• BISNIS UNGGAS PIARAAN

    by  • 13/05/2015 • PETERNAKAN • 0 Comments

    Saat ini bisnis unggas piaraan (unggas sebagai pet), dianggap sepi. Padahal justru sekarang inilah bisnis unggas piaraan sedang sehat, karena tak ada rekayasa “penggorengan”, seperti pernah terjadi pada waktu-waktu sebelumnya.

    Unggas piaraan terdiri dari unggas hias yang dinikmati penampilan fisiknya, serta unggas piaraan yang akan dinikmati suaranya. Contoh unggas hias antara lain merpati kipas, ayam mutiara, dan merak. Unggas piaraan yang dinikmati suaranya antara lain burung ocehan, perkutut, tekukur, bekisar, pelung, dan ayam tertawa. Masing-masing komoditas punya komunitas dengan segala aktivitas mereka. Bisnis unggas piaraan juga menuntut adanya legalitas dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), apabila unggas yang dipelihara masuk dalam Apendix CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

    burung-tekukur-a

    Di Indonesia, ada 17 unggas (burung), yang masuk Appendix 1 CITES, dan sudah dilindungi oleh pemerintah. Ada satu jenis burung yang sudah ditetapkan CITES masuk Appendix 1, namun belum dilindungi oleh pemerintah. Selain itu masih terdapat 131 jenis burung yang masuk Appendix 2 CITES, dan dilindungi oleh pemerintah. Selebihnya ada sekitar 250 jenis burung yang sudah dilindungi pemerintah, namun belum ditetapkan oleh CITES masuk dalam Appendix. Di Indonesia penangkapan dan perdagangan unggas hias masih terus berlangsung dan pihak BKSDA sulit untuk mengontrolnya. Di Pasar Pramuka, dan Jatinegara, Jakarta, kita dengan mudah bisa membeli dengan bebas, burung yang sudah nyata-nyata ditetapkan masuk Appendix CITES dan dilindungi pemerintah.

    # # #

    Maraknya wabah flu burung pada tahun 2003 – 2005, telah menyurutkan nafsu masyarakat untuk memelihara unggas, termasuk unggas yang masuk dalam Appendix CITES. Tahun 1990an bisa dianggap sebagai “puncak” dari kegilaan masyarakat Indonesia terhadap unggas piaraan. Aneka lomba, dan kontes diselenggarakan. Lomba perkutut tingkat kabupaten.kota, provinsi, dan nasional rutin diselenggarakan. Di sinilah terjadi upaya penggorengan, hingga seekor perkutut juara, bisa bernilai milyaran rupiah. Nilai ini tidak realistis, sebab secara de fakto biaya produksi dan perawatan bagi perkutut juara tersebut relatif sama dengan perkutut lainnya, sementara  peminatnya juga terbatas. Mobil Rolls Royce, berharga lebih tinggi dari merk lain, karena secara de fakto biaya produksinya secara manual memang lebih tinggi, dibanding merek lain yang dibuat secara massal.

    burung-jalak-a

    Ketika seekor ayam cemani berharga lebih tinggi dari ayam biasa, konsumen bisa memakluminya.  Dari ratusan ekor anak ayam kedu hitam, hanya diperoleh beberapa ekor cemani. Demikian pula dengan bekisar. Dari ratusan ekor ayam hasil persilangan ayam hutan hijau dengan ayam peliharaan, hanya akan dihasilkan beberapa ekor bekisar. Memang bisa saja dikemukakan dalih, bahwa seekor perkutut juara, dihasilkan dari ratusan perkutut biasa. Namun harga perkutut juara, ayam cemani, atau bekisar, setinggi-tingginya hanya berkisar ke angka puluhan juta rupiah. Sampai ratusan pun sudah tidak rasional, terlebih sampai milyaran. Upaya penggorengan harga unggas piaraan, biasanya dilakukan secara sangat rapi, hingga media massa, sulit untuk mendeteksi ketidakwajarannya. Karena si pemilik unggas juara, maupun si pembeli, akan sama-sama meraih keuntungan dari kebohongan publik yang mereka lakukan.

    Dalam “penggorengan harga” seorang pemilik perkutut juara, bekerjasama dengan para calon pembeli, agar mereka berlomba-lomba menawar dengan harga setinggi mungkin. Akan tetapi pemilik dan calon pembeli itu sudah sama-sama sepakat, harga riil dalam transaksi nanti, hanya sepersepuluh atau seperduapuluh dari harga yang dikemukakan ke publik. Bahkan kadangkala, seorang pemilik unggas juara, sengaja menghadiahkan unggas juara tersebut  ke seorang tokoh masyarakat. Akan tetapi, si tokoh masyarakat diminta untuk bercerita ke media massa, bahwa ia membelinya dengan harga ratusan juta rupiah. Pola-pola seperti ini telah mengakibatkan harga unggas piaraan tertentu terdongkrak secara tak terkendali, hingga melampaui batas akal sehat.

    # # #

    Hewan piaraan memang mirip dengan karya seni. Nilai nominal hewan piaraan tersebut, akan ditentukan oleh siapa penjual, dan siapa pembelinya. Dalam hal ini, berapa pun nilai nominal dari hewan peliharaan tersebut tidak menjadi masalah, sebab itu merupakan urusan si pemilik dengan si pembeli. Masalahnya berbeda, ketika transaksi jual beli dengan harga tak wajar itu dipublikasikan dengan segala bumbu penyedapnya. Ketika hewan piaraan tertentu dipublikasikan dengan harga ratusan juta rupiah, masyarakat akan beranggapan bahwa itulah harga standarnya. Ketika ayam tertawa dipublikasikan dengan harga puluhan juta rupiah, masyarakat segera ingin memiliki ayam tersebut, dengan harapan nanti akan bisa menjual hasil tangkarannya dengan harga juga mencapai puluhan juta rupiah.

    Pola penggorengan seperti ini selalu saja terjadi pada komoditas “klangenan”. Mulai dari ikan louhan, koi, ayam pelung, bekisar, serama, tertawa, sampai ke tanaman hias anthurium daun. Yang menjadi korban, umumnya masyarakat lapis bawah. Mereka membeli anak ikan, anak unggas, atau anak reptil, dan berharap segera akan bisa menjualnya dengan harga berlipat kali. Ketika hewan piaraan atau tanaman hias sudah cukup besar dan siap jual, biasanya harga sudah kembali normal, atau malah jatuh. Rakyat kecil yang membeli anakan ayam pelung, bekisar, serama, tertawa, dengan harga tinggi; mengalami kerugian cukup besar ketika unggas yang mereka besarkan itu hanya bisa terjual sedikit lebih tinggi dari harga ayam kampung biasa.

    Komoditas hewan piaraan, termasuk unggas, sebenarnya tetap layak untuk dibudidayakan sebagai lahan bisnis. Siapa pun yang akan terjun ke komoditas tersebut, tidak boleh hanya sekadar coba-coba, dan harus terus bertahan apa pun yang terjadi. Biasanya para breeder hewan piaraan, tidak hanya bergantung ke satu dua jenis satwa. Hingga ketika satwa yang satu sudah tidak trendy, mereka akan segera pindah ke satwa lain. Tak jarang para breeder itu sejak awal sudah menangani beberapa komoditas sekaligus. Selain itu mereka juga wajib bergabung dengan komunitas yang sudah ada. Anggota komunitas itulah  yang akan menjadi pasar potensial hewan piaraan yang kita budidayakan. Tanpa dukungan komunitas, produk hewan piaraan yang kita budidayakan hanya akan dianggap barang aneh.  # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *