• NILAI EKONOMIS AKASIA DEKURENS

    by  • 09/03/2015 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Pickup penuh kulit kayu berwarna cokelat, itu merayapi jalan makadam lereng utara Gunung Merbabu (3.145 meter dpl), meninggalkan Dusun Tèkèlan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

    Mobil pickup itu mengangkut kulit kayu akasia dekurens, yang juga disebut akasia gunung (Acacia decurrens). Selama ini masyarakat lebih mengenal akasia mangium (Acacia mangium); yang populer sebagai tanaman pelindung di kota-kota besar, serta sebagai komoditas Hutan Tanaman Industri (HTI). Padahal genus akasia terdiri dari sekitar 1.393 spesies. Salah satu di antaranya akasia dekurens, yang berpenampilan mirip sengon laut (jeungjing, Falcataria moluccana); lamtoro (Leucaena leucocephala); atau kaliandra (Calliandra calothyrsus). Empat tanaman ini memang masih sama-sama famili Fabaceae (Leguminosae).

    akasia-gunung-1a

    Akasia dekurens juga disebut akasia gunung, karena hanya bisa tumbuh di kawasan pegunungan, berketinggian antara 800 m. sampai dengan 2000 m. dpl. Tumbuhan ini tampak mencolok dari kejauhan, karena warna daunnya yang hijau keabu-abuan. Sama dengan lamtoro dan kaliandra, akasia dekurens tergolong tumbuhan perdu, yang hanya bisa tumbuh belasan meter, dengan lingkar batang sekitar 40 cm. Akasia dekurens banyak dibudidayakan sebagai tanaman reboisasi (penghutanan kembali) kawasan pegunungan di Indonesia. Selain oleh Perum Perhutani, tumbuhan ini juga dibudidayakan masyarakat, di antara petakan lahan pertanian.

    Tajuk tanaman akasia dekurens tidak terlalu rapat, hingga tidak menghalangi sinar matahari bagi tanaman pokok, terutama sayuran. Beda dengan albisia, lamtoro, dan kaliandra, daun akasia tidak bisa untuk pakan ternak, karena tingginya kandungan zat tanin. Meskipun tidak bisa untuk pakan ternak, petani tetap menyukai akasia dekurens karena bisa tumbuh cepat, sama dengan lamtoro, kaliandra dan juga albisia. Hingga akasia potensial ditanam di lereng-lereng bukit yang terjal sebagai penghijauan. Meskipun pertumbuhannya cepat, kayu akasia dekurens sangat keras, hingga merupakan bahan bakar kualitas terbaik.

    # # #

    Selain untuk kayu bakar, akasia dekurens juga merupakan bahan arang kualitas tinggi. Arang kayu akasia dekurens, hanya bisa dikalahkan oleh arang kayu bakau. Bedanya, pertumbuhan kayu bakau di kawasan mangrove sangat lamban. Umur 10 tahun, kayu bakau baru mencapai ketinggian di bawah 10 meter. Sementara dalam waktu hanya 5 tahun, kayu akasia dekurens sudah mulai bisa ditebang, untuk penjarangan. Selain untuk kayu bakar, akasia dekurens juga merupakan sumber tanin yang potensial. Tanin adalah senyawa polifenol yang terkandung dalam tanaman, berasa pahit dan sepet (kelat).

    Tanin akan bereaksi menggumpalkan protein, asam amino, dan alkaloid. Karena sifat ini, zat tanin dimanfaatkan manusia sebagai bahan penyamak kulit hewan mentah, menjadi kulit masak sebagai bahan industri. Dalam akasia dekurens zat tanin terdapat paling banyak pada bagian kulit kayu. Para petani di kawasan pegunungan, akan langsung menguliti kayu akasia yang baru saja ditebangnya. Kayunya dijadikanar ang atau kayu bakar, kulit kayu dijual ke para penampung. Harga kulit kayu akasia dekurens kering, berkisar antara Rp 500 sampai dengan Rp 1.000 per kg, pranko setempat.

    Kulit kayu akasia dekurens, merupakan bahan penyamak kulit favorit, karena tingginya kandungan zat tanin, dibanding jenis akasia lain. Kandungan zat tanin kulit akasia dekurens mencapai 37-40%;  Acacia pycnantha 30-45%; Acacia mearnsii 25-35%; Acacia melanoxylon 20%; Acacia dealbata 19.1%; Acacia nilotica 18-23%; dan Acacia penninervis 18%. Meskipun kandungan zat tanin Acacia pycnantha bisa mencapai 45%, namun kandungan  rata-rata tetap kalah dari akasia dekurens. Rata-rata kandungan zat tanin pada kulit batang Acacia pycnantha, adalah 37,5%, sementara akasia dekurens  38,5%.

    Sebenarnya, akasia dekurens juga bisa disadap getahnya untuk bahan gum arab. Selama ini gum arab paling banyak diproduksi dari tanaman akasia sinegal (Acacia senegal). Namun akasia dekurens juga bisa menghasilkan getah bahan gum arab dengan kualitas sama baik dengan akasia senegal. Sampai sekarang para petani belum memanfaatkan potensi akasia sebagai penghasil gum arab, karena belum ada yang membimbing cara pengambilan, pemrosesan dan pamasarannya. Sementara pasar kulit kayu, sudah sangat jelas, karena para penampung siap untuk mengambil langsung dari para petani.

    # # #

    Akasia dekurens juga bisa dimanfaatkan bunga dan polong mudanya, sebagai bahan pewarna alami. Bunga akasia gunung mengadung zat Kaempferol sebagai penghasil warna kuning. Sementara polong mudanya menghasilkan zat warna hijau. Zat warna kuning dan hijau dari bunga dan polong akasia gunung, bisa dimanfaatkan untuk mewarnai kain, makanan, dan juga minuman, karena tidak mengandung racun serta zat berbahaya lainnya. Di Australia, bunga akasia dan polongnya sudah dipanen untuk diolah menjadi zat pewarna alami. Di Indonesia, pewarna alami dari bahan nabati, sudah tergeser oleh pewarna sintetis.

    Akasia dekurens hanya bisa dibudidayakan dengan benih dari biji. Biji akasia dekurens berada dalam polong, seperti halnya lamtoro, albisia, dan kaliandra. Ukuran dan bentuk polong akasia dekurens, lebih mirip dengan polong kaliandra. Dalam polong yang telah tua dan berwarna cokelat, terdapat biji dengan ukuran lebih besar dibanding biji lamtoro, albisia, dan kaliandra. Biji akasia dekurens dilindungi oleh kulit biji yang sangat keras. Demikian kerasnya kulit biji ini, hingga daya tumbuh akasia dekurens tidak akan menurun, meskipun benihnya telah disimpan selama beberapa tahun.

    Di satu pihak, akasia dekurens bermanfaat secara ekologis maupun ekonomis sebagai tanaman reboisasi di lahan hutan, atau penghijauan di lahan pertanian. Hutan-hutan lindung di Jawa, merupakan lahan milik Perum Perhutani, dan Taman Nasional. Lahan perum perhutani, tak akan bermasalah direboisasi dengan akasia dekurens. Itulah yang pernah dilakukan lembaga ini di Gunung Merbabu, dan Merapi di Jawa Tengah. Ketika status kawasan ini dinaikkan dari hutan lindung ke Taman Nasional, akasia dekurens merupakan tumbuhan pendatang dari Australia, bisa menjadi invasif dan mendesak spesies asli di Taman Nasional tersebut. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *