• PELUANG BUDI DAYA PERSIMMON

    by  • 09/05/2016 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Harga persimmon kering (irisan) kemasan 8 oz (226,7 gram), produk Barry Farm, Amerika Serikat, ditawarkan dengan harga 23,99 Dollar AS (Rp 287.880). Di Toko Buah All Fresh, Jakarta, persimmon jumbo dari Taiwan ditawarkan dengan harga Rp 99.800 per kg.   

    Di Indonesia, buah persimmon dikenal dengan nama kesemek, kledung, buah genit (Diospyros kaki). Sentra buah kesemek terdapat di Kabupaten Majalengka dan Garut (Jawa Barat), Kabupaten Boyolali (Jawa Tengah), dan Kabupaten Malang (Jawa Timur). Yang disebut sentra ini pun bukan merupakan perkebunan monokultur, melainkan hanya pohon yang tumbuh di ladang penduduk sebagai tanaman peneduh. Sebenarnya ada permintaan buah kesemek untuk ekspor, tetapi pasokan tak pernah bisa kontinu. Minat petani membudidayakan kesemek secara serius, disebabkan oleh rendahnya harga, dan rumitnya pasca panen. Di tingkat petani, harga kesemek hanya Rp 1.500 sampai Rp 3.000 per kg.

    kesemek-a
    Di pasar tradisional dan kios buah kaki lima, harga kesemek tak pernah lebih tinggi dari Rp 10.000. Sebelum dipasarkan, buah kesemek itu harus terlebih dahulu direndam air kapur selama semalam, untuk menghilangkan rasa sepet (kelat, astringent), pada daging buah. Kapur yang masih melekat pada kulit buah tampak seperti bedak. Dari sinilah kesemek dikenal sebagai “buah genit” karena selalu memakai bedak. Kalau ingin tidak berasa kelat, buah harus dipetik ketika sudah benar-benar masak (warna kulit merah, daging buah lunak). Sebab kesemek yang tumbuh di Indonesia, merupakan varietas astringent. Di negeri asalnya, yakni RRT, Korea, dan Jepang, dikenal varietas persimmon astringent, dan non astringent.

    # # #

    Varietas astringent antara lain: Dōjō hachiya, Gionbō, Hachiya, Kōshū hyakume, Fuji, Hongsi, Ormond, Saijō, Sheng, Tanenashi, Hiratanenashi, Tone wase, Tamopan dan Maru.
    Varietas non astringent antara lain: Dan gam, Fuyū, Hanagosho, Izu, Jirō, Sōshū dan Taishū. Dari varietas-varietas tersebut, yang paling populer dibudidayakan hanya Tanenashi (astringent), dan Fuyū (non astringent). Tahun 2012, Food and Agriculture Organization (FAO), mencatat 10 besar negara penghasil persimmon adalah: RRT 3.300.000, Korea Selatan 401.049, Jepang 253.800, Brasil 158.241, Azerbaijan 140.082, Taiwan 86.000, Italia 47.000, Uzbekistan 42.500,
    Israel 31.292, dan Nepal 2.806.

    Varietas astringent, umumnya tak berbiji, sementara varietas non astringent berbiji. Bentuk buah varietas astringent umumnya pipih dan berukuran sedang, sementara non astringent berbentuk bulat dan berukuran besar. Varietas Fuyū malahan dipromosikan sebagai “giant persimmon”. Varietas inilah yang paling banyak dibudidayakan sebagai buah segar, termasuk yang diimpor Indonesia dari Taiwan. Varietas astringent, jarang dipasarkan sebagai buah segar. Seluruh hasil panen persimmon astringent, dikeringkan menjadi selai persimmon, dengan kandungan gula sangat tinggi. Pengeringan persimmon astringent biasanya dengan dijemur, atau diangin-anginkan. Setelah kering, ada yang langsung dipasarkan ada pula yang dipress, hingga berbentuk pipih.

    Kabarnya, pada zaman Belanda, Indonesia pernah punya koleksi kesemek varietas non astringent di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Batu, Jawa Timur. Tahun 2002, saya mencoba mencari koleksi tersebut, bersama peneliti Balitjestro, di kebun belakang, tapi tak berhasil menemukannya. Para peneliti di Balitjestro hanya mengatakan, “Dulu memang ada Pak, tapi sudah lama saya tak melihat pohonnya.” Kesemek astringent pun, sebenarnya tetap berpeluang menjadi komoditas bernilai komersial cukup baik, asalkan dibudidayakan dengan benar. Pengembangbiakan kesemek varietas astringent yang tak berbiji, menggunakan stek akar, seperti halnya sukun, dan sana keling. Hingga sebenarnya cukup mudah untuk memroduksi benih.

    # # #

    Tahun 1995, Taman Buah Mekarsari, mencoba menanam apel malang dan kesemek jenis astringent. Semua apel malang, baik Rome Beauty maupun Manalagi, mati semua, tetapi kesemeknya tetap hidup sampai sekarang dan mau berbuah. Beda dengan kesemek yang tumbuh pada ketinggian di atas 1.000 m. dpl, kesemek di Mekarsari ini tumbuh kerdil dengan buah berukuran kecil dan tak terlalu banyak. Kesemek dataran rendah ini manis dan tidak kelat apabila dipetik telah benar-benar empuk. Di RRT, Korea, dan Jepang, varietas astringent juga dipetik ketika benar-benar telah masak, pada musim gugur; bahkan kadang-kadang pada awal musim dingin ketika salju telah mulai turun. Persimmon astringent yang telah benar-benar masak, tak perlu diberi kapur, dan bisa langsung dikonsumsi segar, atau dikeringkan.

    Kesemek termasuk buah bernilai tinggi. Tapi ada perbedaan mencolok antara persimmon impor, dengan kesemek lokal. Harga persimmon kering irisan, per kilo Rp 1.2 juta. Harga persimmon segar eks Taiwan Rp 100.000 per kg. Tetapi harga kesemek lokal tak pernah lebih dari Rp 10.000 per kilo. Diperlukan upaya pembenahan budi daya dan pasca panen, agar kesemek harga lokal kita bisa mendekati harga persimmon impor. Yang harus mengupayakan perbaikan budi daya dan pasca panen, mestinya pemerintah, dalam hal ini Direktur Budi daya dan Pasca Panen Buah-buahan, serta Dinas Pertanian Kabupaten. Selama ini aparat pemerintah kita memang tak memperhatikan komoditas-komoditas tersembunyi kita. Kesemek merupakan komoditas buah unggulan, yang selama ini “tersembunyi”.

    Persimmon Diospyros kaki, merupakan salah satu famili eboni-ebonian (Ebenaceae). Genus Diospyros terdiri dari 725 spesies. Persimmon masih satu genus dengan kayu hitam sulawesi (Eboni, Diospyros celebica), dan bisbol (Diospyros discolor). Hingga kayu persimmon juga berkualitas cukup baik sebagai bahan meubel, maupun kerajinan. Kesemek yang tumbuh di Indonesia, juga berasal dari Cina Timur Laut, Korea, atau Jepang. Dibawa ke Indonesia oleh Bangsa Belanda, dan dibudidayakan di dataran tinggi di Jawa dan Sumatera. Selain perbaikan budi daya dari varietas yang sudah ada, sebenarnya tetap diperlukan introduksi varietas-varietas baru, terutama varietas non astringent, dengan daging buah yang tak kelat. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

    Foto : F. Rahardi

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *