• PELUANG AGROINDUSTRI MINYAK ASIRI

    by  • 16/09/2015 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Kalau kita melintasi jalan raya Ciawi – Lido, di tepi jalan akan tampak masyarakat menjemur buah pinang dan pala muda. Buah pinang itu akan langsung diekspor, sementara pala mudanya akan disuling (didestilasi) untuk diambil minyak asirinya.

    Belakangan daun pala juga sering dipanen untuk disuling diambil minyaknya. Meskipun banyak pemilik tanaman pala yang tak mengizinkan daun tanaman itu dipanen. Lain halnya dengan daun cengkih. Pada musim kemarau, daun cengkih yang rontok dipungut untuk disuling diambil minyak asirinya. Sampai sekarang, Indonesia masih merupakan penghasil minyak daun cengkih nomor satu dunia. Di sepanjang jalur jalan raya Ciawi – Lido, memang banyak ketel penyulingan minyak asiri. Selain pala muda, ketel-ketel ini juga menyuling sereh wangi, nilam, daun serta gagang cengkih. Kadang ketel-ketel ini juga menyuling kayu sintok dan kulit kayu lawang.

    pala-terbaru-a

    Indonesia, sampai saat ini masih menjadi pemasok minyak asiri utama dunia. Produk minyak asiri utama Indonesia adalah minyak daun cengkih (clove leaf oil), nilam (patchouli oil), kayu putih (cajeput oil). Sebelumnya, Indonesia juga penghasil minyak sereh wangi (Citronella oil), akar wangi (vetiver oil), dan minyak kenanga (cananga oil). Sekarang Sri Lanka mengambilalih posisi Indonesia sebagai penghasil minyak sereh wangi. Haiti dan Reunion mengambilalih posisi Indonesia sebagai penghasil minyak akar wangi. Posisi penghasil minyak kenanga Indonesia, sampai sekarang tak tergantikan oleh negeri mana pun.

    Pada tahun 1970an, memang terjadi perubahan pola pemanfaatan minyak asiri dunia. Sebelum tahun 1970an, industri aromatik (essence) untuk kosmetik makanan, minuman, rokok dan lain-lain industri, menggunakan bahan asli. Misalnya pewangi ruangan beraroma mawar, benar-benar menggunakan minyak mawar asli (rose oil). Tahun 1970an, terjadilah revolusi industri wewangian. Hampir semua aroma bisa disintesis. Yang disebut aroma sintetis, sebenarnya juga berbahan baku minyak asiri, namun dari jenis yang paling murah. Aroma massal untuk pengharum ruangan, pembersih lantai, cat, dan lain-lain; disintetis dari terpentin limbah industri pulp.

    # # #

    Aroma-aroma yang lebih eksklusif, disintesis dari minyak daun cengkih. Vanilla sintetis misalnya, berbahan baku minyak daun cengkih. Sejak itulah terjadi perubahan pemanfaatan minyak asiri secara drastis. Agroindustri minyak gandapura (wintergreen oil) di AS untuk aroma minuman berkarbonat root beer dan pasta gigi Darkie (sekarang Darlie), langsung tutup. Jawa Barat yang sebelumnya dikenal sebagai pemasok minyak sereh wangi dan akar wangi, juga surut. Sampai dengan tahun 1980an, Kabupaten Subang, Jawa Barat, merupakan penghasil minyak sereh wangi terbesar di dunia. Sekarang tinggal ada satu pengusaha yang mengelola ketel sereh wangi.

    Tidak semua minyak asiri secara ekonomis bisa disintesis. Minyak nilam misalnya, sampai sekarang tidak disintesis, karena rantai karbonnya demikian panjang. Hingga minyak nilam asli hasil destilasi tanaman nilam, masih lebih murah dibanding produk sintetisnya. Minyak nilam juga akan selalu diperlukan dalam volume cukup besar, sebab dalam industri aromatik, terutama industri parfum, minyak nilam berfungsi sebagai pengikat (fixative). Tanpa diberi minyak nilam, semua parfum akan cepat hilang, menguap di udara. Dengan pengikat minyak nilam, parfum itu akan menempel lebih lama pada pakaian atau kulit tubuh manusia. Ketika harga minyak nilam mencapai Rp 3 juta rupiah pada awal tahun 2000an, hampir saja produk ini disintesis.

    Teknologi industri minyak asiri, sebenarnya tidak hanya penyulingan, melainkan juga dengan ekstraksi. Kandungan minyak pada melati misalnya, hanya 0,2%  (dua permil) hingga akan hilang apabila disuling langsung. Maka minyak dalam bunga melati itu dilarutkan terlebih dahulu menggunakan eter, baru kemudian parfum melati itu dipisahkan dari eter dengan penyulingan pada suhu sangat rendah. Kawasan tropis seperti Indonesia, sangat kaya bahan minyak asiri. Lain dengan kawasan sub tropis seperti Eropa. Tetapi Indonesia masih belum secara optimal memanfaatkan produk minyak asiri sebagai komoditas unggulan.

    # # #

    Selama ini agroindustri minyak asiri Indonesia seperti patah tumbuh hilang berganti. Hanya ada satu dua pelaku yang konsisten dalam jangka waktu lama. Salah satunya PT Djasula Wangi, yang berkantor di Kemayoran. Kelemahan agroindustri minyak asiri Indonesia, karena para investor lebih senang masuk di hilir dengan membangun ketel penyulingan, tanpa mau membudidayakan komoditas tersebut. Dampaknya, ketel itu akan menjadi besi tua, karena pasokan bahan baku tak kontinu. Idealnya satu ketel ukuran 10 ton raw material didukung oleh 25 hektar lahan budi daya. Satu ketel penyulingan, idealnya juga mengandalkan paling sedikit lima komoditas.

    Pada musim kemarau menyuling daun cengkih, dan bunga-bungaan (misalnya kenanga, dan ylang-ylang). Pada musim penghujan, menyuling nilam dan sereh wangi. Idealnya pemilik ketel tidak hanya mengoperasikan ketel kapasitas besar, melainkan juga kapasitas sedang 1 – 2 ton; kecil 1- 2 kuintal; dan mikro 5 – 10 kg. Dengan cara itu, daun jeruk purut atau rimpang jeringau tujuh kilo juga bisa disuling. Komoditas mikro seperti ini, justru bernilai sangat tinggi. Minyak bunga melati (jasmine absolute) misalnya, bisa bernilai di atas Rp 20 juta per kg. tetapi untuk mendapatkan satu kilo minyak melati, diperlukan 500 kilo bunga.

    Meskipun industri essence modern tak lagi menggunakan produk asli, bukan berarti minyak asiri tak diperlukan. Produk minyak asiri asli tetap diperlukan, dan berharga sangat tinggi. Hanya keperluannya tidak akan banyak. Biasanya harga minyak nilam pada awal tahun akan turun, karena banyak hujan, yang berarti banyak daun. Tetapi tahun 2015 ini harga minyak nilam di tingkat petani justru naik. Akhir tahun 2014, harga minyak nilam hanya Rp 500 – Rp 600 ribu per kg. Awal tahun 2015 ini harga minyak nilam tembus ke Rp 700 ribu per kg. Kemungkinan besar, karena yang mau menanam nilam tidak banyak, atau permintaan yang semakin tinggi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *