PELUANG BUDI DAYA MELATI
by indrihr • 06/02/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Tahun 1980an, sentra budi daya melati hanya sebatas Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal di Jawa Tengah. Sejalan dengan kebutuhan bunga melati, budi daya komoditas ini merambat ke arah timur sampai Kabupaten Kendal.
Kalau kita jalan darat naik bus atau kereta api dari Jakarta ke Semarang, di sepanjang Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, sampai ke Kendal, akan tampak areal tanaman melati. Jenis yang dibudidayakan di kawasan ini melati biasa (Jasminum sambac). Selain melati biasa, di Indonesia juga dibudidayakan melati gambir (Jasminum officinale). Sentra budi daya melati gambir terdapat di Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, dan Purbalingga. Kalau melati biasa dibudidayakan di dataran rendah (ketinggian 0 m. sampai 300 m. dpl); melati gambir dibudidayakan di dataran menengah (300 – 600 m. dpl).
Melati yang dibudidayakan di sepanjang Pantura Jateng, jenis Jasminum sambac berbunga tunggal. Selain itu masih ada Jasminum sambac berbunga ganda (tumpuk) yang disebut melati menur. Produktivitas bunga dan tingkat keharuman melati menur, di bawah melati biasa. Tahun 1990an diintroduksi melati tumpuk Jasminum sambac “Grand Duke of Tuscany” yang berbunga lebih besar, dengan tumpukan mahkota lebih banyak. Melati menur maupun Grand Duke of Tuscany hanya dibudidayakan secara terbatas sebagai elemen taman, atau tanaman hias di halaman rumah. Bukan sebagai tanaman industri.
Selain melati biasa dan melati gambir, kadang-kadang di taman umum, halaman perkantoran atau rumah, juga bisa kita jumpai melati dengan bunga sangat lebat, bergerombol di satu tangkai. Daun melati jenis ini berbulu halus. Inilah melati Jasminum multiflorum, yang meskipun secara visual bunganya cukup menarik, tetapi sama sekali tak ada aroma harumnya. Di seluruh dunia, dikenal sebanyak 198 spesies melati (genus Jasminum), namun hanya ada beberapa spesies yang dibudidayakan untuk diambil parfumnya. Dua di antaranya melati biasa Jasminum sambac, dan melati gambir.
# # #
Yang disebut melati gambir, bukan bunga tanaman gambir (Uncaria gambir), juga bukan bunga gambir hutan (melati poncosudo, Jasminum elongatum). Melati gambir berasal dari Asia Tengah (Iran, Afganistan, Pakistan, India Utara, Nepal dan RRC). Itulah sebabnya di Indonesia, melati gambir hanya bagus dibudidayakan di dataran menengah sampai tinggi. Beda dengan melati biasa yang berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Meskipun melati Jasminum sambac disebut sebagai melati arab (Arabian Jasmine), melati ini bukan berasal dari Arab. Melati menjadi bunga nasional bersama Pakistan, Filipina, dan Indonesia.
Di Indochina, melati sambac dibudidayakan untuk dipanen bunganya sebagai perangkat ritual keagamaan (Buddha). Di Indonesia melati merupakan salah satu bunga perangkat ritual adat, terutama dalam upacara pengantin. Sebagian besar melati sambac yang ditanam di sepanjang pantura Jateng, dipasarkan di kota-kotra besar, terutama Jakarta, sebagai “bunga roncé”. Pada musim penghujan, sering terjadi kekurangan pasokan bunga melati di Pasar Rawa Belong Jakarta. Pada saat itulah pedagang akan mendatangkan melati dari Thailand. Pada musim kemarau, ketika bunga melimpah, kelebihan melati akan diserap oleh industri teh wangi.
Teh wangi (chinese tea, jasmine tea), merupakan teh oolong, yang diberi campuran bunga melati kering. Industri teh wangi tersebar di beberapa tempat, yang paling besar di kota Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Itulah sebabnya budi daya melati juga terpusat di Kabupaten Tegal. Sebenarnya industri teh wangi lebih banyak mengandalkan melati gambir. Kelebihan melati ini, produktivitas dan tingkat keharumannya lebih tinggi, dibanding melati biasa. Kelemahan melati gambir, hanya bisa diserap oleh industri teh wangi. Sementara melati biasa lebih banyak diserap sebagai bunga roncé, dan kelebihan pasokan baru ditampung oleh industri teh wangi.
Melati biasa lebih cocok dibudidayakan di lahan sawah berpengairan teknis, di dataran rendah. Sementara melati gambir dibudidayakan di lahan kering di dataran menengah. Baik melati gambir maupun melati biasa, dipanen saat masih kuncup. Kuncup bunga ini harus dipanen sebelum pukul 09.00. Kalau kuncup ini tidak dipanen, sore harinya akan mekar. Sebagai bunga ronce, kuncup yang telah dipanen harus didinginkan dalam kemasan bersuhu kurang dari 10o C. Dengan tetap dipertahankan dalam suhu dingin, sampai esoknya bunga tetap akan kuncup. Kuncup itu baru akan mekar kalau ditaruh di ruang terbuka.
# # #
Baik melati biasa maupun melati gambir, sebenarnya merupakan bahan parfum bernilai tinggi. Secara tradisional, masyarakat Jawa membuat “minyak cemceman” dengan aneka bahan pewangi, salah satunya melati. Minyak cemceman melati dibuat dengan bahan baku minyak kelapa, dan kuncup bunga melati. Minyak kelapa murni dan baru, ditaruh dalam wadah yang bertutup. Ke dalam wadah itu dimasukkan kuncup bunga melati, lalu wadah ditutup rapat. Kuncup itu dibiarkan mekar dan tetap berada dalam wadah sampai layu. Setelah bunga tampak layu, diambil dan diganti dengan kuncup baru. Demikian seterusnya sampai belasan kali.
Setelah itu, minyak kelapa itu akan jenuh dengan aroma melati. Itulah yang disebut “minyak cemceman”. Di Eropa selatan, secara tradisional pembuatan parfum juga dilakukan dengan cara sama. Bedanya, di Eropa penangkap parfum bukan minyak kelapa, melainkan lemak hewan (kemudian vaselin), yang dioleskan pada kertas minyak. Kertas itu ditaruh dalam laci-laci yang berjumlah banyak sekali. Ke dalam laci itu tiap hari dimasukkan bunga yang akan diambil parfumnya, termasuk bunga melati. Setelah bunga layu, diganti dengan bunga baru dan seterusnya sampai lemak hewan atau vaselin itu penuh dengan parfum.
Lemak hewan dan vaselin berparfum itu, dikenal sebagai “pomade”. Baik pomade maupun minyak cemceman, digunakan sebagai minyak rambut. Untuk memurnikan parfum, lemak hewan dan vaselin itu diencerkan dengan eter, lalu didestilasi dengan panas rendah. Itulah cara membuat parfum zaman dulu. Sekarang dengan teknologi ekstraksi, cara pengambilan parfum lebih sederhana dan cepat. Harga bunga melati berfluktuasi antara Rp 10.000 per kg saat harga jatuh, sampai Rp 100.000 per kg, saat harga tinggi. Harga minyak melati jasmine absolute, sekitar Rp 20 juta per kg. Rendemennya hanya dua permil (0,002%). Tiap ton bunga akan menghasilkan dua kg minyak. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan


