• STOP IMPOR JEROAN SAPI

    by  • 09/07/2015 • PETERNAKAN • 0 Comments

    Kementerian Pertanian (Kemmentan) telah menghentikan impor jeroan daging sapi. Menurut Menteri Pertanian Amran Sulaiman, penghentian impor ini bertujuan untuk memperbaiki perdagangan jeroan sapi dalam negeri.

    Kementan menghentikan impor jeroan atas desakan Asosiasi Produsen Daging Dan Feedlot Indonesia (APFINDO). Padahal menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), impor jeroan sapi Indonesia 2014 (Januari – Oktober), hanya sebesar 10.800 ton dengan nilai Rp 390,2 milyar. Yang dimaksud dengan jeroan adalah paru, jantung, limpa, usus (iso), dan babat. Sebab hati sapi diimpor tersendiri. Pada kurun waktu yang sama, impor hati sapi indonesia sebesar 2.086 ton, dengan nilai Rp 44,3 milyar. Lidah sapi sebesar 6.917 ton, dengan nilai Rp 229 milyar, dan daging sapi (beku dan segar), sebesar 61.778 ton dengan nilai Rp 3,1 trilyun.

    sapi-a

    Selain daging sapi, dari Januari – Oktober  Indonesia juga mengimpor sapi potong hidup sebanyak 168.979 ton, senilai Rp 5,1 trilyun. Biasanya sapi potong diimpor dalam bentuk bakalan, dengan bobot 300 kilogram per ekor. Hingga realisasi impor sapi potong Indonesia Januari – Oktober 2015 sebanyak 563.266. Tahun 2014, pemerintah membuka kran impor sebanyak 720.000 sapi dari Australia. Pada triwulan I- 2014, sebanyak 125.000 ekor sapi bakalan dan  22.500 sapi siap potong dari Australia, masuk ke Indonesia. Akibatnya, harga sapi potong nasional ambruk dari Rp 35.000 per kg. bobot hidup, menjadi Rp 30.000.

    Padahal, para pengusaha feedlot, mengimpor sapi bakalan dari Australia dengan harga lebih tinggi dari sebelumnya. Harga sapi bakalan di Australia naik dari rata-rata 1,25 dollar AS menjadi tembus 1,5 dollar AS per kg. Kenaikan harga sapi hidup di Australia, merupakan dampak dari kenaikan harga pakan. Selain itu Brasil dan AS juga menahan tidak menjual sapi mereka, bahkan mengimpor dari Australia. Belakangan ini banyak negara gagal panen jagung dan kedelai karena iklim yang tak menentu akibat pengaruh pemanasan global, hingga harga pakan sapi naik tajam.

    # # #

    Realisasi impor sapi selama 10 bulan pada tahun 2014, lebih besar dibanding tahun 2013 dan 2012 selama 12 bulan. Tahun 2013 impor sapi Indonesia sebanyak 262.000 ekor, dan tahun 2012 sebanyak 283.000 ekor. Adanya kelebihan pasokan sapi impor selama 2014, telah  mengakibatkan jatuhnya harga sapi hidup, terutama sapi impor hasil feedlot. Jatuhnya harga sapi hidup di tanah air ini, tak dinikmati oleh konsumen. Sebab harga daging sapi tidak turun. Maka selama awal tahun 2014, para pedagang daging di pasar tradisional panen raya, sementara para pengusaha feedlot rugi besar malahan ada yang langsung tutup.

    Para pengusaha feedlot ini tak mungkin memelihara terus ternak mereka. Sebab setelah mencapai bobot hidup 500 kg, pertumbuhan sapi akan melambat, sementara volume pakan tambah besar. Maka mereka pun harus menjual sapi hidup mereka secara merugi. Kerugian mereka ini, terutama karena pemasaran daging di Indonesia masih menggunakan pola tradisional. Daging yang dipotong hari ini, tanpa proses pelayuan langsung dijual pada hari ini juga. Sebagai bahan bakso, memang diperlukan daging segar tanpa pelayuan. Tetapi untuk bahan non bakso, daging ternak ruminansia, perlu dilayukan dalam suhu kamar selama 12 jam, atau dalam suhu 4o C, selama satu hari penuh (24 jam) sampai satu minggu.

    Dalam sistem perdagangan daging modern, setelah proses pelayuan karkas dibekukan dan disimpan dalam cold storage. Di negara-negara maju, konsumen hampir tak pernah membeli daging segar, melainkan daging beku. Dengan pola pemasaran daging seperti ini, peternak tak akan pernah merugi, meskipun harga sapi hidup sedang jatuh. Sapi yang sudah saatnya dipotong, akan langsung dipotong, dilayukan, dibekukan, dan disimpan dalam cold storage. Kemudian secara otomatis peternak akan mengurangi produksi mereka, dengan cara tidak membeli sapi bakalan. Dalam peternakan modern, memang terjadi spesifikasi.

    Paling hulu, ada aktivitas pemuliaan, yakni penciptaan induk-induk unggulan. Baik dengan cara seleksi, maupun melalui perkawinan silang. Hasil-hasil induk unggulan ini, akan dijadikan pejantan bagi para pembenih sapi. Pembenihan sapi, mutlak harus dilakukan di padang gembalaan, bukan dalam kandang. Sebab itulah cara paling murah. Hasil dari pembenihan inilah yang disebut sapi bakalan, yang terdiri dari bakalan sapi potong (jantan remaja); dan bakalan induk (betina remaja). Sapi bakalan jantan dijual oleh pembenih untuk digemukkan, dan sapi bakalan betina dijual untuk dijadikan calon induk.

    # # #

    Menteri pertanian memang menyebutkan, bahwa pemerintah akan mengutamakan impor sapi bakalan induk (sapi betina remaja). Dari Januari – Oktober 2014, realisasi impor sapi bakalan induk Indonesia sebanyak 19.415 ton atau  64.719 ekor dengan nilai Rp 620,6 milyar. Sebagian besar dari sapi bakalan induk yang didatangkan, merupakan bakalan induk sapi perah, bukan bakalan induk sapi potong. Sampai sekarang, Indonesia memang belum menemukan model pembenihan (breeding) sapi potong yang ideal. Pembenihan model peternakan rakyat, tak mungkin dipacu lebih cepat. Sementara pembenihan model breeding modern, justru akan merugi.

    Defisit induk sapi Indonesia saat ini sekitar 1,3 juta ekor. Inilah yang harus diupayakan untuk diimpor. Di Indonesia, peluang pembenihan sapi potong paling menguntungkan, apabila dilakukan di kebun sawit. Kita punya sekitar 13 juta hektar lahan sawit, yang dimungkinkan untuk pembenihan sapi potong. Dengan model sapi sawit, biaya pakan akan nol, hingga yang keluar hanya manajemen pembenihan, dan sarana pagar kawat berlistrik. Itulah yang harus menjadi prioritas Kementan saat ini. Namun dalam kunjungan ke Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Desember Tahun lalu, Wapres Jusuf Kalla mencanangkan target swasembada daging tiga tahun mendatang.

    Itu sesuatu yang hampir tidak mungkin. Apabila kita bisa benar-benar secara bertahap mengimpor bakalan induk, untuk pembenihan sapi sawit; maka baru pada empat tahun mendatang defisit induk ini akan teratasi. Setelah itu, perlu dua tahun lagi agar sapi jantan hasil pembenihan sapi sawit ini bisa dipanen. Hingga total diperlukan waktu enam tahun, baru Indonesia bisa swasembada daging. Dengan catatan, di pasar internasional tersedia bakalan induk untuk kita impor. Itulah semestinya prioritas Kementan. Bukan menyetop impor jeroan sapi, yang bukan menjadi permasalahan utama bisnis daging sapi Indonesia. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *