BISNIS TALAS DAN KELADI
by indrihr • 30/10/2015 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments
Selama Ramadan, kolak menjadi menu utama berbuka puasa. Bahan yang paling banyak dibuat kolak: pisang olahan (tanduk, kepok kuning, raja bulu), labu parang, ubi jalar (terutama yang merah), kolang-kaling. Kadangkala juga singkong.
Mengapa talas dan keladi jarang dijadikan bahan kolak? Padahal dua komoditas ini, tak kalah lezat dijadikan bahan kolak. Kelebihan talas dan keladi, rasanya relatif tawar, hingga selain bisa dimasak manis juga bisa dijadikan makanan pokok untuk substitusi biji-bijian. Beda dengan ubi jalar, yang setawar apa pun, tetap masih ada rasa manisnya. Negara bagian Hawaii, AS, paling intens mengekplorasi talas, dengan menciptakan mitos bahwa talas merupakan penjelmaan Haloa Naka, putera pertama Wakea (Bapa Angkasa) dengan Papa (Ibu Pertiwi), yang langsung meninggal saat lahir. Dari makam Haloa Naka inilah tumbuh tanaman talas. Untuk menghormati Haloa Naka, dalam menu makan malam keluarga Hawaii harus ada poi, bubur berbahan baku talas.
Selain untuk penghormatan, dengan menyantap talas, masyarakat Hawaii juga berharap berumur panjang, sebab Haloa Naka berarti nafas abadi. Selain poi dari umbi talas, masyarakat Hawaii juga punya menu khas dari daun talas yang disebut Lau-lau. Ini mirip dengan buntil di Indonesia. Di restoran-restoran Hawaii kita bisa menyantap Poi dengan berbagai lauk. Bahkan di McDonalds Honolulu, kita bisa menyantap Taro Pie, dan nasi dengan Lau-lau. Masih dalam rangka menghormati Haloa Naka, tiap bulan April masyarakat Hawaii menyelenggarakan Festival Talas (East Maui Taro Festival), di kota Hana, pulau Maui. Sampai sekarang sudah terselenggara sebanyak 21 kali festival talas. The 21st Annual East Maui Taro Festival tahun ini diselenggarakan, pada hari Sabtu dan Minggu, 20 – 21 April 2013.
# # #
Eksplorasi potensi bisnis talas oleh masyarakat Hawaii tidak hanya berhenti sampai di sini. Di Lembah Hanalei, Pulau Kauai, ada hamparan sawah talas, milik keluarga Nakayama. Kalau kita berkunjung ke sawah talas itu, akan disambut oleh Lyndsey Haraguchi-Nakayama, generasi ke enam pemilik sawah talas itu. Di sana kita juga akan disuguhi aneka menu dan jajanan berbahan baku talas. Masyarakat Hawaii pintar mengemas komoditas apa pun, menjadi obyek wisata, termasuk talas. Padahal, Amerika Serikat (terutama Hawaii), hanya tercatat sebagai penghasil talas pada peringkat 35 dunia, dengan volume 1.770 ton. Indonesia tidak masuk dalam peringkat 50 negara penghasil talas dunia, padahal komoditas ini berasal dari Asia Tenggara, termasuk dari negeri kita.
Duapuluh besar penghasil talas dunia (dalam ton) terdiri dari: 1. Nigeria 2.593.860; 2. RRC 1.754.100; 3. Kameron 1.470.000; 4. Ghana 1.354.800; 5. Papua Nugini 271.100; 6. Madagaskar 270.200; 7. Rwanda 185.964; 8. Jepang 153.500; 9. Mesir 119.379; 10. Republik Afrika Tengah 118.000; 11. Filipina 110.761; 12. Thailand 76.700; 13. Pantai Gading 70.000; 14. Rep. Demokrasi Kongo 66.641; 15. Fiji 60.283; 16. Gabon 55.000; 17. Solomon 46.000; 18. São Tomé and Príncipe 27.500; 19. Chad 25.700; 20. Togo 20.165. Berarti dalam urusan talas pun, kita kalah dari Papua Nugini, Solomon, bahkan dengan São Tomé and Príncipe, sebuah negara pulau di pantai barat Afrika, yang hanya berpenduduk 180 ribu jiwa (Kabupaten Bogor 4.771.932 jiwa), dengan luas areal 1.000 km2 (Kabupaten Bogor 2.071 km2).
Di dunia internasional, ada empat genus umbi-umbian yang disebut taro (di Asia, Pasifik, dan Amerika) atau cocoyam (di Afrika). Pertama talas, Genus Colocasia yang terdiri dari 16 spesies, di antaranya yang cukup penting C. esculenta var. esculenta (talas darat, talas bogor); C. esculenta var. aquatilis (talas air bentul, kimpul gendruk); C. esculenta var. antiquorum (talas darat, satoimo, araimo, eddoe, chaama dumpalu, kimpul plècèt, taro patato). C. gigantea, giant taro leaves, thailand giant, talas sayur, lumbu bayem, kemumu. Talas sayur ini tidak menghasilkan umbi, tetapi daun dan pelepah daun sebagai sayuran. Kedua Genus Xanthosoma (211 spesies). Yang paling penting Xanthosoma sagittifolium, keladi, kimpul, mbothé, malanga. Tiga sénthé, genus Alocasia (80 spesies). dengan genus terpenting Alocasia macrorryzos, giant taro. Terakhir pulaka, genus Cyrtosperma, swamp taro (12 spesies), dengan spesies utama Cyrtosperma merkusii.
# # #
Umbi sénthé dan pulaka hanya dikonsumsi di Pasifik Selatan (Solomon, Samoa, Vanuatu, Tuvalu, Tonga). Di Indonesia, sénthé hanya dimanfaatkan daunnya sebagai pakan ikan gurami. Pulaka sama sekali tak dikenal. Padahal sama dengan talas, sénthé dan pulaka juga asli Indonesia. Dari empat genus tanaman yang disebut taro atau cocoyam ini, yang tanaman pendatang hanyalah keladi. Meskipun sudah sangat memasyarakat, keladi merupakan tanaman introduksi dari Amerika Latin. Yang memasukkan ke Indonesia bangsa Portugis. Kalau taro yang dibudidayakan di Hawaii jenis talas air, cocoyam yang dihasilkan negara-negara Afrika Barat, terutama Nigeria justru keladi. Di Indonesia keladi belum dibudidayakan secara monokultur. Umbi keladi yang ada di pasar, berasal dari kebun rakyat di bawah tegakan macam-macam pohon.
Kualitas talas dan keladi, hampir sama sebagai bahan pangan. Bedanya, tekstur umbi keladi lebih pera dibanding talas. Keladi hanya bisa dibudidayakan di darat, sementara talas ada varietas darat, ada varietas air. Di Hawaii lebih banyak dibudidayakan talas air. Di Taiwan, RRC, Thailand, Papua Nugini lebih banyak dibudidayakan talas darat. Masyarakat Jepang lebih senang satoimo. Di Afrika Barat, terutama di Nigeria, lebih banyak dibudidayakan keladi, bukan talas. Di Afrika Barat, keladi disebut cocoyam, untuk membedakannya dengan uwi (huwi, ubi, Dioscorea alata), yang mereka sebut yam. Selain menjadi penghasil keladi nomor satu dunia, Nigeria juga penghasil singkong, dan uwi, nomor satu dunia. Meskipun tidak mungkin membudidayakan padi karena agroklimatnya yang sudah terlalu kering, praktis negeri ini tak kekurangan bahan pangan.
Di Indonesia, baik talas maupun keladi sama sekali belum terperhatikan. Meskipun talas identik dengan nama “bogor” namun komoditas ini dibudidayakan hanya sebatas untuk komoditas oleh-oleh, di sepanjang jalur wisata Puncak dan Ciawi Sukabumi. Harga talas juga sangat tinggi dibanding dengan singkong dan keladi. Bahkan terjadi ironi: harga talas mentah di sepanjang jalur Puncak, jauh lebih tinggi dibanding talas masak (kukus, atau goreng) di Metropolitan Jakarta. Ini merupakan sesuatu yang justru jadi kendala pengembangan komoditas talas. Media massa, terutama televisi juga dominan dengan tayangan sejenis sinetron, infotainment, dan debat masalah politik, sementara informasi tentang talas, dan keladi hampir tak pernah tertayangkan. Maka selama Ramadan 2013 ini pun, sulit untuk menjumpai kolak talas dan keladi. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto-foto : F. Rahardi


