POTENSI BISNIS ALKESA
by indrihr • 16/03/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Di Indonesia alkesa merupakan buah yang hampir tak bernilai ekonomis. Masyarakat hanya memanfaatkan buahnya untuk dikonsumsi segar secara langsung. Padahal di Filipina dan beberapa negara lain alkesa sudah dibudidayakan secara komersial.
Alkesa juga disebut alkesah, sawo mentega, sawo ubi, atau kanistel. Nama kanistel berasal dari bahasa Inggris, canistel. Selain canistel, alkesa juga disebut egg fruit, dan yellow sapote (Pouteria campechiana). Buah ini berasal dari Amerika Tengah, dan kepulauan Karibia. Tahun 1915, alkesa diintroduksi ke Filipina, dan dari sini menyebar ke seluruh kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Jawa, alkesa banyak tumbuh liar di kebun-kebun penduduk, serta dijadikan tanaman peneduh. Di sebelah kiri Jalan Tol Jakarta Cikampek, antara Bekasi – Cikarang, banyak terlihat pohon alkesa, dan bulan Desember serta Januari ini sedang berbuah lebat. Kadang di pasar tradisional, di kakilima, bahkan juga di pasar swalayan tertentu bisa dijumpai buah alkesa.
Alkesa berupa pohon besar, yang mampu tumbuh setinggi 20 meter, dengan diameter batang mencapai 50 cm. Tajuk alkesa tak beraturan. Daun menempel pada ranting secara berhadap-hadapan dan tersusun rapi ke arah pucuk. Daun alkesa berbentuk meruncing ke ujung, dengan tulang daun tersusun rapi tampak sangat jelas. Panjang daun 15 cm, dengan lebar 7 cm, berwarna daun hijau tua. Kayu alkesa keras, kuat, dan liat, hingga sering dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, meubel, serta kayu bakar. Perbanyakan tanaman secara generatif menggunakan benih berupa biji. Benih alkesa secara terbatas bisa diperoleh di nurseri-nurseri tertentu, yang menjual tanaman langka. Sampai sekarang belum ada kebun alkesa dalam skala komersial di Indonesia.
# # #
Buah alkesa berbentuk bulat sampai lonjong, dengan bagian pangkal membesar dan ujung runcing. Panjang buah antara 7 – 12 cm, dengan diameter antara 4 – 7 cm. Kulit alkesa tipis, menyatu dengan daging buah. Warna kulit buah alkesa hijau ketika muda, dan berangsur menjadi kuning cerah setelah masak. Daging buah juga berwarna kuning cerah, bertekstur gembur, berasa sedikit manis, dengan aroma khas alkesa. Tekstur, warna, dan rasa daging buah alkesa persis seperti ubi jalar kuning. Karena kesamaan warna, terkstur, dan rasa inilah maka buah alkesa juga disebut sawo ubi. Warnanya daging buahynya yang kuning, menyebabkan buah ini disebut sawo mentega. Meskipun rasa dan aromanya sama sekali tidak mirip dengan mentega. Di dalam daging buah ini terdapat satu sampai dua butir biji yang berukuran cukup besar, dengan diameter bisa sampai dua sentimeter.
Menurut hasil penelitian FIM de Nutricion Havana, Kuba; dalam 100 gram daging buah alkesa, terkandung kalori 138,8 http://viagrapharmacy-ed.com/ kcal; air 60,6 gram; protein 1,68 gram; karbohidrat 36,69 gram; lemak 0,13 gram; serat 0,10 gram; kalsium 26,5 mg; fosfor 37,3 mg; zat besi 0,92 mg; karoten 0,32 mg; thiamin 0,17 mg; riboflavin 0,01 mg; niacin 3,72 mg; asam askorbik 58,1 mg; asam amino triptopan 28 mg; asam amino metionin 13 mg; asam amino lisin 84 mg. Karena kandungan nutrisinya yang cukup baik, alkesa merupakan sumber bahan pangan yang potensial dikembangkan secara komersial. Di Filipina dan negara-negara kepulauan Karibia, daging buah alkesa dikonsumsi segar sebagai pasta, setelah dicampur garam, lada, air jeruk dan mayones. Di negara-negara ini, daging buah alkesa merupakan bahan es krim dan milkshake.
Karena ketersediaan bahan baku mencukupi, pemanfaatan daging buah alkesa di http://viagrapharmacy-ed.com/ negara-negara tersebut juga meluas sebagai bahan puding, kue, dan selai pengoles roti. Daging buah alkesa mudah diolah menjadi pasta, tanpa perlu dikupas. Biji alkesa yang berukuran cukup besar mudah dipisahkan dari kulit dan daging buah. Selanjutnya daging buah dilembutkan hingga menjadi pasta berwarna kuning cerah. Bagi mereka yang melakukan diet kalori, pasta daging buah alkesa, lebih baik dari ubi jalar kuning. Kandungan kalori alkesa yang hanya 138,8 kj, kurang dari separo dari kalori ubi jalar yang mencapai 359 kj. Hingga daging buah alkesa bisa menjadi bahan pangan alternatif bagi mereka yang diet generic viagra online karena menderita diabetes. Di Filipina, es krim dari daging buah alkesa menduduki posisi terhormat dibanding eskrim dari bahan lain.
# # #
Di Indonesia, buah alkesa masih tersia-siakan, karena belum ada yang mulai memperkenalkannya kepada publik, sebagai bahan pangan alternatif yang cukup sehat. Selama ini alkesa selalu diperkenalkan sebagai “buah”, padahal potensinya justru sebagai bahan pangan. Masyarakat akan kecewa setelah tahu bahwa daging buah alkesa tidak seperti buah menurut persepsi masyarakat selama ini. Banyak juga yang mengira alkesa sama dengan abiu. Alkesa dan abiu memang masih sama-sama genus Pouteria alkesa Pouteria campechiana dan abiu Pouteria caimito. Kalau alkesa sudah masuh ke Indonesia tahun 1915, abiu baru mulai dikenal masyarakat Indonesia tahun 2000an. Saat ini abiu masih sebatas dibudidayakan di halaman rumah sebagai tanaman koleksi.
Mamey sapote (Pouteria sapota), juga masih satu genus dengan alkesa dan abiu. Bedanya, buah mamey zapote, berukuran sangat besar, dengan panjang 10 – 25 cm, dan diameter 8 sampai 12 cm. Genus Pouteria merupakan salah satu famili Sapotaceae (sawo-sawoan). Hingga alkesa masih satu famili dengan sawo manila (Manilkara zapota), dan sawo durian (kenitu, sawo bludru, Chrysophyllum cainito). Pouteria merupakan genus dengan 240 spesies, yang tersebar merata di seluruh kawasan tropis di dunia. Sebagian besar genus Pouteria populer dan komersial, berasal dari Amerika Tengah/Amerika Latin. Dengan potensinya sebagai bahan pangan alternatif tersebut, alkesa layak untuk dikembangkan secara profesional, dalam skala komersial. # # #
Artikel ini pernah dimuat di Mingguan Kontan

