• PELUANG BUDI DAYA ANGGUR

    by  • 15/12/2014 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), tahun 2011 (data mutakhir), Indonesia merupakan negara  pengimpor buah anggur ranking 11 dunia,  dengan volume 55.794 ton senilai 113,1 juta dollar AS atau Rp 1,01 triliun (2011 kurs 1 dollar AS Rp 9.000).    

    Apakah buah anggur tidak bisa dibudidayakan di Indonesia? Itulah pertanyaan yang beberapa abad silam diajukan oleh Bangsa Belanda yang menjajah Bumi Nusantara kita. Maka mereka pun mengintroduksi beberapa varietas anggur. Jejak anggur varietas introduksi itu masih bisa kita jumpai di pulau Jawa. Di Klaten, Sukoharjo, dan Ambarawa di Jawa Tengah, masih bisa dijumpai para-para tanaman anggur Isabella di halaman rumah penduduk. Kecamatan Garokgak, dan Seririt, di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, sekarang dikenal sebagai sentra anggur hitam bali yang merupakan pengembangan varietas Alphonse Lavalle.

    anggur-a

    Sejak tahun 1990an di Kota Kediri, Jawa Timur juga berkembang anggur Kediri Kuning, atau  Belgia Hijau, yang merupakan pengembangan varietas Muscat of Alexandria. Varietas Kediri Kuning kemudian juga berkembang di Garokgak dan Seririt. Tetapi, produksi anggur di sentra-sentra tersebut masih sangat kecil, hingga Indonesia tidak masuk ke daftar 20 negara penghasil anggur utama dunia versi FAO. Inilah 10 besar penghasil anggur dunia tahun 2012 (dalam satuan ton): 1. RRT  5.487.523; 2. AS 3.808.009; 3. Italia 3.326.245; 4. Perancis 3.051.584; 5. Spanyol 2.994.301; 6. Turki 2.444.039; 7. Chile 1.829.174; 8. Argentina 1.600.527; 9. Iran 1.228.976; dan 10. Afrika Selatan 1.051.220.

    Di pasar dunia, dibedakan antara buah anggur (grapes), dengan anggur untuk bahan minuman (wine grapes). Anggur untuk buah meja berkulit renyah, berkadar air banyak. Anggur wine berkulit liat, dengan kadar air rendah (kadar gula tinggi). Selain itu ada pula anggur yang bisa untuk buah meja, tetapi juga bisa diolah sebagai wine. Anggur bali yang sebelumnya dikenal sebagai anggur probolinggo, sebenarnya merupakan varietas Alphonse Lavalee untuk wine, bukan sebagai buah meja. Isabella dan Kediri Kuning merupakan anggur buah yang juga bisa diolah sebagai wine.

    # # #

    Di Kebun Percobaan (KP) Banjarsari, Tongas, Probolinggo, Jatim, terkoleksi sebanyak 42 asesi dan 7 di antaranya telah dilepas sebagai varietas anggur unggul oleh Menteri Pertanian RI. Secara struktural, KP Banjarsari berada di bawah Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Tlekung, Kota Batu, Jawa Timur. Tujuh anggur unggul tersebut adalah: Probolinggo Biru-81, Bali, Kediri Kuning, Probolinggo Super, Prabu Bestari, Jestro Ag60 dan Jestro Ag86. Dari tujuh varietas anggur unggul tersebut, yang sudah memasyarakat Probolinggo Biru-81, Bali, Kediri Kuning, dan Probolinggo Super.

    anggur-1a

    Jangan keliru, yang disebut Probolinggo Biru, bukan berkulit buah biru, melainkan hijau. Dalam Bahasa Madura, hijau disebut biru. Tetapi, Probolinggo Biru-81 justru berkulit buah merah. Hingga rincian warna tujuh kultivar anggur  tersebut Probolinggo Biru-81 (merah), Bali (hitam), Kediri Kuning (hijau kekuningan), Probolinggo Super (merah), Prabu Bestari (merah), Jestro Ag60 (merah kehitaman) dan Jestro Ag86 (hijau). Dari segi warna, Probolinggo Biru-81, Probolinggo Super, dan Prabu Bestari berpenampilan paling menarik, dengan warna kulit buahnya yang merah, atau merah kehitaman.

    Induk Probolinggo Biru-81 tidak ketahuan. Probolinggo Super berindukkan varietas Cardinal dari California, AS, dan Prabu Bestari merupakan seleksi dari anggur red prince yang diintroduksi dari Australia. Namun ada juga yang meragukan asal-usul Prabu Bestari. Sebab dalam ensiklopedi anggur dunia, tidak diketemukan nama anggur red prince. Yang ada justru Black Prince. Red Prince sendiri bukan merupakan nama kultivar anggur, melainkan apel. Meskipun disebut black prince, warna anggur nenek moyang Prabu Bestari ini justru merah, bukan hitam. Nama anggur black prince, mengacu pada tiga jenis kultivar anggur, yakni Cinsaut, dari Perancis; Schiava Grossa, dari Italia; dan Rose of Peru, dari Afrika Selatan.

    Meskipun sudah mulai dikembangkan di  Probolinggo, populasi Probolinggo Biru-81, Probolinggo Super, dan Prabu Bestari masih kalah dibanding varietas Isabella yang banyak ditanam di kota-kota di Jawa. Anehnya, Isabella  justru tidak termasuk yang dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai varietas unggul. Varietas kuno yang diintroduksi oleh pemerintah Belanda ini diketemukan oleh Isabella Gibbs dari South Carolina, AS, pada tahun 1816. Induknya merupakan spesies Vitis vinivera, yang didatangkan dari Eropa. Isabella paling banyak dijumpai ditanam di halaman rumah penduduk di Jawa, karena varietas ini sangat adaptiv dengan berbagai varian agroklimat.

    # # #

    Anggur menghendaki agroklimat kering, dengan suhu udara terendah 20° C, curah hujan kurang dari 1.500 mm per tahun, dan kelembapan di bawah 70%. Meskipun menghendaki agroklimat kering, anggur tetap memerlukan air. Hingga budi daya anggur memerlukan lahan dengan air tahan dangkal (paling dalam 1,5 m), atau lahan berpengairan teknis. Kawasan Mesopotamia, di lembah sungai Tigris dan Euphrat (sekarang Irak), sebagai tempat asal-usul anggur, merupakan kawasan kering, tetapi dengan air melimpah. Demikian pula dengan Delta Sungai Nil di Mesir Kuno yang merupakan penghasil anggur kedua setelah Mesopotamia.

    Hingga kawasan pengembangan anggur di Indonesia bukan hanya sebatas di Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo (Jatim) dan Kabupaten Buleleng (Bali), melainkan juga di sepanjang Pantura Pulau Jawa, Bali, Lombok Tenggara, dan pantai utara pulau-pulau di NTT (Sumba, Flores, Timor). Kabupaten Karawang di Jawa Barat, sebenarnya berpotensi sebagai sentra pengembangan anggur. Meski hasilnya tak akan sebaik dari Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo di Jatim, tetapi Karawang lebih unggul karena dekat dengan DKI Jakarta sebagai pasar utama buah anggur di Indonesia.

    Selama ini masyarakat mengeluhkan kualitas anggur lokal kita. Yang dimaksud dengan anggur lokal, pasti varietas Bali yang dibudidayakan di Garokgak dan Seririt. Hal ini bisa dimaklumi, sebab anggur Bali bukan anggur buah, melainkan anggur wine. Selama ini anggur Bali diserap oleh industri minuman anggur Hatten Wine. Sisanya didistribusikan ke Jakarta dan kota-kota lain di Jawa sebagai “anggur buah” yang masam. Sebenarnya anggur Bali pun akan manis, apabila dipetik pada umur 110 hari setelah pangkas. Tetapi, pedagang sering memetik anggur mereka pada umur 90 hari hingga berasa masam. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *