PELUANG EKSTRAK BUNGA MELATI
by indrihr • 03/01/2017 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Harga bunga melati di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, lebih sering jatuh. Saat ini harga per kilo bunga melati hanya Rp 10.000, padahal di Pasar Rawa Belong Jakarta, harganya bisa mencapai Rp 30.000. Adakah peluang untuk disuling jadi minyak? (Ahmad, Tegal).
Sdr. Ahmad, harga bunga melati, baik melati biasa (Jasminum sambac), maupun melati gambir (Jasminum officinale), memang selalu berfluktuasi. Bisa jatuh ke tingkat Rp 10.000 per kilo, bisa pula melambung sampai ke tingkat Rp 30.000 di tingkat petani. Ketika harga melati di Tegal Rp 30.000 per kilo, di Pasar Rawa Belong, Jakarta bisa mencapai Rp 100.000 per kilo. Pada saat itulah melati impor dari Thailand akan masuk. Selisih harga antara Tegal dengan Jakarta, sebenarnya wajar, sebab pedagang harus menanggung resiko yang cukup besar.

Melati yang dibawa ke Pasar Rawa Belong, Jakarta, hanyalah melati biasa. Melati gambir hanya diserap oleh industri teh wangi (chinese tea, jasmine tea). Melati biasa masih lebih baik, karena bisa diserap oleh dua pasar: Pasar Rawa Belong, dan industri teh wangi. Untuk keperluan apa pun, melati harus dipetik pada pagi hari sebelum pukul 09.00, ketika masih berupa kuncup, yang akan mekar pada sore nanti. Melati ini harus ditaruh dalam kemasan plastik bening dan ditutup rapat, lalu didinginkan dengan es batu atau cold storage (mobil boks perpendingin) selama dibawa ke Jakarta.
Pengangkutan dengan mobil boks berpendingin, memakan biaya besar; tetapi relatif aman. Pada saat jalanan macet, melati akan tetap kuncup, karena pendingin jalan terus. Ketika harga melati melambung, banyak pedagang skala kecil membawa melati naik bus ke Jakarta. Melati yang dibawa naik bus ini diberi pendingin es batu. Ketika jalanan macet, es batu mencair, melati akan bermekaran dan tidak laku dijual. Apabila selamat sampai di Jakarta sore hari, melati akan terus disimpan dalam pendingin, dan dipasarkan malam itu, sampai pagi hari.
Apabila masih belum laku, melati akan tetap disimpan di ruang pendingin, agar bisa dipasarkan esok harinya lagi. Apabila terlalu lama digerai dan bermekaran, melati itu akan diobral, atau dibuang. Itulah penyebab selisih harga melati di tingkat petani, dengan di Pasar Rawa Belong. Mengekstrak melati (bukan menyuling) merupakan salah satu alternatif solusi, mengatasi harga jatuh. Awal tahun 2000an, PT Djasula Wangi, Jakarta, pernah berniat mengekstrak melati gambir. Saat harga jatuh sampai Rp 2.500 per kilo, dari harga melati gambir terendah yang biasanya Rp 6.000 per kilo.
Meski mengekstrak melati tidak terlalu rumit, PT Djasula Wangi harus mempersiapkan alat, dan uang untuk membeli bunga dari petani. Rendemen melati paling tinggi hanya dua permil. Dari satu ton bunga melati, paling banyak hanya akan diperoleh dua kilo minyak melati. Harga jasmine absolute awal tahun 2000an Rp 20 juta per kilo. Secara hitung-hitungan, proyek ekstraksi melati ini masih layak dijalankan. Belum sampai rencana ini terlaksana, harga melati gambir kembali merayap naik di atas Rp 6.000 per kilo.
Di Thailand, harga bunga melati juga berfluktuasi, padahal sudah dipasarkan melalui koperasi. Maka ketika harga tinggi, koperasi akan menyisihkan sebagian uang petani sebagai tabungan. Ketika harga jatuh, koperasi tetap membeli dengan nilai di atas harga pokok. Kalau harga bunga jatuh di bawah harga pokok, pemerintah akan membantu dengan subsidi selisih harga pasar dengan harga pokok, melalui koperasi. Sayang di Indonesia, koperasi belum bisa berfungsi melindungi petani agar tidak menderita rugi. # # #
Artikel pernah dimuat di Kontan Pagi
Foto : F. Rahardi
