• RENDEMEN DAN KADAR PA MINYAK NILAM

    by  • 02/03/2015 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Sejak tahun lalu, gencar dipromosikan adanya teknologi, dan peralatan destilasi nilam, yang mampu mendongkrak  rendemen dari 2% sampai 10%. Tak lama kemudian, oleh media yang sama dipromosikan pula teknik suling nilam rendemen jalur tengah 5,5%.

    Alasannya, karena rendemen 10% yang sebelumnya dipromosikan sebagai “spektakuler”, ternyata belum terbukti kebenarannya. Ini semua sebenarnya merupakan pembodohan publik. Rendemen nilam, pertama-tama ditentukan oleh produk hasil panen. Kualitas produk daun nilam, ditentukan pula oleh faktor benih, tanah, air, nutrisi, sinar matahari, dan suhu udara. Masih ada lagi yang paling menentukan, yakni faktor “mother earth”. Mau dengan cara apa pun, kualitas daun nilam di Jawa, tidak akan sebaik di Aceh. Meskipun benih, lahan, pupuk, ketinggian tempat, semua dibuat sama, rendemen daun nilam di Jawa, paling tinggi hanya 3%. Sementara di Aceh, dengan budi daya ala kadarnya, rendemen dijamin 5%. Inilah yang disebut sebagai “mother earth” tadi.

    Nilam-a

    Padahal budi daya nilam di Aceh, dilakukan di kawasan pegunungan dengan cara sangat sederhana. Pada awal musim kemarau, pucuk nilam diambil untuk ditanam di lokasi yang ada airnya. Selanjutnya pada musim kemarau, hutan ditebas, dibakar, dan awal musim penghujan, benih nilam dipetik dari lokasi pembenihan, lalu ditanam dengan cara ditugal di lahan bekas bakaran hutan. Di Aceh, lahan nilam tidak pernah dicangkul. Setelah tanam, areal nilam ditinggal begitu saja. Tiga bulan kemudian, petani naik ke lokasi lahan nilam lalu memanen dan menyulingnya. Proses penyulingan ini akan berjalan terus, sampai datang musim kemarau. Saat itulah pucuk nilam diambil, ditanam di tempat yang ada airnya, lalu lahan ditinggal. Pada musim kemarau, petani akan membuka lahan baru untuk musim tanam yang akan datang.

    # # #

    Padahal, sebenarnya dengan perawatan yang baik, nilam akan tetap bisa produktif sampai sekitar 3,5 tahun sejak tanam. Namun apabila cara ini yang dipakai, rendemen tidak akan bisa mencapai 5%. Selain faktor budi daya dengan sistem ladang berpindah, ketinggian tempat juga akan berpengaruh terhadap rendemen daun nilam. Secara teknis, dengan benih bagus, air, nutrisi, dan bahan organik cukup, rendemen daun nilam akan ditentukan oleh intensitas sinar matahari. Di dataran rendah, intensitas sinar matahari akan lebih tinggi dibanding dengan di dataran tinggi. Sebab cuaca di dataran tinggi lebih sering berkabut. Maka, budi daya nilam pada ketinggian 0 – 300 m. dpl, akan menghasilkan rendemen paling tinggi, bisa sampai 5%. Kelemahan budi daya nilam di dataran rendah adalah, produktivitas daun sangat rendah.

    Secara otomatis, ketika sinar matahari cukup, dengan sedikit daun pun, fotosintesis sudah memadai bagi kebutuhan pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, pada ketinggian 1.500 – 2.000 m. dpl, produktivitas daun sangat tinggi, daun juga lebar-lebar dan tebal, agar sinar matahari yang sedikit itu bisa tertangkap dengan baik oleh klorofil, guna proses fofosintesis. Namun dengan cara seperti itu pun, rendemen minyak nilam dalam daun tetap rendah. Para petani nilam berpengalaman di Aceh, tahu hal ini, hingga budi daya nilam mereka lakukan pada elevasi optimum antara 800 – 1.200 m. dpl. Pada elevasi itulah produksi daun masih cukup tinggi, akan tetapi rendemen juga tidak anjlok ke titik terendah.

    Sebenarnya, budi daya nilam di dataran rendah sampai menengah, masih bisa direkayasa agar menghasilkan daun cukup besar. Caranya dengan pengairan teknis, pemberian bahan organik, dan naungan. Dengan cara ini, produksi daun nilam bisa setara dengan di dataran tinggi. Namun demikian, masih ada faktor lain, yakni rendahnya kadar Patchouli Alcohol (Patchoulol), pada minyak yang dihasilkan. Padahal, tinggi rendahnya harga minyak nilam, ditentukan oleh tinggi rendahnya kadar PA dalam minyak. Secara umum, para pembeli minyak nilam mensyaratkan kadar PA minimal 30% dalam minyak. PA lebih tinggi dari 30%, harga minyak akan naik, PA lebih rendah dari 30% harga minyak akan turun, dari harga standar. Budi daya nilam pada ketinggian di atas 1.200 m. dpl, memang akan menurunkan rendemen minyak. Namun kadar PAnya akan naik. Budi daya nilam pada ketinggian 800 – 1.200 m. dpl, selain menjamin produktivitas minyak, juga kadar PA di atas 30%.

    # # #

    Cara panen juga akan ikut menentukan tinggi rendahnya kadar PA minyak nilam. Apabila yang dipanen hanya pucuk daun, rendemen minyak akan tinggi. Rendemen akan turun, apabila batang nilam ikut dipanen dan disuling. Padahal, kandungan PA tertinggi akan diperoleh, apabila batang nilam ikut dipanen dan disuling. Nilam di Aceh selalu menghasilkan PA tinggi, karena para petani di sana hanya memanen nilam mereka satu kali, dengan membabat habis tanaman berikut batangnya. Sementara petani nilam di Jawa, cenderung memanen daun nilam dengan menyisakan batangnya. Harapannya, agar tiga bulan kemudian nilam bisa kembali dipanen dengan volume hasil masih cukup besar. Selain faktor rendemen dan kandungan PA, budi daya nilam juga masih ditentukan pula oleh musim. Pada bulan-bulan Januari – Juni (musim hujan), harga minyak nilam akan turun, karena daun banyak.

    Sebaliknya pada bulan-bulan Juli – Desember, harga minyak nilam tinggi sebab pada musim kemarau tanaman tak berdaun atau mati. Petani yang berani menanam nilam di lahan sawah berpengairan teknis, akan memperoleh untung besar, sebab tetap bisa panen pada musim kemarau, saat harga minyak tinggi. Dengan penjelasan seperti ini, tampak bahwa destilasi hanya merupakan salah satu faktor dalam agroindustri minyak nilam. Memang benar, bahwa teknik destilasi yang baik, akan mampu meningkatkan rendemen minyak. Di Aceh, rata-rata petani nilam hanya memperoleh 2% minyak dari raw material. Dengan asumsi 1% minyak hilang, maka sebenarnya dalam ampas nilam masih ada 2% minyak. Sebab rata-rata rendemen minyak dari nilam Aceh 5%.

    Itulah sebabnya, pernah ada pengusaha penyulingan yang bersedia membeli ampas minyak nilam dari Aceh. Upaya ini gagal dipenuhi, sebab biaya angkut ampas nilam dari pegunungan di Aceh, lebih tinggi dibanding biaya budi daya nilam di Jawa. Dengan penjelasan seperti ini, tampak bahwa teknologi penyulingan, hanyalah salah satu faktor dalam agroindustri nilam. Kalau kadar minyak dalam raw material hanya 3%, mau dengan teknologi apa pun, tidak mungkin dinaikkan. Jangankan sampai 10%, naik menjadi 3,5% pun juga mustahil. Belum lagi kadar PA yang juga akan sangat menentukan harga minyak. Inilah yang tidak pernah disampaikan ke publik demi menggiring mereka, agar ikut pelatihan, dan membeli alat destilasi. Meskipun dengan rendemen hanya 2%, dengan kadar PA 30%, agroindustri nilam di Jawa masih menguntungkan. Janji rendemen 5,5%, apalagi 10%, merupakan jebakan yang akan membuat investor rugi besar. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *