beberapa kota di Kolumbia, seperti Antioquia, Buenaventura, dan Bogotá. Di Brasil, chupa-chupa bisa ditemui di kota-kota Tefé, Esperanca, Sao Paulo de Olivenca, Tabetinga, Benjamin Constant dan Atalaia do Norte.

    Chupa-chupa-5a

    Selain di dua negara tadi, buah chupa-chupa juga sudah mulai dipasarkan di Puerto Viejo, Ekuador. Meskipun belum populer sebagai komoditas buah, chupa-chupa berpotensi sebagai tanaman elemen taman, terutama sebagai pohon pelindung. Selain itu pohon tanaman ini juga unggul sebagai wahana latihan memanjat bagi anak-anak. Percabangan chupa-chupa tumbuh dari pangkal batang. Meskipun ada pula individu tanaman yang tumbuh lurus, dan baru bercabang pada ketinggian sekitar tiga meter. Batang dan cabang pohon ini sangat kuat. Cabang-cabang itu tumbuh horisontal pada satu titik sama sebanyak lima buah.

    Pola percabangan seperti ini mirip pada ketapang (Terminalia catappa), hingga tercipta tajuk yang cukup indah sebagai tanaman pelindung di taman kota. Beda dengan ketapang yang bertajuk renggang, tajuk chupa-chupa relatif rapat, karena daun yang lebar dan lebat. Kerapatan tajuk chupa-chupa, memang tidak seekstrim biola cantik (Ficus lyrata). Pola tajuk seperti ini menjadikannya potensial sebagai tanaman peneduh. Namun chupa-chupa tak cocok sebagai peneduh lahan parkir. Meskipun buahnya berukuran sedang dan tidak keras, ketika jatuh tetap akan mengganggu kendaraan yang berada di bawah tajuknya.

    # # #

    Paling cocok chupa-chupa ditanam di taman kota, taman bermain, atau halaman sekolah. Selain bisa dijadikan wahana latihan memanjat, hasil buahnya juga bisa dikonsumsi segar, maupun dalam bentuk olahan. Di hutan tropika basah sungai Amazon, pohon chupa-chupa tumbuh menjulang sampai setinggi 45 meter. Ketika dibudidayakan, tanaman buah ini hanya bisa mencapai ketinggian sekitar 15 meter. Chupa-chupa tergolong agak terlambat dikenal dunia luar. Baru pada tahun 1964, William Whitman membawa biji chupa-chupa dari Iquitos, Peru, untuk dicoba ditanam di lahannya di Bal Harbour, Florida, AS.

    Chupa-chupa-4a

    Tetapi buah chupa-chupa pertama di Florida justru datang dari tanaman  B.C. Bowker, di Miami, pada tahun 1973. Padahal Bowker lebih belakangan menanam Chupa-chupa dibanding Whitman. Pohon chupa-chupa Whitman baru berbuah sebanyak 58 butir pada tahun 1976, atau 12 tahun sejak ditanam. Di Brasil sendiri, chupa-chupa baru diteliti secara serius pada tahun 1979. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh keseragaman rasa dan aroma buah. The Instituto Nacional de Pesquisas meneliti menyemai biji dari 150 buah yang berasal dari tiga pohon chupa-chupa di taman kota Belém, di delta sungai Amazon,  utara Brasil.

    Chupa-chupa baru masuk ke Indonesia tahun 2009. Greg Hambali, seorang pakar tumbuhan liar yang juga dikenal sebagai penyilang aneka tanaman hias; membawa biji chupa-chupa langsung dari Peru. Di jalan, biji itu sudah berkecambah, hingga sesampai di kebunnya di Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat, chupa-chupa itu langsung ditanamnya. Karena berasal dari biji, karakter 12 pohon chupa-chupa itu beragam. Salah satunya justru tumbuh dengan batang lurus meninggi, dan baru bercabang pada ketinggian sekitar tiga meter. Beberapa benih tanaman ia bawa ke Taman Wisata Mekarsari di Cileungsi, Kabupaten Bogor.

    Tahun 2013 yang lalu, chupa-chupa di kebun Greg Hambali berbunga, dan awal tahun 2014 ini buah mulai bermasakan. Ini berarti hanya dalam waktu kurang dari lima tahun, chupa-chupa berhasil berbuah di kota Bogor. Dengan umur sama, yang di Taman Wisata Mekarsari, belum berbuah. Ini wajar, mengingat di Florida chupa-chupa baru berbuah untuk pertamakalinya setelah 12 tahun. Ada kemungkinan, faktor lingkunganlah yang mengakibatkan chupa-chupa di kebun Greg Hambali bisa cepat berbuah. Kebun di Baranangsiang itu dilewati parit, dan penuh dengan aneka tanaman tropis, terutama palem.

    # # #

    Suasana yang mirip dengan hutan hujan tropika basah di Amazon itu, kemungkinan besar telah mendorong chupa-chupa cepat berbuah di Kota Bogor. Satu pohon yang dekat dengan aliran air tumbuh sangat subur, dengan tinggi dan lebar tajuk hampir dua kali lipat dari pohon lain. Buah dari pohon ini juga lebih lebat, dan lebih besar dari pohon lain. Chupa-chupa tergolong sebagai buah klimaterik, yang bisa dipetik ketika mencapai tahap ketuaan tertentu, dan bisa dibiarkan sampai masak. Tanda buah mulai masak, tampak lingkaran kulit yang lebih terang pada batas melekatnya tangkai buah. Pada saat itulah buah bisa dipetik.

    Chupa-chupa dikupas dengan melepas tangkai buah, lalu kulit dipotong membujur menjadi empat, dan langsung dibuka. Cara lain, dengan memotong melintang di bagian tengah buah, lalu salah satu bagian ditarik. Daging buah yang dikonsumsi berupa pulp yang mengitari biji, dan yang tersisa menempel pada kulit. Rasa chupa-chupa manis, dengan aroma sangat khas. Greg Hambali melukiskan rasa chupa-chupa merupakan gabungan antara rasa melon dengan rasa mangga. Mungkin karena panen perdana chupa-chupa ini bertepatan dengan puncak musim penghujan, maka rasa buah itu relatif tawar.

    Yang menarik, warna daging buah itu oranye cerah. Ini menandakan kandungan kareoten yang cukup tinggi. Dalam tiap 100 gram daging buah, terkandung karoten    1,056 mg; thiamine  0,031 mg; riboflavin 0,023 mg; dan niacin 0,33 mg. Sama dengan buah alkesa (Pouteria campechiana), yang juga berasal dari Amerika Latin, tampaknya chupa-chupa sulit untuk dikembangkan sebagai buah meja. Yang potensial justru sebagai buah industri. Baik untuk jus, jelly, jam, maupun es krim. Namun yang paling bisa diharapkan, pohon chupa-chupa ini bisa menjadi alternatif peneduh di taman kota, dan terutama di taman bermain anak-anak. # # #

    Artikel pernah dimuat di Majalah Flona

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *