• TRAGEDI JERUK KEPROK INDONESIA

    by  • 27/07/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Seorang petani di Desa Ngablak, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah bernostalgia: “Tahun 1950an, ayah saya Naik Haji, hanya berbekal salah satu cabang pohon jeruk keprok di halaman rumah itu.”

    Yang ia maksud adalah jeruk keprok grabag (Citrus reticulata), yang tumbuh di halaman rumahnya. Hasil panen jeruk dari salah satu cabang pohon itu, sudah cukup untuk naik haji. Ini menandakan bahwa produktivitas jeruk keprok grabag sangat tinggi. Tahun 1950an, di halaman rumahnya tumbuh tiga batang pohon jeruk, warisan kakek buyutnya. Umur tanaman itu sudah puluhan tahun, dengan diameter batang 40 cm, dengan tinggi belasan meter. Masing-masing pohon jeruk itu bercabang tiga sampai lima. Hasil dari salah satu cabang itu bisa mencapai 500 kg buah jeruk. Itulah zaman keemasan jeruk keprok grabag.

    jeruk-siem-1a

    Selain keprok grabag di Jawa Tengah, Indonesia juga punya keprok takengon di Aceh, keprok kacang di Sumbar, keprok garut di Jabar, keprok tawangmangu di perbatasan Jateng Jatim, keprok batu di Malang, keprok tejakula di Bali, keprok selayar di Sulsel, dan keprok soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Jeruk keprok, diduga oleh para ahli berasal dari Asia Tenggara, khususnya dari Indonesia. Masa kejayaan jeruk keprok itu masih terus berlangsung sampai dengan tahun 1960an. Kemudian datanglah malapetaka. Wabah penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD), telah menghancurkan seluruh sentra jeruk keprok Indonesia, Asia Tenggara, bahkan juga India, RRC dan Taiwan.

    # # #

    Menghadapi serangan CVPD, pemerintah Indonesia tak tinggal diam. Diupayakanlah penyelamatan varietas jeruk keprok unggulan nasional itu, melalui proyek yang disebut “Blog Fondasi”. Jeruk-jeruk unggul itu dikumpulkan di Tlekung, dibersihkan dari penyakit, lalu dibudidayakan dalam ruang berkelambu, agar tak tercemar penyakit. Tanaman dalam blog fondasi ini dijadikan induk untuk diambil mata tunasnya, bagi benih yang akan disebar ke para petani. Namun petani sudah malas menanam jeruk keprok benih okulasi. Sebab nenek moyang mereka, menanam jeruk keprok dengan benih cangkokan, yang berbatang selengan, dengan tinggi lebih dari dua meter.

    jeruk-siem-a

    Petani Indonesia lebih tertarik mengembangkan jeruk siam (Citrus suhuensis), yang lebih cepat berbuah. Kalau keprok baru akan berbuah pada umur empat tahun, siam sudah mau berbuah pada umur dua tahun. Maka berkembanglah jeruk siam pontianak yang sangat terkenal pada era 1980an dan awal 1990an. Nasib jeruk siam pontianak juga tragis. Tataniaga jeruk yang diatur pemerintah, dengan melibatkan pengusaha dari Jakarta, telah membuat marah petani jeruk di Tebas, Kalbar. Mereka membabat habis tanaman jeruk mereka, atau membiarkannya tak terurus dan mati. Jeruk pontianak pun hancur. Upaya pemerintah untuk mengembalikan pamor jeruk pontianak, tak pernah berhasil sampai sekarang.

    Akibatnya, impor jeruk keprok kita dari tahun ke tahun terus naik. Tahun 2000, impor jeruk keprok negeri kita tercatat sebesar 58,4 ribu ton dengan nilai Rp 570 milyar. Tahun lalu (2012), impor jeruk keprok Indonesia sudah mencapai 179 ribu ton, dengan nilai Rp 1,6 trilliun. Ini baru jeruk keprok, belum termasuk jeruk manis (orange, Citrus sinensis), dan jeruk besar (pomelo, Citrus grandis), yang tiap menjelang Imlek membanjiri pasar Indonesia.    Padahal kualitas jeruk impor itu belum tentu sebaik jeruk siam kita. Jeruk keprok impor eks Pakistan misalnya, berpenampilan menarik, akan tetapi rasanya sangat masam. Kelebihan jeruk impor ini hanyalah pada harga, yang bisa separo dari jeruk keprok kita.

    # # #

    Meskipun akibat serangan CVPD jeruk keprok kita hancur, tetap ada satu dua petani yang masih terus membudidayakannya. Di tepi jalan raya Bedugul Kintamani di Bali, masih tersisa tanaman jeruk keprok tejakula. Di Aceh juga masih tersisa jeruk takengon, dan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, juga masih tersisa jeruk keprok soe, yang harganya duakali lipat jeruk impor. Di Sumatera Utara, belakangan juga berkembang jeruk keprok medan, yang sebenarnya merupakan siam dataran tinggi. Jeruk siam apabila dibudidayakan pada elevasi di atas 1000 m. dpl, akan berwarna kuning, berkulit tebal, dan segmen buahnya mudah dipisahkan satu sama lain, dengan serabut putih dominan. Sepintas penampilan fisik siam dataran tinggi tampak persis sama dengan jeruk keprok. Yang membedakan hanya aroma kulitnya.

    Langkah penyelamatan jeruk keprok unggul ke masing-masing sentra, sebenarnya hanya sekadar memenuhi rasa nostalgia, mirip dengan petani di Ngablak, Kabupaten Magelang. Langkah yang ditempuh Thailand, Taiwan, RRC, Jepang, dan hampir semua negara penghasil jeruk dunia, berbeda dengan langkah pemerintah kita. Mereka segera mencari varietas unggul baru, yang tahan terhadap serangan CVPD. Maka terciptalah varietas-varietas keprok unggul baru seperti  Clementine, Tangerine, Ponkan, dan Satsuma. Thailand, yang juga terkena dampak CVPD, tak mau bernostalgia, melainkan segera mengumpulkan biji jeruk keprok dari AS dan Australia. Biji-biji itu ditanam dan dibiarkan berbuah. Hasilnya, yang paling cocok dengan agroklimat Thailand adalah Keprok Fremont dari Kalifornia, AS. Fremont merupakan hasil silangan antara Keprok Clementine dengan Ponkan yang dirilis 1964.

    Di Thailand, Keprok Fremont ini nama lokal menjadi Frimong, dan tahun 1980an masuk Indonesia. Keprok Frimong pernah dibudidayakan di Karawang, Sumedang, Cianjur, dan Tapos, Jawa Barat. Tahun 1988, nasib agribisnis jeruk keprok di Brasil, juga terancam oleh virus baru. Citrus Sudden Death-Associated Virus (CSD Virus) telah menghancurkan seluruh areal perkebunan jeruk di negeri tersebut. Akan tetapi Brasil segera bangkit dengan membudidayakan varietas-varietas jeruk manis tahan CSD Virus. Awal tahun 2000an agroindustri jeruk manis di Brasil pulih. Tahun 2008, produksi jeruk manis Brasil bisa melampaui RRC, sampai sekarang. Produksi jeruk manis RRC hanya 2,8 juta ton buah segar. Sementara Brasil mampu menghasilkan 18,2 juta ton. Produsen utama jeruk keprok dunia masih tetap dipegang RRC dengan 14,1 juta ton buah segar. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *