BISNIS BUNGA SEDAP MALAM
by indrihr • 08/01/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Lebaran 2014 ini, akan makin banyak bunga sedap malam di ruang tamu keluarga Indonesia. Di sawah sekitar Bandungan, Kabupaten Semarang, dan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tampak hamparan bunga sedap malam siap panen.
Padahal, Bandungan, terlebih Grabag, bukan termasuk sentra sedap malam utama. Di Indonesia, sentra utama sedap malam (Polianthes tuberosa) varietas Roro Anteng (berbunga semi ganda), berada di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sedangkan sedap malam varietas Dian Arum (berbunga ganda), berada di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sedap malam berbunga tunggal dataran rendah, Roro Anteng merupakan pengembangan dari sedap malam dataran rendah, berbunga tunggal. Varietas ini tak disukai masyarakat, karena tangkai bunganya pendek, dan kuntum bunganya berukuran kecil. Sementara Roro Anteng bertangkai lebih panjang, dengan ukuran bunga lebih besar.
Roro Anteng merupakan hasil pemuliaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sedap malam Roro Anteng, berwarna 100% putih, karena masih mewarisi sedap malam tunggal sebagai induknya. Dian Arum dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Segunung, bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dian Arum berindukkan sedap malam berbunga ganda dari Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang kuncup bunganya berwarna krem, dengan tangkai lebih panjang dan kuntum bunga lebih besar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi sedap malam nasional tahun 2012 sebanyak 101 juta tangkai. Tahun 2013 naik menjadi 104 juta tangkai. Diperkirakan, tahun 2014 ini produksi sedam malam akan naik lagi. Sementara produksi krisan nasional tahun 2012 sebesar 397,6 juta tangkai, pada tahun 2013 turun menjadi 383,9 juta tangkai. Naiknya produksi sedap malam dan turunnya produksi krisan, disebabkan oleh beberapa faktor. Terutama karena masyarakat Indonesia cenderung lebih suka sedap malam, yang beraroma harum, sedangkan krisan sama sekali tak beraroma.
# # #
Sedap malam juga relatif lebih mudah dan lebih murah dibudidayakan. Krisan harus dibudidayakan dalam sungkup atau bedeng plastik, dan perlu dibantu lampu untuk memperpendek dan memperkuat tangkai bunga. Harga benih krisan hasil kultur jaringan juga cukup tinggi, karena nurseri Indonesia harus membayar royalti ke penghasil benih induk di Aalsmeer, Negeri Belanda. Benih krisan stek pucuk produksi petani, akan menghasilkan bunga yang terus menurun kualitasnya. Sedap malam tak memerlukan rumah plastik, dan lampu. Bunga sedap malam dari benih umbi produksi petani, tetap berkualitas sama dengan benih dari BPTP dan Balithi.
Pada akhirnya, petani akan menghitung untung rugi. Menanam krisan perlu biaya tinggi, sementara pasarnya kalangan menengah ke atas. Biaya tanam sedap malam lebih rendah, dengan pasar masyarakat kelas bawah. Yang menjadi kendala, masyarakat kelas bawah belum punya tradisi mengonsumsi bunga sekuat masyarakat kelas menengah ke atas. Bunga bagi masyarakat kelas bawah, masih merupakan perangkat ritual adat, sebagai sesaji, ziarah makam, atau hiasan pada hari Idul Fitri. Karenanya, para petani akan mempersiapkan, agar tanaman sedap malam mereka bisa berbunga serentak menjelang hari Idul Fitri.
Petani akan menanam sedap malam, tepat lima bulan menjelang idul fitri. Hingga pas menjelang puasa sampai hari raya, bunga bisa dipanen. Karena lebaran tahun 2014 ini jatuh pada akhir Juli, para petani sudah menanam sedap malam sejak akhir Februari, atau awal Maret. Umur tanaman sedap malam mencapai dua tahun. Areal sedap malam tanaman bulan Februari 2014, setelah dipanen pada bulan Juli 2014, harus kembali diberi pupuk kandang 5 sampai 10 ton (4 – 5 truk besar) per hektar, dan NPK sebanyak 300 kg. Tanaman ini akan kembali menghasilkan bunga sekitar Natal dan Tahun Baru, saat masyarakat memerlukan bunga.
Setelah dipanen sekitar Natal dan Tahun Baru, tanaman kembali dipupuk hingga Idul Fitri 2015 akan kembali berbunga. Setelah itu tanaman dibongkar, umbi dibersihkan dan dibiarkan terjemur di lahan selama dua minggu. Setelah itu umbi disimpan di tempat teduh untuk ditanam pada bulan Januari 2016, agar bisa dipanen pada Idul Fitri 2016, Natal dan Tahun Baru, serta Idul Fitri 2017. Benih hasil bongkaran tahun 2015, akan bisa ditanam pada areal dengan luas tiga kali lipat. Hingga produksi bunga sedap malam, seharusnya bisa mengejar produksi krisan nasional.
# # #
Namun yang terjadi pada petani selama ini, tanaman sedap malam umur lebih dari dua tahun, tetap dibiarkan menghasilkan bunga. Padahal kualitas dan kuantitas produksi di atas umur dua tahun, akan terus menurun. Hanya sebagian kecil petani sedap malam mau membongkar tanaman mereka setelah dua tahun produksi, dan memanfaatkan panen umbi sebagai benih untuk budi daya pada tahun berikutnya. Dengan dosis pupuk kandang 10 ton dan NPK 300 kg, tiap hektar lahan akan menghasilkan 750.000 tangkai bunga. Apabila tanaman hanya diberi 5 ton pupuk kandang dan 100 kg NPK produksi akan turun tinggal 300 – 400 tangkai bunga.
Kadang para petani juga salah memilih benih. Sedap malam hanya cocok dibudidayakan di dataran rendah sampai menengah. Lahan dataran tinggi tak cocok untuk sedap malam. Dian Arum hanya cocok dibudidayakan di dataran menengah, antara 400 – 800 meter dpl. Di dataran rendah atau tinggi kualitas bunga Dian Arum makin baik, tetapi produktivitasnya tak bisa optimal. Sebaliknya Roro Anteng hanya bisa dibudidayakan di dataran rendah. Di dataran menengah, tangkai Roro Anteng akan memanjang dan lentur, dengan bunga jarang. Semua varietas sedap malam menghendaki sinar matahari penuh selama 12 jam sepanjang tahun.
Aroma wangi sedap malam, yang disukai masyarakat lapis bawah; justru jadi kendala untuk kelas menengah dan atas. Di kalangan masyarakat ini, aroma wangi sedap malam yang sangat tajam justru dianggap mengganggu. Beda dengan aroma melati yang lembut. Oleh masyarakat memengah dan atas, sedap malam juga dianggap kurang menarik karena warnanya hanya putih. Sementara krisan mampu menghadirkan variasi warna. Apabila budaya sesaji dan ziarah di kalangan masyarakat bawah bisa diadopsi menjadi memasang bunga setiap hari di rumah, suatu saat nanti produksi sedap malam Indonesia akan melampaui krisan. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

