• PESTISIDA DAUN PEPAYA

    by  • 21/04/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Saya petani melon. Untuk mengatasi kenaikan harga pestisida, saya gunakan picung, gadung, dan daun pepaya, untuk menyemprot ulat. Mengapa daun pepaya yang enak dimakan manusia lebih efektif dibanding picung yang nyata-nyata beracun? (Nita, Indramayu).

    Sdri. Nita, picung, pucung, kluwak, kepayang (Pangium edule), dan gadung (Dioscorea hispida); memang mengandung racun sianida Hydrogen cyanide (HCN). Sianida merupakan racun perut. Artinya, sianida baru akan berdampak bagi kesehatan hewan dan manusia, apabila masuk ke dalam saluran pencernaan. Selain racun perut, ada pula racun kontak, dan racun pernafasan. Racun kontak akan membunuh serangga, atau hama lain, apabila menyentuh tubuh serangga tersebut. Racun pernafasan, akan berdampak apabila terisap masuk ke saluran pernapasan hama.

    daun-pepaya-a

    Meskipun mengandung racun perut sianida, picung dan gadung lazim dikonsumsi manusia. Buah picung segar, banyak dijual di pasar tradisional Jawa Barat untuk dipepes, atau untuk masak ikan, terutama ikan gabus. Itulah sebabnya di Jawa Barat ada menu gabus picung. Buah picung segar ini layak konsumsi, setelah dipisahkan dari tempurungnya, direbus dan direndam air selama dua malam. Biji picung yang sudah difermentasi, disebut kluwak dan  menjadi bumbu rawon. Jadi meskipun beracun, picung juga biasa dikonsumsi manusia.

    Gadung pun sama. Agar keripik umbi gadung layak konsumsi, irisan umbi harus dicampur abu, atau garam, lalu dikeringkan, diremdam air, dikukus dan dijemur. Setelah kering, baru digoreng dan dikonsumsi. Singkong pun ada yang mengandung sianida tinggi, hingga tidak mungkin dikonsumsi segar. Singkong ini disebut singkong racun dan hanya bisa dikonsumsi manusia setelah menjadi gaplek, hingga sianidanya hilang. Karena merupakan racun perut, picung dan gadung tidak mungkin efektif digunakan menyemprot ulat.

    picung-2a

    Racun perut, hanya digunakan untuk serangga, atau larvanya, yang tidak mungkin dibasmi dengan racun kontak. Misalnya penggerek batang, kutu perisai, atau kutu tepung. Racun perut, hanya bisa diaplikasikan secara sistemik. Racun harus diserap jaringan tumbuhan, dan setelah memakan bagian tumbuhaan yang beracun itu, hama akan mati. Oleh sebab itu, pestisida sistemik tidak boleh diaplikasikan pada sayuran dan buah-buahan yang akan dikonsumsi segar. Kalau pun diaplikasikan, harus selang beberapa bulan sebelum dipanen.

    Daun pepaya (Carica papaya), justru tidak beracun, meskipun rasanya pahit. Daun pepaya efektif membunuh ulat, bukan karena pahit, melainkan karena mengandung papain dalam getahnya. Papain merupakan enzim yang mampu mendegradasi protein. Itulah sebabnya daging alot yang akan dimasak, sering dilumuri getah pepaya, atau dibungkus dengan daun pepaya yang sebelumnya diremas-remas. Papain dalam getah daun pepaya itulah yang mendegradasi kulit ulat melon, hingga mati.

    Sebenarnya banyak bahan nabati yang bisa digunakan sebagai pestisida alami. Kalau Anda menghendaki racun kontak, sebenarnya lebih efektif menggunakan akar tuba (Derris elliptica), atau biji bengkuang (Pachyrhizus erosus). Akar tuba dan biji bengkuang, sama-sama mengandung rotenon, sebagai racun kontak. Sdri.Nita, untuk Anda memang harus membudidayakan tuba, dan bengkuang, untuk dipanen akar serta bijinya. Bengkuang yang dipanen polong tuanya, umbinya akan mengeras, hingga tidak bisa dikonsumsi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Konsulagro Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *