• PERUBAHAN ORIENTASI BISNIS MELINJO

    by  • 27/05/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Tahun 1980an, permintaan biji melinjo sangat tinggi. Waktu itu industri emping melinjo di Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah; dan Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten; tumbuh demikian pesat.

    Sementara itu pertumbuhan kebun melinjo tak sepesat pertumbuhan industri emping, hingga harga biji melinjo menjadi sangat tinggi. Melinjo memang baru bisa dibenihkan secara massal pada akhir tahun 1970an. Sebelumnya, melinjo tumbuh dengan sendirinya di kebun dan ladang. Ada kepercayaan di masyarakat, bahwa melinjo memang tidak bisa ditanam dari biji, dan juga tak bisa dicangkok. Sebab biji dari buah melinjo yang sudah masak, apabila ditanam dengan cara dimasukkan ke dalam tanah, tidak akan pernah bisa tumbuh.

    melinjo-a

    Teknik pengecambahan melinjo, baru ditemukan oleh seorang petani di Kabupaten Gunung Kidul, DIY, akhir tahun 1970an. Ia memasukkan biji melinjo yang sudah tua ke dalam tenggok (keranjang bambu yang dianyam rapat), berisi pasir murni. Tiap hari, pasir dalam tenggok itu disiram. Setelah tiga bulan, barulah biji melinjo itu berkecambah. Kecambah biji melinjo itu lalu ia semai dalam wadah polybag berisi media tanah, kompos dan pasir. Sejak itu, benih melinjo bisa diproduksi secara massal.

    Meskipun teknik perkecambahan biji melinjo diketemukan di Gunung Kidul, sentra pembenihan melinjo justru berkembang di Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Pertumbuhan sentra penangkaran benih tanaman buah-buahan di Kecamatan Pekalongan, tak lepas dari peran Unit Produksi Benih Tanaman Buah Pekalongan, yang berada di bawah Balai Benih Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung. Di lembaga inilah diseleksi klon-klon melinjo unggul, dari tanaman koleksi.

    # # #

    Tahun 1990an merupakan puncak kejayaan industri emping melinjo. Produk emping dari Limpung dan Menes tembus untuk diekspor ke Singapura, Malaysia, Timur Tengah dan Uni Eropa. Namun pasar emping dalam negeri tetap merupakan sasaran utama. Akhir tahun 1990an, isu bahwa emping merupakan penyebab penyakit asam urat merebak. Sejak itu pasar emping melinjo perlahan surut. Orang awam takut makan emping, karena isu tersebut. Padahal kelebihan asam urat (uric acid), sama sekali tak berhubungan dengan emping melinjo.

    Tingginya kadar asam urat dalam tubuh manusia, disebabkan oleh purine yang tak terbakar sempurna, akibat tubuh kekurangan oksigen. Purine yang kalau dibakar sempurna akan menjadi energi dengan bahan buangan berupa keringat dan urine. Karena tak terbakar sempurna, purine itu menumpuk dalam jaringan tubuh menjadi asam urat berupa kristal dengan ujung runcing. Kristal asam urat inilah yang membuat jaringan otot serta persendian nyeri. Meskipun nyeri jaringan otot dan persendian, belun tentu disebabkan oleh tingginya kadar asam urat tubuh.

    Kekurangan oksigen yang mengakibatkan pembakaran purine sempurna, disebabkan oleh banyak faktor. Antara lain karena kurang olahraga dan stres berkepanjangan. Mereka yang sudah menderita kelebihan asam urat, memang harus pantang makanan yang banyak mengandung purine. Misalnya sayuran daun, jerohan, dan kacang-kacangan. Salah satu makanan dengan kadar purine tinggi adalah emping melinjo. Tapi emping melinjo bukan penyebab penyakit kelebihan asam urat. Namun akibat isu asam urat ini, pasar emping langsung lesu. Orang tetap menganggap emping sebagai penyebab asam urat tinggi.

    Untunglah, melinjo bukan hanya komoditas bahan emping. Daun melinjo muda, yang dalam Bahasa Jawa disebut so, sudah sejak lama merupakan sayuran. Di Jawa Tengah dan DIY, daun so merupakan campuran aneka sayuran khas Jawa. Di DKI Jakarta, daun melinjo muda, bunga, dan buah muda; merupakan bahan utama sayur asam. Pelan-pelan, sayur asam berupa “sup” dengan bahan utama labu siam; kacang tanah segar; daun, bunga, dan buah melinjo muda; menjadi “menu nasional”. Maka permintaan daun, bunga, dan buah melinjo muda juga menjadi rutin, serta ada trend terus meningkat.

    # # #

    Melinjo (paddy oats),  merupakan tumbuhan asli kepulauan Nusantara. Habitat asli melinjo tersebar mulai dari negara bagian Assam di India, Bangladesh, Indochina, Malaysia, Filipina, Indonesia, Papua Nugini, sampai ke Kepulauan Fiji di Samudera Pasifik. Ada dua varietas melinjo (Gnetum gnemon), yakni Gnetum gnemon var. brunonianum; dan Gnetum gnemon var. griffithii. Tanaman yang tumbuh dari biji, baru akan berbuah setelah berumur di atas lima tahun. Namun tanaman dari benih sambungan, sudah bisa berbuah pada umur tiga tahun.

    Habitat asli melinjo berupa kawasan beriklim hujan tropika basah; mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.200 m. dpl. Namun melinjo akan tumbuh dan berbuah optimum di  lahan berketinggian 0 – 600 m. dpl. Batang dan dahan melinjo beruas-ruas dan mudah sekali patah. Karenanya tanaman melinjo lebih baik dipangkas pendek, hingga daun muda, bunga dan buah bisa dipanen dengan mudah dan aman. Belakangan, dalam Konferensi Internasional tentang Polifenol di Kanada tahun 2006, diketahui bahwa buah melinjo mengandung zat antibakteri dan antioksidan  yang sangat tinggi.

    Emping melinjo, terutama emping utuh sekali pukul, sebenarnya bisa kita kenalkan ke masyarakat dunia sebagai “Indonesian Nuts” seperti halnya makadamia. Sudah saatnya kembali kita promosikan bahwa melinjo bukan penyebab penyakit kelebihan asam urat. Apabila dikonsumsi oleh orang sehat (bukan penderita asam urat), melinjo justru bisa menyehatkan, karena kandungan zat antibakteri dan antioksidan yang tinggi. Sebelum masyarakat melupakan isu asam urat, melinjo tetap berpotensi untuk dikembangkan, sebagai bahan sayur asam. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *