• AGROINDUSTRI SABUT KELAPA

    by  • 29/02/2016 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Data mutakhir (2012) Food and Agriculture Organization (FAO), menunjukkan bahwa Indonesia masih merupakan penghasil buah kelapa terbesar di dunia, dengan produksi sebesar 19,4 juta ton. Disusul Filipina nomor dua dengan produksi 15,8 juta ton.

    India berada pada peringkat tiga penghasil kelapa dunia dengan produksi 10,5 juta ton, kemudian Brasil di peringkat empat 2,9 juta ton, dan Sri Lanka peringkat lima 2,2 juta ton. Itulah lima besar penghasil kelapa utama dunia. Meskipun merupakan penghasil kelapa nomor satu dunia, tetapi Indonesia sama sekali tak tercatat dalam 20 besar negara penghasil serat sabut di dunia. Di Indonesia, sabut kelapa masih dianggap sebagai bahan tak berguna yang terbuang sia-sia. Padahal serat (coir)  dan gabus (cocopeat) sabut kelapa merupakan komoditas dengan nilai ekonomis cukup baik di pasar dunia.

    kelapa-baru-a
    Tahun 2012 FAO mencatat India merupakan negara penghasil coir terbesar dunia dengan produksi 487.030 ton. Nomor dua Vietnam 264.491 ton, kemudian Sri Lanka 149.172 ton, Ghana 37.772 ton dan  Thailand 20.050 ton. Padahal Vietnam hanya berada pada peringkat enam sebagai penghasil kelapa dunia, dengan produksi  1,2 juta ton. Thailand berada pada peringkat delapan dengan produksi 1,05 juta ton, dan Ghana berada pada peringkat 16 dengan produksi kelapa hanya 292.099 ton. Naiknya Vietnam ke posisi dua penghasil coir dunia, cukup mengejutkan, sebab sebelumnya, posisi tersebut selalu diduduki Sri Lanka.

    Produksi coir Sri Lanka selama 20 tahun terakhir sebenarnya cukup stabil, rata-rata sebesar 150 ribu ton per tahun. Vietnam yang justru menggenjot produksi coir mereka selama lima tahun terakhir, hingga bisa melampaui Sri Lanka. Tahun 2007, produksi coir Vietnam baru sebesar 72,2 ribu ton. Dengan hasil produksi 264,4 ribu ton pada tahun 2012, berarti produksi coir Vietnam mengalami kenaikan sebesar 266,2% hanya dalam kurun waktu lima tahun. Berarti negeri ini memang punya kesadaran tinggi, untuk memanfaatkan limbah komoditas kelapa menjadi produk unggulan untuk diekspor.

    # # #

    Setelah krisis ekonomi tahun 1998, Indonesia juga pernah berniat membangun agroindustri sabut kelapa. Di beberapa tempat di Jawa bermunculan unit pengolahan sabut menggunakan mesin kecil, dengan hasil sabut coklat kusut yang belum disortasi dan dipres, dan cocopeat. Harga serat sabut coklat kusut ini sangat murah. Idealnya, diperlukan 20 unit pengolahan sabut berskala kecil seperti ini, yang dilengkapi satu unit pengolah serat sabut, hingga bisa dihasilkan serat sabut lurus dan serat sabut kusut yang sudah dipres. Pada awal tahun 2000an, satu per satu unit pemrosesan sabut ini berguguran.

    Dalam dunia perdagangan, dikenal dua macam serat sabut kelapa; yakni serat putih dan serat coklat. Serat putih dihasilkan dari sabut buah kelapa yang dipetik tua tetapi belum sampai kering. Sabut buah kelapa segar ini, juga harus segera diproses, hingga tidak mengalami oksidasi hingga menjadi coklat. Sabut kelapa coklat, diperolah dari buah kelapa yang telah kering. Ada dua cara pemrosesan serat sabut kelapa coklat, yakni proses basah (sabut kelapa direndam air), dan proses kering. Dua cara ini punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Serat sabut kelapa putih, bernilai lebih tinggi dari serat sabut kelapa coklat.

    Gagalnya agroindustri sabut kelapa Indonesia pada awal tahun 2000an, juga disebabkan oleh ketersediaan bahan baku. Sentra komoditas kelapa di Indonesia, berada di kawasan yang terpencil. Tanaman kelapa itu bukan merupakan perkebunan besar, melainkan tanaman rakyat, yang tersebar di areal cukup luas. Dampaknya, sabut yang merupakan limbah buah kelapa ini juga berada dalam sebaran yang cukup luas pula. Untuk mengambil sabut dari lokasi tanaman ke pabrik pengolahan, diperlukan biaya yang cukup tinggi. Pertama, sabut itu harus dikumpulkan dalam karung, kemudian dengan sepeda motor diangkut ke lokasi pabrik.

    Tenaga kerja di sentra-sentra kelapa, lebih memilih bekerja di pabrik atau menjadi tukang ojek, dengan penghasilan lebih tinggi; dibanding bekerja mengumpukan sabut kelapa. Paling ideal, agroindustri kelapa memang dikerjakan oleh perusahaan besar, dengan hasil santan segar, ampas untuk pakan ternak, arang tempurung (karbon aktif dan briket), serat dan gabus sabut. Dengan agroindustri kelapa terpadi, hasil yang akan diperoleh akan lebih tinggi. Di Jawa Timur, memang ada perkebunan kelapa milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII, tetapi hasilnya berupa gula merah, bukan buah kelapa.

    # # #

    Untuk apakah sebenarnya serat sabut kelapa? Sabut kelapa, merupakan salah satu serat nabati yang belakangan semakin tinggi permintaannya. Jok mobil sedan atas, bukan dibuat dari busa sintetis berbahan plastik, melainkan dari serat sabut kelapa yang diberi lateks (getah karet alam). Partisi apartemen mewah, juga terbuat dari serat sabut kelapa dan resin alam (damar). Sebenarnya, kekuatan dan daya lentur serat sabut kelapa, masih kalah dengan ijuk dari tanaman aren (enau). Tetapi ijuk tidak pernah tersedia dalam volume besar, karena tanaman aren semakin langka, akibat penebangan untuk dijadikan tepung.

    Selain terdiri dari serat, sabut kelapa juga mengandung gabus. Hasil olahan sabut kelapa juga berupa serat dan gabus. Belakangan gabus sabut kelapa juga semakin diperlukan dalam dunia agro, untuk berbagai keperluan. Perbanyakan tanaman dengan cara cangkok, memerlukan media tanam berupa gabus sabut kelapa. Selain sabut kelapa, media tanam yang ringan juga bisa berupa sphagnum moss, dan rockwool. Tetapi harga dua komoditas ini belakangan semakin tinggi, hingga para pelaku bisnis agro beralih ke gabus sabut kelapa yang lebih murah, dan terjamin ketersediaannya.

    Sebenarnya ini merupakan peluang, karena Indonesia merupakan penghasil kelapa terbesar dunia. Sayangnya, selama ini pemerintah, terutama pemerintah daerah, lebih sibuk dengan urusan mereka sendiri. Provinsi Banten merupakan salah satu sentra kelapa rakyat di Pulau Jawa. Di Kabupaten Pandeglang juga pernah ada beberapa unit pengolahan sabut kelapa. Tapi karena tak pernah didisain secara menyeluruh, aktivitas ini segera terhenti. Vietnam, meskipun hanya berada pada peringkat dua penghasil kelapa, bisa menghasilkan serat sabut nomor dua setelah India. # # #

     

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

    Foto : F. Rahardi

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *