LENGKENG MERAH
by indrihr • 03/08/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Baru-baru ini saya membaca di sebuah media, ada lengkeng merah. Bagaimanakah prospek bisnis lengkeng jenis ini, dan di manakah saya bisa memperoleh benihnya? Apakah jenis ini bisa ditanam di dataran rendah? (Imam, Purwokerto).
Sdr. Imam, yang Anda sebutkan itu sebenarnya hanya merupakan varian dari lengkeng biasa, yang pengembangannya secara komersial masih memerlukan banyak persyaratan. Misalnya, benarkah kualitas daging buah lengkeng berkulit magenta, itu sebaik daging buah lengkeng dataran tinggi? Sebab semua jenis lengkeng dataran rendah yang 15 tahun silam pernah dipromosikan hebat luarbiasa itu, ternyata sampai sekarang tetap tak bisa dikembangkan secara komersial di Indonesia.
Lengkeng-lengkeng dataran rendah seperti diamond river, ping-pong, dan kristalin, tetap punya banyak kelemahan, hingga sampai sekarang hanya sekadar menjadi tanaman hias di halaman rumah, atau dikembangkan sebagai obyek wisata agro. Selang 15 tahun sejak lengkeng-lengkeng hebat itu dipublikasikan, tetap tak ada kebun produksi yang tumbuh secara komersial. Hingga lengkeng merah ini pun, sebenarnya hanya sebatas “tanaman hias” yang karena suplai benih masih terbatas, harga melambung tinggi.
Ketika lengkeng diamond river pertama tampil pada ajang pameran Flona di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat; harga benih setinggi 30 cm, dengan beberapa helai daun, mencapai Rp 250.000, dan laris. Di beberapa kios tanaman, harga benih lengkeng baru ini mencapai Rp 300.000 bahkan sampai Rp 500.000 per polybag. Pembelinya tentu bukan calon pekebun, melainkan para hobiis yang akan menanamnya di halaman rumah, atau sebagai tanaman buah dalam pot (tabulampot).
Indikasi bahwa lengkeng dataran rendah tak berkembang di Indonesia, tampak dari volume dan nilai impor lengkeng kita. Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat impor lengkeng Indonesia tahun 2011 mencapai 105.686,8 ton; dengan nilai 111.793.118 4 dollar AS atau Rp 1.006.138.062.000 (Rp 1,006 triliun, kurs Rp 9.500). Tahun 2012 sebesar 119.052,5 ton; dengan nilai 138.534.487 dollar AS, atau Rp 1.316.077.626.500 (Rp 1,3 triliun, kurs Rp 9.500). Tahun 2013 sebesar 56.281,4 ton dengan nilai 66.798.636 US $ (Rp 734.784.996.000 (Rp 734,7 milyar, kurs Rp 11.000)
Turunnya impor lengkeng pada tahun 2013, bukan disebabkan oleh produksi dalam negeri naik, melainkan karena ada pembatasan impor durian dari Thailand; sebagai bagian dari kebijakan pembatasan impor 13 produk hortikultura pada tahun 2013. Biasanya, lengkeng Thailand dikapalkan bersama dengan durian, sebab saat musimnya hampir bersamaan. BPS juga tidak mencatat volume produksi lengkeng di Indonesia, atau di provinsi yang menghasilkannya. Berarti, sejalan dengan naiknya volume impor, mati pulalah sentra lengkeng di Indonesia.
Sdr. Imam, tentang teknis memperoleh benih, dan lain-lain; saya sarankan Anda bertanya langsung ke media yang memublikasikan informasi tersebut. Bagi Indonesia saat ini, membuka kebun lengkeng, dataran tinggi di Jawa Timur sampai ke NTT, menjadi sesuatu yang sangat urgent, agar pada suatu saat nanti; kita tidak perlu mengimpor lengkeng lagi. Kultivar (varietas) yang selama ini terbukti unggul, barulah itoh (idoh), yang diintroduksi dari Thailand, dan hanya bisa berproduksi baik pada ketinggian di atas 800 m. dpl, dengan agroklimat kering. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

