KOPI LIBERIKA
by indrihr • 18/04/2016 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Kopi liberika? Yang mana? Itulah pertanyaan sebagian besar orang Indonesia saat mendengar jenis kopi ini disebutkan. Padahal kopi liberika (Coffea liberica), sudah masuk Indonesia, sejak tahun 1800an untuk menggantikan kopi arabika.
Tersebutlan, Bangsa Belanda mendatangkan kopi arabika (Coffea arabica), ke Batavia pada tahun 1696 dari Malabar India. Pada tahun 1725 Jawa dikenal sebagai penghasil kopi arabika utama dunia. Sebagian besar hasil kopi Jawa itu diekspor ke Eropa. Hingga di Eropa, minum kopi disebut sebagai “minum java”. Kosa kata ini mulai hilang di Eropa Tengah, tetapi masih tersisa di beberapa negara di Eropa utara. Sampai sekarang di negara-negara Skandinavia dan sekitarnya, minum kopi masih disebut sebagai “minum java”. Masa kejayaan kopi arabika jawa itu tak berlangsung lama. Akhir tahun 1800an, areal kopi jawa itu lenyap karena serangan penyakit karat daun.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda segera mencari penggantinya. Tahun 1875 didatangkanlah kopi liberika yang berasal dari Liberia, negeri di ujung barat benua Afrika. Beda dengan kopi arabika yang berbatang dan berdaun ramping dan berukuran paling tinggi tiga metar, kopi liberika bersosok raksasa. Batangnya besar, daun juga besar-besar dan lebat, pohonnya bisa menjulang setinggi 20 meter. Ukuran buah juga cukup besar, tetapi dengan daging buah (pulp) yang sangat tebal. Hingga ukuran biji liberika sebenarnya hampir sama dengan kopi arabika. Meskipun pohon kopi liberika sangat bandel terhadap penyakit karat daun, namun produktivitasnya dalam satuan luas (bukan per individu tanaman) kalah dari kopi arabika. Maka para pakar kopi pun mencari-cari jenis kopi lain.
# # #
Kebetulan waktu itu diketemukanlah jenis kopi lain yang juga bandel. Namanya kopi robusta (Coffea canephora). Habitat asli kopi ini terbentang mulai dari Liberia di pantai barat Afrika, sampai ke Tanzania di pantai timur, dan Angola di pantai barat bagian selatan Benua Afrika. Kopi robusta berperawakan sedang, dengan ukuran daun juga sedang, tetapi dengan produktivitas yang bisa mengalahkan kopi liberika per satuan tanaman. Kopi baru ini juga bandel terhadap serangan karat daun yang pernah menghancurkan kejayaan kopi arabika jawa. Maka tahun 1900 didatangkanlah kopi robusta dari I’Horticole Coloniale Brussels, dan ditanam di perkebunan Soember Agoeng, Wringin Anom, dan Kalibakar, di Malang, Jawa Timur. Sejak itulah kopi arabika hanya tersisa di kawasan pegunungan dengan ketinggian di atas 1000 m. dpl. Kopi liberika yang sebenarnya juga baru didatangkan juga ikut terlupakan. Euforia para pekebun tertuju sepenuhnya ke kopi robusta.
Meski produktivitas sangat tinggi, kopi robusta hanya menang pada rasa pahit. Aroma kopinya tak seharum arabika. Kandungan kafeinnya juga lebih tinggi dari arabika. Selain rentan terhadap serangan karat daun, arabika juga punya kelemahan lain, yakni rasa kopinya agak masam. Kelemahan dua jenis kopi inilah yang sebenarnya tak dimiliki oleh kopi liberika. Aroma kopi ini mendekati arabika, bahkan bisa lebih harum seperti harum buah nangka. Maka kadang-kadang kopi liberika juga disebut sebagai “kopi nangka”. Kandungan kafein liberika juga rendah, dan tak ada rasa masam seperti pada arabika, tapi juga tak sepahit robusta. Dalam 8 oz biji kopi, kandungan kafein robusta 140 mg, arabika 70 mg, dan liberika 60 mg. Kelemahan liberika hanya dalam produktifitas per satuan luas yang kalah dari arabika, dan terlebih lagi dari robusta.
Menginjak abad 20, tanaman kopi liberika hanya tersisa di lahan-lahan penduduk, tanpa perawatan yang memadai. Areal kebun kopi liberika yang sebenarnya juga baru saja dikembangkan sebagai pengganti arabika, sekarang berubah menjadi kopi robusta. Sekarang, Indonesia memang menjadi salah satu penghasil kopi robusta utama dunia. Kopi arabika hanya tersisa bertahan di dataran tinggi di Gayo (Aceh), Sidikalang (Sumatera Utara), Gunung Ungaran (Jawa Tengah), Ijen (Jawa Timur), Manggarai (Flores, NTT), Toraja (Sulawesi Selatan), dan belakangan juga Wamena (Papua). Di dataran tinggi dengan elevasi lebih dari 1000 m. dpl. ini arabika mampu bertahan dari serangan karat daun. Sebelum akhir abad 19, kopi arabika dibudidayakan di dataran rendah dan menengah.
# # #
Nasib kopi arabika, masih lebih baik dari liberika. Setelah robusta datang, liberika benar-benar tersisih, dan hanya tersisa tumbuh liar di lahan-lahan penduduk. Meskipun rasa kopi liberika lebih enak dari robusta, harga produk ini di tingkat petani justru paling murah. Hingga urut-urutan harga kopi di Indonesia, paling tinggi arabika, menyusul robusta, dan paling bawah liberika. Sesuai hukum pasar, karena keberadaannya sangat terbatas, seharusnya harga liberika paling tinggi, menyusul arabika dan paling bawah robusta. Karena tak pernah ada edukasi (atau advokasi) ke masyarakat, maka liberika sama sekali tak dikenal. Ketika melihat sosok tanaman, buah segar, atau biji kopinya, orang awam akan bertanya-tanya, “Kok kopi seperti ini?” Sebab dalam perbendaharaan ingatan mereka, kopi identik dengan sosok robusta.
Belakangan masyarakat makin tak mengenal agroindustri kopi. Mereka telah dimanjakan oleh kopi bubuk yang siap diseduh, bahkan sebagian besar sudah dicampur gula, krim atau susu untuk sekali seduh. Warung-warung kopi juga mulai tersaingi oleh pedagang kopi sase berbekal termos berisi air panas dan menjajakan dagangan mereka secara berkeliling. Di desa-desa penghasil kopi pun, misalnya di Gayo, Sidikalang, Ijen atau Manggarai; warung kopi hanya menyajikan kopi kemasan dalam sase. Penikmat kopi memang telah dimanjakan kemudahan. Tapi dampaknya, mereka tak pernah bisa menikmati rasa kopi sejati, terutama keharumannya. Sebab keharuman kopi baru akan muncul apabila disangrai (roasting), ditumbuk (giling, grinding), kemudian diberi air panas dalam tekanan tinggi (atau direbus); dan langsung dinikmati.
Sisa-sisa kopi liberika, sekarang tinggal dalam populasi agak besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meskipun satu dua masih terdapat di luar Jawa. Di perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Serawak dan Sabah (Malaysia), kopi liberika justru menjadi tanaman utama. Sebab di Serawak dan Sabah, yang dibudidayakan masih kopi liberika. Sebab hanya jenis kopi ini yang mampu dibudidayakan di dataran rendah sampai ke pantai. Di Filipina, kopi liberika juga masih berjaya. Negeri ini memang hanya berada pada posisi ke 15 penghasil kopi utama dunia. Tapi Filipina hanya menghasilkan liberika, dengan pasar khusus merk-merk kedai kopi terkenal untuk campuran. Indonesia saat ini berada pada urutan ketiga penghasil kopi dunia setelah Vietnam dan Brasil. Padahal pada abad 18 dan 19, Jawa pernah menjadi penghasil kopi utama dunia. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : F. Rahardi
