ANGGUR PRABU BESTARI
by indrihr • 08/08/2016 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
“Apakah di Indonesia dimungkinkan membudidayakan buah anggur berwarna merah, berdaging buah renyah, dan manis?” Jawabnya, tanamlah anggur Prabu Bestari. Meskipun warna kulit buahnya tidak benar-benar merah, melainkan agak oranye.
Selama ini masyarakat Indonesia memang lebih mengenal buah anggur hitam, yakni anggur bali dan probolinggo hitam. Dua kultivar anggur ini kalau dipetik sebelum umur 110 hari setelah pangkas, akan berasa masam, tetapi dengan kulit buah masih renyah. Kalau dipetik setelah umur 110 hari paska pangkas, rasanya akan manis, tetapi kulit buah menjadi liat (alot). Sebenarnya anggur bali dan probolinggo hitam bisa dikonsumsi sebagai anggur buah, tetapi yang paling banyak untuk diproduksi menjadi minuman beralkohol (wine). Hatten Wines memroduksi wine khas Bali dari varietas anggur ini. Anggur Bali dan Probolinggo Hitam merupakan hasil seleksi dari varietas Alphonse Lavallee. Varietas ini berasal dari Perancis, silangan anggur Muscat Hamburg dengan Kharistvala Kolkhuri.
Varietas Bali dan Probolinggo Hitam, baru dikenal masyarakat pada tahun 1980an. Sebelumnya, sejak zaman Hindia Belanda yang populer varietas Isabella. Anggur ini diketemukan oleh Isabella Gibbs dari South Carolina, AS, pada tahun 1816. Induknya merupakan spesies Vitis vinivera, yang didatangkan dari Eropa. Di Indonesia, Isabella sangat adaptif di hampir semua agroklimat, termasuk bisa dibudidayakan di kawasan basah, dengan elevasi sampai 800 m. dpl. Sementara anggur lain menghendaki kawasan yang ekstrim kering, pada ketinggian 0 – 300 m. dpl. Salah satu kelemahan Isabella, dalam satu dompolan, butiran buah sulit masak serentak. Jadi dalam satu tangkai itu ada butiran buah yang masih hijau, sudah agak kecoklatan, dan ada pula yang sudah hitam.
# # #
Karena diintroduksi dan dimasyarakatkan sejak zaman Hindia Belanda, Isabella sudah menyebar rata di berbagai kota di Indonesia, terutama di Jawa. Misalnya di Bandung, Semarang, Magelang dan Yogyakarta. Pada tahun 1990an masyarakat Kabupaten Kediri, Jawa Timur, banyak yang membudidayakan anggur Belgia (anggur Kuning Kediri), di para-para di halaman rumah mereka. Anggur kediri ini manis, berkulit renyah, berwarna hijau kekuningan setelah masak. Kelemahannya, butiran buah anggur kediri kecil-kecil, tidak seperti Isabella atau anggur Bali. Dalam waktu singkat anggur Kuning Kediri ini menyebar ke mana-mana, termasuk di sekitar DKI Jakarta. Dibanding varietas Bali dan Probolinggo Hitam, anggur Kuning Kediri memang lebih mudah beradaptasi dengan berbagai agroklimat.
Tiga kultivar anggur ini tak berdaya menghadapi serbuan anggur impor. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh kualitas, melainkan juga karena kuantitas produksi. Saat ini sentra anggur terbesar dan terluas Indonesia hanya terdapat di Kecamatan Gerogak dan Seririt di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Sebagian besar dari hasil anggur di kawasan ini, habis diserap oleh industri wine di Bali. Maka konsumsi buah anggur kita sangat bergantung dari impor. Tahun 2015 yang lalu, impor buah anggur segar Indonesia mencapai 45.400 ton senilai Rp 1,6 triliun. Anggur kering mencapai 2.000 ton senilai Rp 54,4 miliar. Tahun 2015, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Rp 3,2 triliun. Nilai impor buah anggur Indonesia tahun 2015, persis separo dari APBD NTT.
Ini menjadi ironis, karena justru NTTlah satu-satunya provinsi di Indonesia, yang punya agroklimat paling cocok untuk budi daya anggur. Tanaman anggur memang menghendaki agroklimat ekstrim kering, dan panas. Kabupaten Probolinggo (Jawa Timur), dan Buleleng (Bali) beragroklimat kering dan panas. Tapi sekering-keringnya Probolinggo dan Buleleng, masih lebih kering kabupaten-kabupaten di NTT. Hampir semua kabupaten di NTT berpotensi untuk budi daya anggur, kecuali dataran tinggi di Ruteng, Bajawa, Ende (Moni), dan Timor Tengah Selatan. Hingga sebenarnya, apabila NTT mau mengembangkan komoditas ini, bukan hanya berpotensi untuk menghentikan impor, melainkan justru bisa mengekspor. Paling tidak ke Timor Leste, karena faktor transportasi yang akan sangat murah.
# # #
Varietas anggur yang paling potensial untuk dikembangkan sebagai anggur buah adalah Prabu Bestari. Rasa anggur ini manis. Daging dan kulit buahnya renyah. Kulit buah Prabu Bestari yang telah masak, merah bercampur orange dan sedikit ungu. Dengan penampilan dan rasa seperti itu, anggur Prabu Bestari telah menarik perhatian petani anggur Probolinggo, untuk dikembangkan. Selama ini, mereka lebih banyak menanam anggur hitam Probolinggo, yang sebenarnya sama dengan anggur Bali, merupakan anggur wine, bukan anggur buah. Prabu Bestari merupakan salah satu anggur unggulan Kebun Percobaan (KP) Banjarsari, Tongas, Probolinggo, Jatim; yang secara struktural berada di bawah Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) di Tlekung, Batu, Jawa Timur.
Anggur Prabu Bestari merupakan hasil seleksi dari anggur Red Prince yang diintroduksi dari Australia. Hasilnya telah dilepas oleh Menteri Pertanian dengan SK Nomor 600/Kpts/SR.120/11/2007 tanggal 7 November 2007. Namun ada juga yang mempertanyakan asal-usul Prabu Bestari. Sebab dalam ensiklopedi anggur dunia, tidak diketemukan nama anggur Red Prince. Yang ada justru Black Prince. Red Prince sendiri bukan merupakan nama kultivar anggur, melainkan apel. Meskipun disebut Black Prince, warna anggur nenek moyang Prabu Bestari ini justru merah, bukan hitam. Nama anggur Black Prince, mengacu pada tiga kultivar anggur, yakni Cinsaut dari Perancis; Schiava Grossa dari Italia; dan Rose of Peru, dari Afrika Selatan. Tidak jelas, kultivar mana yang telah menjadi induk Prabu Bestari.
Di kawasan tropis, anggur bisa berbuah dua kali dalam setahun. Bahkan apabila dipaksakan, dalam jangka waktu 1 tahun anggur dapat berbuah tiga kali. Di Bali Utara anggur dipetik rata-rata pada umur 90 – 100 hari, dan 20 hari kemudian daun serta rantingnya dipangkas habis. Hingga praktis dalam satu tahun (365 hari), anggur akan mampu berbuah sebanyak tiga kali. Umumnya, anggur dibudidayakan dengan sistem pagar (knifin), dan para-para. Di KP Banjarsari, pagar dan para-para untuk budi daya anggur, menggunakan tiang pohon jaran (jaranan, kuda, kudo, Lannea coromandelica), bukan pohon jaran Mangrove Trumpet Tree (Tui, Dolichandrone spathacea). Pohon jaran dipilih, karena tumbuhan ini sangat tahan pangkas. Di KP Banjarsari saat ini ada belasan varietas anggur yang dijadikan unggulan. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan

