• BISNIS AKAR WANGI

    by  • 28/06/2016 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments

    Kalau kita lewat jalan tol “JOR” dari Jakarta menuju Bekasi, di samping kiri akan tampak rumput berdaun kecil-kecil, kaku, berwarna hijau tua, ditanam rapi di tebing jalan. Itulah akar wangi, narwastu, larasetu, vetiver, Chrysopogon zizanioides.

    Akar wangi itu ditanam di tebing jalan tol, untuk mencegah erosi dan longsor. Sebab akar tanaman ini bisa tumbuh lurus ke bawah sampai sepanjang tiga meter, hingga bisa “mencengkeram” tanah. Selain untuk mencegah erosi, akar wangi juga bisa dimanfaatkan untuk mengatasi limbah di rawa, danau dan waduk. Ini semua merupakan fenomena baru. Sebab selama ini akar wangi lebih dikenal sebagai tanaman penghasil akar yang beraroma harum. Selain harum, akar tanaman ini panjang dan lurus hingga populer sebagai bahan kerajinan, terutama kipas, kap lampu, kotak tisu, dompet dan lain-lain.

    akar-wangi-a

    Di tempat wisata seperti Yogya dan Denpasar, dengan mudah bisa diketemukan produk kerajinan berbahan akar wangi. Akar wangi bahan kerajinan di Yogyakarta, dibudidayakan secara terbatas di Wonosobo, Jawa Tengah, dan sekitar Kaliurang, DIY. Untuk menyuplai para perajin di Bali, akar wangi dibudidayakan di Bedugul dan Kintamani. Nilai ekonomis akar wangi sebagai bahan kerajinan sebenarnya tak terlalu tinggi dibanding sebagai penghasil minyak akar wangi (vetiver essential oil). Sampai dengan tahun 1960an, Jawa Barat merupakan penghasil minyak akar wangi utama dunia.

    Kemudian tahun 1970an pemerintah Provinsi Jawa Barat melarang petani membudidayakan akar wangi, karena tanaman ini dianggap sebagai perusak lingkungan. Sejak itu sentra budi daya akar wangi sebagai penghasil minyak tinggal tersisa di Kabupaten Garut, terutama di Kecamatan Samarang. Sekarang, Haiti sebuah negara pulau di Laut Karibia mengambil alih posisi Indonesia sebagai penghasil minyak akar wangi dunia. Selain Haiti, minyak akar wangi juga dihasilkan oleh Reunion dan Mauritius, dua pulau kecil di Samudera Hindia, di sebelah timur Madagaskar.

    # # #

    Hingga sebenarnya, akar wangi paling tepat dikembangkan sebagai penghasil minyak akar wangi. Bukan sekadar untuk perbaikan lingkungan. Harga minyak akar wangi eceran, saat ini 1.320 dollar AS per liter (Rp 17.160.000). Harga di tingkat grosir 950 dollar AS (Rp 12.350.000) per liter. Hasil akar per hektar per 1,5 tahun antara 15 – 20 ton akar basah. Yang akan susut menjadi 10 – 15 ton setelah dikering anginkan. Rendemen akar vetiver kering angin ini berkisar antara 0,5 – 1,5% atau rata-rata 1%. Hingga dari tiap hektar lahan vetiver, dalam jangka waktu 1,5 tahun bisa dihasilkan antara 10 – 15 liter minyak, setara dengan Rp 120 – 180 juta kotor.

    Karena jangka waktu budi daya yang mencapai 1,5 tahun, para petani menyiasatinya dengan menanam akar wangi secara tumpangsari dengan sayuran. Mereka menanam kol, caisim, dan sayuran daun lain, yang sudah bisa dipanen dalam jangka waktu antara dua sampai dengan tiga bulan. Limbah tanaman sayuran ini sekaligus bisa menjadi pupuk bagi akar wangi. Biasanya para petani bisa menanam sayuran antara dua sampai dengan tiga musim tanam, baru setelah itu akar wangi dibiarkan tumbuh sampai siap panen. Di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, areal pertanaman akar wangi semakin menyusut. Para petani cenderung beralih ke komoditas lain, karena menganggap umur panen terlalu panjang.

    Akar wangi dibudidayakan dengan benih berupa anakan yang dipisah (dipecah) dari rumpunnya. Tanaman akar wangi memang akan membentuk rumpun yang makin lama akan makin melebar. Idealnya anakan yang dipisahkan dari induknya ini disemai terlebih dahulu, agar cukup kuat untuk dipindah ke lapangan. Penyemaian juga bisa menjadi salah satu solusi untuk mempersingkat masa panen. Pola tanam seperti ini juga diterapkan untuk segala jenis tanaman. Di Kecamatan Samarang, para petani caisim menyemai benih satu per satu dimasukkan ke dalam wadah bermedia yang ditaruh di atas rak. Semaian ini dipelihara antara 1 minggu sampai 10 hari kemudian dipindahkan ke lapangan.

    Cara ini akan memperpendek umur panen, dibanding dengan mencabut benih caisim dan menanamnya di lapangan. Para petani jeruk di Garut juga menerapkan cara sama. Benih jeruk sambungan, dibesarkan di lahan persemaian sampai setinggi 1,5 m. Saat itulah benih ditanam di lahan. Kalau dengan benih ukuran di bawah 1 m, jeruk baru akan bisa dipanen perdana pada umur 3 tahun, dengan cara ini sudah bisa panen perdana pada umur 2 tahun. Akar wangi pun sama. Kalau benih pisahan dari rumpun langsung ditanam, akan mengalami stres. Lain halnya kalau benih tersebut terlebih dahulu dibesarkan dalam petak persemaian.

    # # #

    Minyak akar wangi diproduksi dengan cara disuling (didestilasi). Kualitas minyak akar wangi ditentukan oleh alat destilasi. Destilasi dengan ketel besi atau tembaga, akan membuat minyak akar wangi berwarna kuning dan hijau, karena karat besi/tembaga. Minyak akar wangi yang didestilasi menggunakan ketel tahan karat (stainless steel) akan menghasilkan minyak jernih. Kualitas minyak juga ditentukan oleh seberapa bersih akar yang akan disuling. Semakin banyak bahan ikutan (akar tanaman lain, tanah), kualitas minyak akan rendah. Maka idealnya,  akar vetiver disortasi dan dicuci bersih sebelum didestilasi. Biaya untuk menghilangkan bahan ikutan dan mencuci, akan tertutup oleh meningkatkan harga minyak.

    Akar wangi merupakan tumbuhan asli India. Hanya ada satu spesies akar wangi yang dibudidayakan untuk bahan kerajinan, diambil minyaknya, maupun untuk tujuan ekologis. Akar wangi yang dibudidayakan untuk mencegah erosi atau menetralkan limbah perairan pun, tetap bisa didestilasi. Rendemen dan kualitas minyak akan ditentukan oleh umur tanaman, dan lokasi budi daya. Di India sendiri, ada dua varietas vetiver. Yang dari India utara akan menghasilkan rendemen kecil, tapi dengan kualitas minyak sangat bagus. Yang berasal dari India selatan, menghasilkan minyak relatif lebih besar, namun dengan kualitas tak terlalu tinggi. Jadi akar vetiver yang dibudidayakan untuk penutup tanah dan penyerap limbah, tetap perlu dicoba untuk didestilasi.

    Sebagai pencegah erosi dan penyerap limbah di air tawar, vetiver bukan segala-galanya. Akar wangi hanyalah salah satu dari tanaman penutup tanah. Masih ada sederat tanaman lain yang juga efektif sebagai pencebah erosi. Demikian pula dengan penyerap limbah. Eceng gondok pun sebenarnya juga merupakan tanaman penyerap limbah. Hingga mempromosikan akar wangi sebagai “tumbuhan ajaib” pencegah erosi dan penyerap limbah, sebenarnya terlalu berlebihan. Terlebih kalau disertai dengan embel-embel “satu-satunya”. Akar wangi hanyalah salah satu dari sekian banyak tanaman penutup tanah, dan penyerap limbah. Nilai ekonomisnya justru sebagai penghasil minyak asiri. # # #
    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

    Foto : Dok FKA

     

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *