BERKAH DARI BUAH NANAS
by indrihr • 09/12/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Kebun nanas PT Great Giant Peanapple (GGP) di Lampung, tak pernah bermimpi bahwa perusahaannya akan melahirkan PT Great Giant Livestock (GGL), perusahaan penggemukan sapi (Feedlot) terbesar di Indonesia.
Nanas merupakan buah dengan harga murah, yang tidak bisa dikonsumsi secara langsung seperti pisang, apel, atau jeruk. Sebelum dikonsumsi, nanas harus terlebih dahulu dikupas, kemudian dihilangkan “matanya” yang bisa membuat mulut gatal-gatal. Buah nanas yang telah terkupas dan hilang matanya itu kemudian harus dipotong-potong, baru bisa disantap. Dibanding semangka dan melon yang juga perlu dikupas serta dipotong-potong, nanas lebih rumit penanganannya, kerena kulitnya kasar, kadang berduri, dan ada “mata” yang harus dihilangkan. Maka nanas sebagai buah meja, tidak bisa
dengan cepat berkembang.
Lain halnya dengan pengembangan nanas sebagai “industri buah” berupa konsentrat dan nanas dalam kaleng. Tak ada buah yang tingkat keseragamannya bisa diatur secara sangat baik seperti nanas. Jeruk, semangka, pisang, apel, tak bisa dipaksa berbuah serentak seperti nanas. Ketika nanas sudah berdaun antara 20 sampai 30 pucuk, atau pada umur sekitar enam bulan, pada pagi atau sore hari titik tumbuh diberi kalsium karbit, ethrel, atau hormon akar seperti IAA, IBA dan NAA. Dengan cara ini nanas di kebun tersebut akan berbunga serentak, yang dampaknya juga bisa dipanen serentak.
Dengan cara ini, pabrik konsentrat dan nanas dalam kaleng akan selalu mendapat pasokan buah untuk diolah secara rutin sepanjang tahun. Dengan catatan, pabrik ini punya kebun nanas sendiri, yang bisa diatur jadwal pembuahannya. Dengan mengandalkan nanas rakyat, pabrik nanas akan terancam menjadi besi tua. Ini telah terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau; Kabupaten Subang, Jawa barat; dan Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Keuntungan terbesar kebun nanas, bukan dari agroindustri pengolahan nanas, melainkan dari pabrik kaleng. Sebab nilai nanas hanya 40%, sementara nilai kaleng 60%.
# # #
Awalnya pada tahun 1977 di Kabupaten Lampung Tengah ini berdiri PT Umas Jaya Agrotama yang punya kebun singkong seluas 10 ribu hektar lengkap dengan pabrik tapiokanya. Lahan yang ditanami singkong terus-menerus akan menjadi kurus, dan produktivitas menurun. Dari hasil kunjungan ke Thailand, singkong harus dirotasi dengan nanas. Maka pada tahun 1979, berdirilah PT Great Giant Peanapple (GGP), yang membudidayakan dan mengolah nanas menjadi konsentrat serta nanas dalam kaleng. Pabrik nanas dan singkong akan menghasilkan limbah berupa kulit dan hati nanas, serta ampas singkong (onggok).
Dua jenis limbah ini, awalnya menjadi masalah tersendiri, karena sulit penanganannya.
Timbullah ide untuk memanfaatkan limbah nanas dan limbah singkong ini, sebagai pakan sapi. Maka pada tahun 1990 dibentuklah PT Great Giant Livestock (GGL), perusahaan penggemukan sapi (Feedlot) dengan kapasitas penggemukan 100.000 sapi impor per tahun. Sekarang PT GGL juga memanfaatkan sapi lokal, dan merupakan perusahaan feedlot terbesar sekaligus terefisien se-Indonesia. Sebab sumber pakan utama penggemukan sapi berupa limbah nanas dan onggok, sudah ada di lokasi peternakan.
Dalam agroindustri feedlot, modal terbesar akan terserap untuk membeli sapi bakalan. Modal terbesar kedua untuk biaya pakan, yang akan mencapai sekitar 70% dari total biaya produksi. Dari 70% biaya pakan itu di atas 50% akan merupakan biaya transportasi (ongkos angkut) pakan, dari lokasi sumber menuju kandang. Di sinilah PT GGL unggul dibanding perusahaan feedlot lain, yang harus mendatangkan onggok, dedak, dan bahan pakan lain dari lokasi yang cukup jauh menuju ke kandang. Sebab lokasi pabrik nanas, dan pabrik singkong, berdekatan dengan kandang sapi.
Sebagai komoditas yang murah meriah, nilai nominal keuntungan nanas dan singkong sangat rendah. Harga nanas dan singkong di lahan di bawah Rp 3000 per kg. Meskipun dari sisi persentase cukup tinggi, yakni bisa mencapai 100% dari modal per tahun. Bisnis feedlot kebalikan dari nanas dan sapi. Dari sisi persentase sangat rendah, yakni 20% per tiga tahun, tetapi nilai nominalnya tinggi. Harga per kg. sapi hidup Rp 35.000 (impor) dan Rp 37.000 (lokal). Dengan adanya penghematan biaya pakan, maka PT GGL persentase keuntungan PT GGL paling sedikit bisa dua kali lipat dari feedlot lain.
# # #
Nanas (Ananas comosus), dan singkong (Manihot esculenta) merupakan tumbuhan asli Amerika Latin. Masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Eropa pada abad 17. Namun pengembangannya secara besar-besaran baru dimulai tahun 1970/1980an. Terutama setelah Hawaii dan Taiwan, yang selama ini dikenal sebagai produsen konsentrat dan nanas kalengan mulai mengalihkan perhatiannya ke industri pariwisata. Peluang ini mulai ditangkap oleh negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Filipina dan Thailand sudah sejak lebih awal memulai agroindustri nanas mereka. Indonesia menyusul belakangan.
Ada dua varietas nanas, yakni Cayenne untuk industri dan Queen untuk buah meja. Nanas subang dan kediri merupakan varietas Cayenne, nanas bogor dan palembang varietas Queen. Daun nanas Cayenne panjang-panjang dan halus dengan duri relatif sedikit. Hingga bisa disebut daun nanas Cayenne tidak berduri. Buah nanas Cayenne berukuran besar, dengan permukaan kulit buah halus berwarna hijau tua kecokelatan, berjambul pendek. Tangkai buah Cayenne banyak ditumbuhi tunas, daging buah berserat tetapi lunak, rasa masam dan berair banyak, produktifitas tinggi.
Daun varietas Queen pendek, lebih lebar, berduri tajam. Buah lebih kecil dari Cayenne dan bertangkai panjang. Pada pangkal buah tidak banyak tumbuh tunas. Buah nanas Queen juga berduri dan kasar. Warna kulit buah kuning cerah setelah masak. Jambul tegak dan memanjang ke atas dengan tangkai yang melebar. Nanas bogor dan palembang sebenarnya sama-sama varietas Queen. Namun nanas bogor berukuran kecil-kecil sementara nanas palembang bisa berukuran besar. Kualitas daging buah nanas palembang juga lebih baik. Varietas Queen yang tumbuh di Sumatera Selatan merupakan nanas buah bermutu paling baik di Indonesia.
Saat ini sudah banyak berkembang sub-sub varietas untuk agroklimat khusus. Misalnya, GGP telah mengembangkan sub-sub varietas yang cocok untuk kawasan Lampung Tengah. Daya adaptasi nanas memang luarbiasa. Di kawasan pasang surut dengan tingkat kamasaman tanah sangat tinggi (pH 4,5). Tanaman padi dan palawija tidak bisa hidup. Demikian pula dengan tanaman keras seperti karet. Ternyata nanas Cayenne dapat tumbuh baik dengan produktifitas tinggi dan kualitas buah cukup bagus. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

