BISNIS BUAH YANG NYARIS PUNAH
by indrihr • 21/09/2015 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Bulan Februari ini di pasar-pasar tradisional DKI akan tampak penjual buah menteng (kepundung, mundung, Baccaurea racemosa). Sama dengan buah musiman lain, musim buah menteng kali ini agak mundur. Biasanya menteng berbuah bulan November dan Desember.
Tak banyak orang tahu buah menteng. Kalau kita klik di Google kata menteng, yang akan muncul pertama justru Menteng, Jakarta Pusat. Sebab kata Menteng sebagai nama kecamatan di Jakarta, lebih dikenal luas oleh masyarakat, dibanding buah menteng. Selain Menteng, masih ada kemang (Mangifera caesia), gandaria (Bouea macrophylla), dan sentul (kecapi, Sandoricum koetjape), yang juga menjadi nama tempat tetapi nyaris punah. Beberapa nama tempat di Jakarta dan sekitarnya juga berasal dari nama buah, tetapi buah tersebut tak terancam punah. Misalnya Kebon Nanas, Kebon Jeruk, Kemanggisan, Cimanggis, Cisalak, Kampung Rambutan, Pisangan, Duren Sawit, Duren Tiga, Mangga Dua, dan Mangga Besar.
Ada pula buah-buahan yang tidak menjadi nama tempat, tetapi keberadaannya juga nyaris punah. Di antaranya: duwet (juwet, jamblang, jambolan, Syzygium cumini), jambu mawar (Syzygium jambos), kepel (burahol, Stelechocarpus burahol), kapulasan (Nephelium mutabile), bacang (pakel, Mangifera odorata), marang (terap, Artocarpus odoratissimus), benda (bendo, Artocarpus elasticus), tempuni (kundang, peusar, Artocarpus rigidus), mundu (Garcinia dulcis), nam-nam (kopi anjing, Cynometra cauliflora), kawista (Limonia acidissima), maja (Aegle marmelos). Buah-buahan itu tersisih, tak terperhatikan masyarakat, padahal sebenarnya tetap bernilai komersial cukup baik.
Di India, duwet dan maja dibudidayakan secara luas dan masuk ke sektor industri sebagai bahan minuman. Minuman berbahan baku duwet dan maja dibotolkan serta dikalengkan, masuk pasar swalayan, berjajar dengan minuman-minuman botol serta kaleng bermerk produk industri multinasional. Di Thailand, buah gandaria dan kecapi, dibudidayakan setara dengan buah-buahan komersial lain. Pada saat sedang musimnya, buah gandaria masak berwarna kuning, dengan biji ungu, selalu tampak di gerai swalayan besar. Demikian pula buah kecapi yang di Bangkok mampu berjajar secara terhormat dengan apel, pir, jeruk, dan anggur. Di dua negara ini, buah-buahan yang terancam punah diperhatikan cukup serius oleh pemerintah dan masyarakat.
Sebenarnya, secara bisnis memang akan berlaku hukum pasar. Buah-buahan dengan nilai komersial baik, akan dibudidayakan secara luas. Sementara buah dengan nilai komersial tak terlalu bagus akan tersisihkan. Kalau hanya ini yang terjadi, buah-buahan dengan nilai komersial rendah hanya akan berkurang volumenya, tetapi tetap hadir di pasar secara terbatas. Yang terjadi di Indonesia, buah-buahan ini semakin lama semakin sulit dijumpai keberadaannya hingga terancam punah. Tahun 1960an, buah nam-nam masih bisa dengan mudah dijumpai di banyak tempat, dan dijual di pasar tradisional. Sekarang, mencari pohon nam-nam pun sudah sangat sulit, apalagi buahnya. Marang, tempuni, dan maja malahan sudah sulit dikenali oleh masyarakat.
Buah-buahan langka ini memang tidak mungkin dibudidayakan secara biasa, kemudian dipasarkan sama dengan buah-buahan lain. Kalau itu yang dilakukan, buah-buah yang terancam punah ini akan kalah. Pengembangan buah-buah langka ini harus secara spesifik, dan dikaitkan dengan aktivitas wisata. Eksistensi buah kawista di Kabupaten Rembang, bisa menjadi model pengembangan. Di Rembang, kawista bisa dilestarikan dan mendapatkan tempat di masyarakat. Apabila pas musimnya di restoran dan warung kota Rembang, dengan mudah pengunjung bisa memesan jus kawista. Di sini juga ada pabrik sirup kawista skala kecil, tetapi tetap bisa eksis. Sayangnya, pemerintah daerah masih belum mendorong agar kawista Kabupaten Rembang dipromosikan secara nasional.
Di Kabupaten Bogor, ada buah alkesa (sawo ubi, kanistel, Pouteria campechiana), dan bisbul (buah mentega, Diospyros discolor). Buah-buahan ini bernasib lebih buruk dibanding kawista di Rembang. Alkesa dan bisbul hanya digerai sebagai buah di kakilima pasar tradisional. Padahal sama dengan kawista, alkesa dan bisbul tidak mungkin dikonsumsi sebagai buah segar. Di Filipina, alkesa dikonsumsi sebagai eskrim, dan bisbul dalam bentuk jus buah. Di Kabupaten Rembang pun, kawista bukan dikonsumsi sebagai buah, melainkan sebagai minuman. Di India, duwet dan maja juga merupakan bahan minuman langsung (jus) dan minuman dalam kemasan. Buah langka yang dipasarkan sebagai “buah eskotis” hanyalah gandaria di Thailand.
# # #
Kelalaian tidak memperhatikan buah-buahan yang tersisih, pernah dialami oleh Tiongkok. Masyarakat dan pemerintah negara ini pernah menyia-nyiakan buah kiwi (Actinidia deliciosa). Buah yang tersia-siakan ini dikembangkan oleh Selandia Baru pada tahun 1900an dan diterima oleh pasar. Sejak itu kiwi menjadi buah yang mendunia. Sepuluh besar penghasil kiwi dunia saat ini adalah Italia 384.844 (ton), Selandia Baru 376.400, Chile 240.000, Yunani 161.400, Perancis 65.253, Turki 36.781, Iran 32.000, Jepang 28.000, AS 26.853, dan Portugal 25.000. Tiongkok tak masuk dalam hitungan 10 besar tersebut, padahal kiwi merupakan buah nasional mereka, selain jojoba (Ziziphus jujuba).
Australia juga pernah “kecurian start” pengembangan makadamia. Penghasil kacang makadamia (macadamia nut) ini asli Australia. Tetapi Hawaii terlebih dahulu mengembangkan, disusul Afrika Selatan. Merasa kecolongan, Australia berupaya mengejar. Sekarang selama lima tahun terakhir rata-rata, Australia merupakan penghasil makadamia terbesar dunia. Meskipun pada tahun-tahun tertentu, posisi nomor satu masih dipegang oleh Afrika Selatan. Nasib serupa juga dialami oleh buah ackee (Blighia sapida). Buah ini asli Afrika Barat. Masyakarat di kawasan ini, tak memperhatikannya. Para budak Negro di Jamaika mengembangkannya hingga sekarang ackee menjadi komoditas ekspor serta buah nasional negeri tersebut.
Dari 32 spesies durian (Durio), sebagian besar merupakan tumbuhan asli hutan Kalimantan. Yang cukup menarik untuk dikembangkan durian lai (Durio kutajensis), durian merah (Durio graveolens), dan durian kura-kura (Durio testudinarius). Durian lai menarik karena warnanya oranye, daging buah sudah cukup tebal dan tak ada aroma duriannya. Durian merah lebih menarik lagi, karena warna daging buahnya benar-benar merah. Durian merah banyuwangi, dan durian pelangi papua, merupakan hibrida alami durian merah dengan durian biasa (Durio zibethinus). Durian kura-kura menarik karena buahnya menempel di pangkal batang. Kalau tak segera diurus, nasib durian kita ini juga akan seperti kiwi. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan


