• EUFORIA LENGKENG DATARAN RENDAH

    by  • 16/01/2017 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Dekade 2000 merupakan tahun-tahun penuh dengan euforia orang ingin cepat kaya. Banyak komoditas yang dipromosikan bisa cepat mendatangkan kekayaan. Salah satunya lengkeng dataran rendah, yang siap menggusur lengkeng Bandungan dan Pingit.

    Bandungan merupakan kota kecamatan di Kabupaten Semarang. Tempat wisata ini berudara sejuk, terletak di lereng selatan Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Pingit merupakan sebuah desa di Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, juga di Jawa Tengah. Dulu, Bandungan dan Pingit sangat terkenal dengan buah lengkengnya. Meskipun sebenarnya tanaman lengkeng rakyat itu tumbuh menyebar di sekitar Pegunungan Jambu, lereng Gunung Ungaran, Telomoyo, Andong, Merbabu, dan Sindoro Sumbing. Bandungan dan Pingit terkenal dengan lengkengnya, karena di dua tempat itulah lengkeng Jawa Tengah dipasarkan.

    lengkeng-a
    Lengkeng Jawa Tengah itu pudar pamornya, karena serbuah lengkeng Thailand (lengkeng Bangkok), dengan kualitas lebih baik, dan dengan harga lebih murah. Dekade 1990, serbuan lengkeng Thailand itu sudah berhasil mendesak lengkeng Bandungan dan Pingit. Tahun 1990an, di dua tempat itu sudah dijual lengkeng Thailand, bersanding dengan lengkeng Jawa Tengah. Tentu lengkeng Jawa Tengah kalah. Sebab pohon lengkeng di Jawa Tengah itu hanya tumbuh satu dua di lahan penduduk, dan perlu perawatan ekstra. Pertama, agar mau berbuah batang dan cabang pohon lengkeng itu perlu dikerok sampai bersih.

    Lengkeng Jawa Tengah itu juga perlu dibungkus (diberongsong) menggunakan anyaman bambu, agar tak habis dimakan kalong dan codot (dua jenis kelelawar pemakan buah). Sejak serbuan lengkeng Thailand, minat masyarakat untuk merawat pohon lengkengnya mengendor. Pohon-pohon lengkeng tua kemudian ditebang, karena kayunya yang keras, berbonggol-bonggol dan bertekstur unik laku dengan harga tinggi. Pemerintah telah mengupayakan peremajaan, dengan membagi-bagikan benih lengkeng unggul. Tapi tetap saja desakan lengkeng Thailand tak bisa dihindarkan.

    # # #

    Awal dekade 2000an, masuklah lengkeng pingpong ke Indonesia; yang dipromosikan sebagai “lengkeng Bangkok”. Pada 2000, saat saya berkunjung ke seorang petani bunga di Thailand, di halaman rumahnya ada lengkeng pingpong setinggi dua meter, yang penuh dengan cangkokan. Petani itu bertanya dengan sangat serius tentang “lengkeng Indonesia” kepada saya. Saya heran, “Lengkeng Indonesia?” Waktu itu di Thailand, lengkeng pingpong memang dipromosikan sebagai “lengkeng Indonesia”. Saya menduga, lengkeng pingpong merupakan salah satu kultivar dari Vietnam atau RRT.

    Sejak itulah berbagai kultivar lengkeng berdatangan ke Indonesia. Semua kultivar lengkeng itu dipromosikan sebagai “lengkeng dataran rendah”, yang siap untuk dibudidayakan secara massal, sebagai penghasil buah. Kultivar lengkeng ini dipromosikan dengan embel-embel “dataran rendah”, sebab lengkeng Bandungan dan Pingit merupakan kultivar yang hanya bisa berbuah di dataran menengah dan tinggi. Lengkeng dataran rendah ini mampu berbuah di dataran rendah. Dalam praktek, ternyata tidak demikian. Di dataran rendah kawasan tropis seperti Indonesia, lengkeng dataran rendah tetap memerlukan “booster” agar mau berbuah.

    Di Thailand sendiri, lengkeng dibudidayakan secara massal di Provinsi Ciang Mai dan Ciang Rai, yang terletak antara 17° LU sampai 20° LU, dan merupakan pegunungan. Posisi 17° LU sampai 20° LU, sejajar dengan kawasan selatan Arab Saudi, Sudan, dan Meksiko yang beriklim gurun. Meskipun Ciang Mai dan Ciang Rai di Thailand Utara cocok untuk lengkeng, para petani di sana juga masih menggunakan trik untuk membungakan lengkeng mereka. Pada saat puncak musim dingin, apabila suhu malam hari masih di atas 14° C, mereka akan menyemprotkan air es ke tanaman mereka, hingga suhu udara turun di bawah 14° C.

    Salah satu keuntungan Thailand dibanding Indonesia, lengkeng di Ciang Mai dan Ciang Rai merupakan hasil budi daya secara monokultur di sebuah perkebunan. Gangguan kelelawar pemakan buah juga tidak seganas di Indonesia. Pemerintah Thailand, sebenarnya juga mengimpikan lengkeng itoh (idoh) mereka bisa dibudidayakan di sekitar Bangkok. Syahdan suatu saat ada gudang bahan petasan di tengah kebun lengkeng meledak dan terbakar. Tak lama setelah kebakaran, lengkeng di sekitar gudang itu berbunga di luar musimnya. Ternyata potasium klorat (KCLO3) merupakan stimulan (perangsang) pembungaan lengkeng.

    Kementerian Pertanian dan Koperasi Thailand, segera melakukan ujicoba budi daya lengkeng di seletan Bangkok, dengan menggunakan perangsang KCLO3. Upaya pembungaan berhasil, tetapi kualitas dan kuantitas lengkeng di sekitar Bangkok, tak sebaik di Ciang Mai dan Ciang Rai. Sejak euforia lengkeng pada dekade 2000an sampai tahun 2016 ini, belum pernah ada perkebunan lengkeng skala komersial, yang berkembang dan mampu menjual produk mereka sejajar dengan lengkeng Thailand. Yang ada hanya kebun lengkeng sebagai obyek wisata, sekaligus produsen benih.

    # # #

    Bisnis benih lengkeng memang sangat menarik. Ketika masih baru, benih lengkeng pingpong ukuran 30 cm, hanya dengan beberapa daun, bisa dijual seharga Rp 200.000 sampai Rp 300.000 per polibag. Benih lengkeng merah (ruby longan), ukuran 30 cm dengan beberapa daun, ditawarkan seharga Rp 150.000 per polybag. Yang sudah setinggi 70 cm dengan tiga kaki, dijual seharga Rp 1.000.000 per pot. Masyarakat Indonesia, tampaknya masih senang dengan segala hal yang wah, termasuk lengkeng merah ini. Padahal, prioritas Indonesia saat ini bukan mengintroduksi sebanyak mungkin kultivar lengkeng, melainkan membudidayakannya secara massal dalam skala komersial.

    Sebab selang 15 tahun sejak euforia lengkeng dataran rendah melanda negeri ini, kita masih tetap impor buah lengkeng. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tahun 2015 Indonesia mengimpor buah lengkeng segar sebesar 24.860,9 ton dengan nilai Rp 676,8 miliar. Sampai dengan bulan Agustus tahun 2016 ini, impor lengkeng kita sudah mencapai 20.521,6 ton dengan nilai Rp 423 miliar. Mengingat sejarah masa lampau, alangkah ideal apabila Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengembalikan masa kejayaan lengkeng Bandungan dan Ambarawa, dengan kultivar-kultivar yang telah diseleksi, dan diuji agroklimat.

    Sebab lengkeng-lengkeng dataran rendah yang dipromosikan unggul dan mampu berbuah sama persis dengan lengkeng Thailand, ternyata hasilnya tetap saja berbiji besar. Kristalin, dan itoh yang selama ini dipromosikan berbiji kecil, dalam praktek tetap berbiji besar. Masih mending lengkeng Bandungan dan Pingit zaman dulu. Lengkeng dataran rendah, yang selama 1,5 dekade ini dipromosikan bakal memberi peluang pendapatan tinggi, ternyata hanya merupakan pajangan di halaman rumah. Mereka yang mencoba menanam secara terbatas di kebun mereka, juga kecewa karena hasilnya tak seperti harapan semula. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *