• PROSPEK BISNIS BUNGA

    by  • 19/01/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Bunga bukan kebutuhan pokok masyarakat, dan hanya diperlukan secara rutin oleh masyarakat atas. Hotel yang memasang bunga segar tiap hari, hanyalah hotel bintang 3 ke atas. Masyarakat menengah ke bawah, hanya perlu bunga pada saat-saat tertentu.

    Secara rutin bunga diperlukan pada hari raya: Lebaran, Natal, Tahun Baru, dan Imlek. Pada tahun 1980 dan 1990an, tiap bulan Agustus juga ada pawai bunga. Sekarang pawai bunga agustusan tak ada lagi. Selain dikonsumsi pada hari raya, bunga juga diperlukan pada hari-hari penting kehidupan seseorang: kelahiran, ulang tahun, pernikahan, dan kematian. Event ini tak bisa diharapkan kapan akan terjadi. Akan tetapi bisa diprediksi, bahwa pada bulan Muharam (Suro), hajatan pernikahan akan berkurang. Sebab penduduk Indonesia didominasi etnis Jawa, yang pantang punya hajat pada bulan Suro. Meski tak bisa diprediksi oleh petani, hajatan masih online pharmacy reviews direncanakan jauh hari oleh si empunya hajat, hingga bunga yang diperlukan bisa dipesan jauh hari.

    gerbera-1a

    Yang benar-benar sulit diprediksi, apabila ada tokoh meninggal. Ketika sentra bunga masih terbatas di Bandungan, Kabupaten Semarang, petani sering kerepotan ketika malam-malam datang pedagang pesan bunga, yang harus dipanen malam itu juga. Biasanya petani langsung tanya: “Siapa yang meninggal?” Meski repot, pesanan demikian tetap menyenangkan para petani. Yang tak menyenangkan kalau sudah http://pharmacyonline-incanada.com/ tiba saat panen, tak ada pesanan bunga, dan ketika dibawa ke pasar online pharmacy school pun hanya ditawar dengan harga di bawah harga pokok. Sebelum tahun 1980an, pasar bunga nasional didominasi oleh sedap malam, aster, how to get viagra gladiol, garbera dan dahlia. Lily dan krisan hanya dihasilkan oleh para petani bunga Bandungan dalam volume sangat terbatas, dan berharga sangat tinggi.

    # # #

    Saat ini, krisan justru merupakan bunga yang paling banyak diproduksi oleh petani Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik, produksi krisan nasional Indonesia tahun 2012 mencapai 397,6 juta tangkai. Peringkat dua sedap malam dengan produksi 101,1 juta tangkai; peringkat tiga mawar dengan produksi 68,6 juta tangkai, dan keempat anggrek dengan produksi 10,6 juta tangkai. Padahal tahun 1997 produksi krisan nasional baru 10 juta tangkai, sedap malam 10,4 juta tangkai, dan anggrek 6,5 juta tangkai. Waktu itu mawar justru berada pada peringkat tertinggi dengan produksi mencapai 123,4 juta tangkai. Berarti selama 15 tahun terakhir, produksi krisan nasional naik sebesar 3.876%, sedap malam 872,1%, anggrek 60%, dan mawar justru turun 79,%.

    gladiol-a

    Produksi mawar nasional turun karena Hasfarm, produsesn mawar utama Indonesia memindahkan kebun mereka dari Goalpara, Cianjur, Jawa Barat ke Vietnam. Produksi mawar nasional tertolong oleh pendatang baru Nirmala Rose, di Gunung Halimun, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Akibat krisis ekonomi, dan tingginya kurs dollar AS terhadap rupiah, produksi krisan nasional tahun 1999 pernah anjlok tinggal 1,4 juta tangkai, sedap malam 9,3 juta tangkai, mawar 33,5 juta tangkai, dan anggrek 3,2 juta tangkai. Tahun 1999 merupakan titik terendah produksi bunga nasional. Tahun 2000 dan selanjutnya, produksi bunga nasional kembali naik. Yang menarik, produksi melati nasional tahun 1997 yang hanya 7.584 ton, justru naik menjadi 25.052 ton (1998), 13,4 ton (1999), dan 15,1 ton (2000).

    Kenaikan produksi melati ini akibat tingginya permintaan dari Thailand dan Taiwan, disebabkan oleh naiknya kurs dollarAS terhadap rupiah. Tahun 1997 kurs 1 dollar AS Rp 2.400, menjadi Rp 16.000 pada tahun 1999, hingga harga melati Indonesia menjadi sangat murah di pasar internasional. Sebenarnya krisan sudah dibudidayakan di Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sejak zaman Hindia Belanda. Waktu itu yang dibudidayakan masih krisan tunggal, dengan warna putih dan kuning polos. Sampai dengan awal tahun 1980an, krisan tunggal putih dan kuning polos masih merupakan bunga dengan harga tertinggi di Indonesia, mengalahkan lily yang juga dibudidayakan secara tradisional di sela-sela mawar tabur, singkong dan keladi di Bandungan. Tingginya harga bunga krisan pada waktu itu, disebabkan oleh faktor budi daya.

    # # #

    Waktu itu krisan juga harus dibudidayakan di bawah naungan bedeng beratapkan jerami. Dosis pupuk kandangnya ekstra tinggi, agar krisan tumbuh subur. Setiap hari petani harus mengontrol tanaman, dengan memetik tunas yang tumbuh, hingga dalam satu tanaman hanya akan keluar satu kuntum bunga. Dari sinilah muncul istilah “krisan tunggal”. Meski tanpa bantuan lampu untuk menunda pembungaan hingga tangkai bunga kuat, krisan tunggal Bandungan tetap berkualitas baik, karena sudah ratusan tahun beradaptasi dengan agroklimat setempat. Budi daya krisan “spray” dalam pot, baru dimulai di Indonesia pada pertengahan tahun 1980an. Masuknya krisan spray diawali dengan kedatangan teknologi agroindustri florikultura dari Aalsmeer, Negeri Belanda ke Indonesia pada tahun 1984.

    gladiol-1a

    Waktu itu sebuah seminar florikultura internasional diselenggarakan di Hotel Borobudur Jakarta, dengan sponsor Rabobank. Sejak itu, agroindustri florikultura tumbuh di Cipanas, Kabupaten Cianjur, dan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Bersamaan dengan itu, tumbuh pula kelembagaan Yayasan Bunga Nusantara (YBN), Pusat Koperasi Bunga Indonesia (Puskobindo), dan Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo). Sampai dengan awal tahun 1990an budi daya krisan spray dalam pot hanya dilakukan secara massal dengan modal besar. Sejak tahun 2000an, pola budi daya krisan spray dalam pot bergeser ke para petani kecil, dalam sebuah sentra produksi. Selain itu agroindustri krisan spray dalam pot juga menyebar ke luar Jawa. Beda dengan budi daya krisan tunggal secara tradisional di Bandungan, krisan spray memerlukan bedeng (sungkup) plastik bening, dengan tambahan lampu untuk menunda pembungaan.

    Krisan, mawar, garbera, gladiol, merupakan bunga subtropis, hingga harus dilakukan di kawasan pegunungan, dengan ketinggian minimal 800 meter dpl. Belakangan juga mulai populer bunga anyelir (Dianthus), yang juga merupakan bunga sub tropis. Sedap malam yang dibudidayakan di Indonesia, ada dua varietas. Varietas bunga ganda (tumpuk) yang kelopak bunganya besar sedikit pink, merupakan bunga dataran tinggi yang banyak diproduksi di Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Sementara sedap malam tunggal yang berbunga putih dan berukuran lebih kecil, merupakan bunga dataran rendah yang banyak dibudidayakan di Bangil, Kabupaten Pasuruan. Sampai dengan tahun 1990an, pasar anggrek nasional masih didominasi oleh anggrek potong jenis Dendrobium. Belakangan selera konsumen naik ke anggrek bulan (Phalaenopsis) dalam pot. Saat ini tinggal Eka Karya di Cikampek yang masih eksis dalam agroindustri anggrek. Lainnya berguguran karena berbagai faktor. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *