• MASA DEPAN BISNIS KOPI INDONESIA

    by  • 23/10/2014 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Bulan Juni sampai dengan September nanti, sentra-sentra kopi di Indonesia akan panen.
    Menurut The International Coffee Organization (ICO), produksi kopi Indonesia tahun 2012 mencapai 11.250.000 bags (673.875 ton, 1 bags = 59,9 kg).

    Produksi kopi Indonesia tahun 2012 sebesar 11.250.000 bags tersebut, naik dibanding produksi tahun 2011 yang hanya 8.620.000 bags, dan tahun 2010 sebesar 9.129.000 bags. Namun demikian, dibanding produksi tahun 2009 yang mencapai 11.380.000 bags, produksi kopi Indonesia tahun 2012 turun. Indonesia saat ini tercatat sebagai salah satu dari lima besar penghasil kopi dunia: 1. Brasil, 2. Vietnam, 3. Indonesia, 4. Ethiopia, 5. Kolombia. Vietnam terhitung pendatang baru sebagai penghasil kopi dunia. Baru pada tahun 1990 negeri ini tercatat dalam 20 besar penghasil kopi dunia, pada urutan ke 18. Tahun 1991 Vietnam naik ke urutan 16, 1992 dan 1993 naik ke urutan 13, 1994 naik lagi ke urutan 10, 1995 ke urutan 6, 1996 terus ke urutan 5 (masuk lima besar penghasil kopi dunia).

    kopi-2a

    Selanjutnya tahun 1997 dan 1998 Vietnam naik lagi ke posisi nomor 4. Kemudian sejak tahun 1999 sampai sekarang, negeri ini berada di posisi nomor dua setelah Brasil. Kalau sebelumnya Kolombia selalu berada di posisi kedua setelah Brasil, berubah menjadi posisi ketiga. Indonesia yang sebelumnya selalu nomor tiga, berubah ke nomor empat. Tahun 2008, posisi penghasil kopi nomor tiga dunia, bergeser dari Kolombia ke Indonesia, sampai sekarang. Tahun 2012 kemarin, posisi Kolombia bahkan tergusur ke urutan 5, sementara Ethiopia, negeri tempat asal-usul kopi, naik ke posisi nomor empat. Pada zaman penjajahan Belanda, Indonesia yang waktu itu bernama Hindia Belanda, merupakan penghasil kopi utama dunia. Pada abad 18, Jawa merupakan penghasil kopi arabika terbesar dan terbaik dunia.

    # # #

    Sedemikian terkenalnya kopi arabika jawa di Eropa, hingga waktu itu kopi identik dengan Jawa. Sampai sekarang di Eropa Utara (Norwegia, Swedia, Finlandia, Denmark, Islandia), sebutan untuk minum kopi adalah “minum java”. Konsumsi kopi lima negeri ini, ditambah Belanda, saat ini berada pada ranking tertinggi dunia, yakni di atas 8 kg per kapita per tahun. Enam negeri ini, sama sekali tidak menghasilkan kopi. Sementara Indonesia sebagai penghasil kopi nomor tiga terbesar di dunia, hanya tercatat sebagai konsumen kopi pada ranking 101 dunia, dengan tingkat konsumsi 0,5 kg, per kapita per tahun. Posisi ini di bawah Thailand (ranking 100, 0,5 kg), Filipina (ranking 90, 0,7 kg); Malaysia (ranking 82, 0,9 kg), bahkan dengan Laos (ranking 63, 1,4 kg). Masyarakat Jepang, yang merupakan peminum teh fanatik (ranking 24, 0,99 kg); sekarang juga sudah merupakan peminum kopi hebat, pada ranking 39, dengan tingkat konsumsi 3,3 kg per kapita per tahun.

    Masa kejayaan kopi arabika jawa, berakhir abad 19. Ketika itu penyakit karat daun menghancurkan perkebunan kopi arabika (Coffea arabica) di Jawa. Bersamaan dengan itu diketemukanlah spesies kopi robusta (Coffea canephora) yang lebih produktif dan tahan penyakit karat daun. Sampai sekarang, Indonesia lebih banyak menghasilkan kopi robusta, sementara kopi arabika hanya tersisa di dataran tinggi. Sentra kopi arabika Indonesia adalah: Takengon (Aceh), Sidikalang (Sumetara Utara), Pagaralam (Sumatera Selatan), Liwa (Lampung), Ungaran (PTPN IX, Jawa Tengah), Ijen (PTPN XII, Jawa Timur), Toraja (Sulawesi Selatan), Manggarai (Flores, NTT), dan Wamena (Papua).

    kopi-3a

    Selain robusta dan arabika, Indonesia juga menghasilkan kopi liberika (Coffea liberica), dalam volume terbatas. Karena produktivitasnya paling besar, dengan areal penanaman paling luas, maka harga kopi robusta paling rendah. Jadi, meskipun Indonesia berada di posisi nomor 3 penghasil kopi dunia, namun yang kita hasilkan lebih banyak kopi robusta, yang harganya lebih rendah dari arabika. Sementara lima besar negeri penghasil kopi dunia, lebih banyak menanam kopi arabika. Kopi robusta menghasilkan rasa pahit, dengan kafein tinggi. Kopi arabika menghasilkan aroma paling harum, dengan kafein rendah, namun ada rasa masamnya. Kopi liberika yang bertajuk serta berdaun besar, produktivitasnya paling rendah. Kopi liberika menghasilkan aroma harum, rasa pahit dan kadar kafein di antara robusta dengan arabika. Klon dan varietas kopi yang dibudidayakan sekarang, umumnya merupakan hibrida dari berbagai spesies kopi.

    # # #

    Dengan populasi penduduk sekitar 230 juta jiwa, Indonesia sebenarnya merupakan pasar kopi potensial, meski dengan tingkat konsumsi yang masih sangat rendah. Munculnya warung dan kafe kopi dengan berbagai variasi, dengan berbagai strata, menunjukkan bahwa masa depan bisnis kopi di Indonesia cukup baik. Sebab selain dikonsumsi oleh rumah tangga, sebagian besar produk kopi diserap oleh warung dan kafe kopi. Produksi dan konsumsi kopi masih akan terus tumbuh, sebab sebagai minuman kopi masih tergolong muda. Tumbuhan ini endemik Tanduk Afrika (Somalia, Ethiopia, Erytrea). Menurut legenda, kopi dikenal sebagai minuman karena ada sekawanan kambing jantan yang agresif mengejar-ngejar betina, setelah memakan ranting kopi berikut daun dan buahnya.

    Legenda lain menyebutkan bahwa sekelompok kafilah yang tengah beritirahat, membuat api unggun. Di antara kayu yang dibakar, terdapatlah ranting kopi tua berikut bijinya. Para kalifah itu mencium bau harum, dan kemudian mereka mencicipi biji yang telah hangus itu. Ternyata rasanya pahit sekali, hingga mereka buru-buru minum air tawar. Tak mereka sangka, tubuh yang letih dan mata ngantuk segera hilang. Legenda ini lebih masuk akal, dibanding kambing yang makan daun dan buah kopi. Setelah dikenal sebagai minuman di Tanduk Afrika, kopi menyebar ke Jazirah Arab pada abad 13. Dari arab kopi masuk Eropa melalui Turki, yang waktu itu berupa Kasultanan (Kekalifahan) Seljuk. Di Turki inilah pertamakali dibuka “tempat minum kopi” pertama di dunia. Pada abad 14, kebiasaan minum kopi sudah menyebar ke seluruh Eropa. Eksplorasi bangsa Eropa ke “dunia baru” pada abad 15 dan 16, ikut pula menyebarkan tanaman kopi ke seluruh kawasan tropis dunia, termasuk ke Indonesia.

    Meski pernah dihancurkan oleh penyakit karat daun, sentra kopi arabika Indonesia terus tumbuh. Yang paling belakangan di Wamena, Papua. Aslinya, kopi arabika merupakan tanaman gurun yang perlu udara kering dan panas. Wamena dan sekitarnya dikenal bersuhu sangat dingin, berketinggian di atas 3.000 m. dpl. Di kawasan ini kopi arabika tumbuh kerdil, tetapi menghasilkan citarasa kopi kualitas terbaik. Indonesia masih punya cukup banyak kawasan pegunungan, dengan ketinggian di atas 1.000 m. dpl, yang cocok untuk pengembangan kopi arabika. Hanya di kawasan pegununganlah penyakit karat daun tidak akan menyerang. Vietnam bisa membudidayakan kopi arabika pada ketinggian 300 m. dpl, karena posisinya sudah berada

    antara 10o – 20o lintang utara, udara yang cukup kering. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *