• KAYU BALSA

    by  • 02/02/2016 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Bangsa Polynesia (Pasifik) merupakan orang-orang Negro yang bermigrasi dari Afrika 70.000 tahun silam. Mereka menjadi tak terlalu hitam, karena pada abad tiga dan empat, bercampur dengan ras Mongoloid (Indian) yang datang dari Amerika Tengah dan Selatan.

    Orang-orang Indian Amerika Tengah dan Selatan, mengarungi Pasifik menggunakan rakit kayu balsa (Ochroma pyramidale) yang ringan tapi kuat. Dalam Bahasa Spanyol, balsa berarti rakit. Masyarakat Indian menyebut balsa dengan nama boya, yang berarti pelampung. Teori penggunaan kayu balsa sebagai rakit oleh masyarakat Indian untuk bermigrasi ke Pasifik pertamakali dilontarkan oleh Thor Heyerdahl, seorang arkeolog Norwedia kelahiran 1914. Untuk membuktikan teori ini, tahun 1947 Heyerdahl membuat Kon-Tiki, replika rakit purba dari kayu balsa.

    balsa-a
    Heyerdahl berhasil mengarungi Pasifik sejauh 8.000 km. selama 101 hari, dari Atol Raroia ke kepulauan Tuamotu. Selama lebih dari tiga bulan, rakit Kon-Tiki berhasil selamat meskipun terombang-ambing diterpa gelombang samudera Pasifik. Karena ringan dan kuat, kayu balsa  tepat untuk bahan bangunan di kawasan gempa. Apabila bangunan dari kayu balsa sampai roboh karena gempa, kayu itu cukup ringan hingga tidak membahayakan penghuninya. Asalkan dinding dan atap bangunan juga terbuat dari bahan yang ringan seperti asbes, seng, sirap, rumbia, dan alang-alang.

    Selain ringan dan kuat, kayu balsa juga mudah dipotong, dibelah dan dibentuk. Karenanya, kayu balsa menjadi pilihan utama untuk membuat pesawat model (aeromodelling) dan pesawat terbang layang (gliding). Sampai sekarang belum ada bahan lain yang bisa menggantikan kayu balsa sebagai bahan pesawat model, dan terbang layang. Meskipun fiberglass ringan, kuat dan murah; tetapi berat jenisnya (BD) 0,24 masih kalah dari kayu balsa yang hanya 0,16. BD sengon (jeungjing) 0,33; BD jabon 0,42; dan Jati 0,68. Jadi dibanding kayu sengon yang terkenal paling ringan pun, balsa masih lebih ringan, tetapi dengan kekuatan lebih tinggi.

    # # #

    Sekarang papan selancar (surfing) memang lebih banyak terbuat dari fiberglass. Tetapi papan selancar dengan kualitas tinggi masih terbuat dari kayu balsa. Demikian pula dengan raket tenis meja (ping-pong) yang selalu terbuat dari kayu balsa. Balsa termasuk jenis kayu untuk kebutuhan khusus, karena ringan dan kuatnya. Kayu-kayu lunak seperti sengon, kapuk randu, kemiri, pulai juga sangat ringan tetapi kekuatannya sangat terbatas. Karena keterbatasan pemanfaatan inilah maka budi daya kayu balsa di Indonesia masih sangat terbatas. Selain Perum  Perhutani, ada beberapa petani di Jawa Timur, Jawa Barat dan Banten yang telah mengusahakan budi daya kayu balsa.

    Kayu balsa biasanya tak dijual dalam bentuk gelondongan (kayu bulat), melainkan sudah dipotong dan dibentuk sesuai dengan kebutuhan untuk pesawat model. Sebab aeromodelling dan pesawat terbang layang merupakan penyerap kayu balsa paling besar. Harga kayu balsa dalam negeri, sangat murah dibanding harga di pasar internasional. Di Indonesia, potongan kayu balsa ukuran 5 cm x 8 cm x 93 cm dijual dengan harga Rp 55.000. Di pasar internasional, ukuran
    5 cm x 10 cm x 30 cm dijual dengan harga 5,49 dollar AS. Dengan kurs Rp 13.000 per satu dollar AS, harga blok kayu balsa itu Rp 71.370. Padahal ukurannya hanya sepertiga dari blok kayu balsa dalam negeri. Dengan ukuran sama, harga kayu balsa di pasar global tiga kali lipat dari harga kayu balsa dalam negeri.

    Dibanding dengan sengon dan jabon, balsa bisa tumbuh lebih cepat. Dalam waktu enam bulan, balsa sudah bisa tumbuh setinggi 4 m. dengan diameter batang 2 cm. Umur 6 sd. 10 tahun, balsa sudah mencapai diameter sekitar 40 cm. dan siap ditebang. Apabila tak ditebang, balsa bisa mencapai ketinggian 30 m dengan diameter batang antara lebih dari 1 m. Beda dengan albisia yang berdaun mirip lamtoro, balsa berdaun lebar, lebih lebar dari gamelina. Bedanya, kalau daun gamelina berbentuk jantung, maka daun balsa lebih mirip dengan daun kemiri yang agak menjari. Lebar daun sekitar 20 cm dengan panjang 30 cm. Daun balsa tumbuh sangat lebat. Hingga tanaman ini cocok digunakan untuk menghijaukan lahan-lahan kritis.

    Bunga balsa tumbuh menggerombol di pucuk ranting. Kelopak bunganya ada lima, dengan warna kelopak putih dan kepala sari kuning cerah dengan tangkai bunga yang cukup panjang. Buah balsa akan pecah setelah tua dan kering. Satu buah bisa menghasilkan lebih dari 100 biji yang tersembunyi dalam “kapas” berwarna kecoklatan. Biji balsa berwarna coklat kehitaman, berukuran sekitar 1 mm, berbantuk agak pipih. Pada siang hari biji dengan kapas ini akan terbang terbawa angin, hingga bisa tumbuh jauh dari tanaman induknya. Biji-biji ini akan tumbuh di tempat yang terbuka namun lembap. Sama dengan albisia dan gamelina, biji balsa juga mudah sekali tumbuh di pesemaian.

    # # #

    Sebagai kayu paling ringan di dunia, balsa tak hanya merupakan bahan pesawat aeromodelling, terbang layang, papan selancar, dan bahan bangunan tahan gempa. Kayu ini juga sangat baik sebagai bahan meubel dan perkakas rumah tangga dengan kelebihan sangat ringan. Meubel dari kayu balsa mudah diangkat dan dipindah-pindahkan karena ringan. Sebagai kayu ringan, balsa memerlukan penanganan paska panen agar tak mudah lapuk dan dimakan ngengat (kutu kayu). Biasanya kayu-kayu lunak yang telah dipotong dan dibentuk sesuai ukuran ini  diawetkan dengan memasukkannya ke dalam tabung vakum dan kemudian ke dalam tabung itu dimasukkan zat pengawet kayu. Teknik ini disebut wood injector.

    Tekanan dalam tabung wood injector sebesar 170 bar untuk luas permukaan 95 cm dan  50 bar untuk luas permukaan 50 cm. Ke dalam tabung vakum tersebut kemudian dimasukkan Difusol-CB dengan konsentrasi 2,5 %. Agar memenuhi standar kualitas dalam perdagangan internasional, kayu yang telah diawetkan perlu dites menggunakan ASTM (American Society for Testing and Material) D-143 dan D-2395. Kayu balsa yang diawetkan sudah dipotong dan dibentuk dengan ukuran tertentu, misalnya 6 cm x 12 cm x 100 cm. Semua kayu balsa yang diperdagangkan secara internasional, sudah melalui proses pengawetan tersebut, hingga aman dari pelapukan dan serangan ngengat.

    Balsa bisa dibudidayakan secara monokultur, bisa pula bersamaan dengan tanaman lain sebagai hutan campuran. Umur panen balsa akan menentukan BD kayu. Pada umur lima sampai dengan10 tahun, BD kayu berkisar antara 0,08 sampai 0,16. Setelah lewat umur 10 tahun, BD kayu akan naik antara 0,16 sampai dengan 0,24. Untuk keperluan aeromodelling dan terbang layang, diperlukan balsa dengan kisaran BD 0,16, hingga harus dipanen pada umur kurang dari 10 tahun. Meskipun, dipanen pada umur di atas 10 tahun pun, kayu balsa tetap masih yang paling ringan di dunia. # # #
    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

    Foto : F. Rahardi

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *