• INDONESIA DEFISIT JAGUNG

    by  • 06/02/2017 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments

    Tahun 2014, Indonesia mengimpor jagung untuk pakan ternak sebesar 3.248.574 ton, senilai 800 juta dollar AS. Pada tahun yang sama, Indonesia hanya mengekspor jagung pakan ternak sebesar 20,7 ribu ton, senilai 10,9 juta dollar AS.

    Angka ekspor jagung kita pada tahun 2014, terlalu kecil dibanding angka impor. Sebenarnya, Indonesia sudah mulai defisit jagung sejak tahun 1980an, ketika industri perunggasan terutama ayam pedaging dan petelur tumbuh dengan sangat pesat. Tetapi, volume dan nilai impor itu masih terlalu kecil, hingga Indonesia belum masuk daftar 20 negara pengimpor jagung utama dunia, yang dicatat oleh Food and Agriculture Organization (FAO). Indonesia baru tercatat sebagai 20 besar negara pengimpor jagung, pada tahun 1994, pada peringkat 13 dengan volume 1,1 juta ton. Selanjutnya, Indonesia timbul tenggelam dalam data FAO tersebut.

    Tahun 1995, Indonesia kembali masuk daftar 20 negara pengimpor jagung, tapi peringkatnya turun ke angka 18, dengan volume 969 ribu ton. Tahun 1996 impor jagung Indonesia mengecil hingga tak masuk ke dalam 20 besar negara pengimpor jagung FAO. Kemudian tahun 1997 Indonesia kembali masuk daftar FAO pada peringkat 16 dengan volume impor 1,09 juta ton. Kemudian Indonesia muncul lagi dalam daftar FAO tahun 2000 pada peringkat 16 dengan volume impor 1,2 juta ton.  Tahun 2001 peringkat 17 dengan volume 1,03 juta ton. Tahun 2002 peringkat 18 dengan volume impor 1,1 juta ton, 2003 peringkat 14 dengan volume 1,3 juta ton, dan 2004 peringkat 20 dengan volume 1,08 juta ton.

    Tahun 2005 Indonesia kembali keluar dari 20 besar negara pengimpor jagung versi FAO. Tahun 2006 muncul lagi pada peringkat 13 dengan volume 1,7 juta ton. Tahun 2007 – 2011, Indonesia kembali menghilang dari 20 besar negara pengimpor jagung, tapi bukan berarti kita bisa swasembada. Tahun 2010 misalnya, kita tak masuk peringkat 20 besar pengimpor jagung, padahal impor kita mencapai 1,5 juta ton. Tahun 2011 impor kita melonjak menjadi 3,2 juta ton dan terus bertahan sampai dengan tahun 2014. Benarkah Indonesia tak bisa swasembada jagung, hingga harus terus-menerus mengimpor?

    # # #

    Produksi jagung nasional kita, tiap tahun terus meningkat. Sebagai gambaran, tahun 2000, produksi jagung nasional kita baru 9,6 juta ton dan merupakan peringkat 8 penghasil jagung dunia versi FAO. Tahun 2005 produksi jagung nasional kita menjadi 12,5 juta ton dan Indonesia naik ke peringkat 7 sebagai penghasil jagung utama dunia. Tahun 2010, kita sudah bisa menghasilkan 18,3 juta ton jagung dan naik ke peringkat 6. Tahun 2012, produksi jagung nasional kita 19,1 juta ton, 2013 turun menjadi 18,51 juta ton dan tahun 2014 naik lagi menjadi  19,13 juta ton; hampir sama dengan tahun 2012.

    Para pengusaha pakan ternak, terutama ternak unggas, sebenarnya tak terlalu peduli dengan jagung impor maupun lokal. Bagi mereka yang penting kualitas sama, mereka akan memilih jagung lokal apabila harga lebih murah. Yang menjadi kendala, produksi jagung nasional kita masih didominasi oleh petani kecil, dengan skala luas panen rata-rata kurang dari dua hektar. Ada dua jenis jagung sesuai dengan jenis lahan budi daya. Pertama jagung lahan kering, yang ditanam pada awal musim penghujan. Jenis ini paling banyak ditanam petani, dengan sentra produksi terbesar di Lampung. Kedua, jagung lahan sawah, yang diproduksi pada musim kemarau. Jenis ini paling banyak diproduksi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

    Kualitas jagung lahan sawah, lebih baik dari jagung lahan kering. Sebab panen jagung lahan sawah selalu jatuh pada puncak musim kemarau. Sebaliknya, panen jagung lahan kering selalu jatuh pada puncak musim penghujan, hingga kadar airnya terlalu tinggi di atas SNI jagung. Para pengusaha pakan ternak, harus mengeringkan jagung hasil panen petani dengan alat pengering (dryer), agar memenuhi SNI jagung. Pengusaha pakan ternak akan memilih mengimpor jagung yang kadar airnya sesuai dengan SNI jagung, dibanding membeli jagung dari petani, dan masih harus mengeringkannya dengan dryer.

    Selain itu, para pengusaha pakan ternak juga harus berfungsi sebagai tengkulak untuk menimbun stok. Untuk itu mereka perlu membangun gudang yang memerlukan biaya tersendiri. Dengan mengimpor jagung, para pengusaha pakan ternak ini bisa mengatur jadwal kedatangan jagung, hingga tak memerlukan gudang dengan kapasitas besar. Itulah yang menyebabkan impor jagung kita masih terus berlangsung, dengan kecenderungan semakin besar. Andaikan para petani kita bisa menjamin ketersediaan jagung berkualitas SNI jagung, para pengusaha pakan ternak akan memilih jagung lokal.

    # # #

    Ada beberapa pihak yang justru meragukan data produksi jagung versi BPS. Tetapi, seburuk-buruknya data BPS, masih lebih baik kita punya data, daripada sama sekali tak ada data. Data BPS itu bagaimanapun juga masih dipercaya oleh FAO untuk dipublikasikan ke tingkat dunia. Salah satu penyebab data BPS tak dipercaya oleh kalangan tertentu, karena belum ada database produk pertanian utama. Jangankan jagung, sampai saat ini Indonesia juga belum memiliki database perberasan nasional. Selama ini para petani kita, termasuk petani jagung, memang belum memiliki kelembagaan yang baik.

    Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) merupakan satu-satunya kelembagaan petani jagung, sebab sampai sekarang belum ada Koperasi Petani Jagung, dan Asosiasi Petani Jagung. Ketiadaan lembaga petani ini bisa tidak menjadi masalah, andaikan pemerintah memiliki database berbasis desa yang memadai. Alasan keterpencilan desa, justru menunjukkan semakin pentingnya database pertanian berbasis desa. Sebab dengan perangkat genset, atau pembangkit listrik berbasis energi setempat, antena telepon satelit, dan komputer biasa; keterpencilan desa menjadi teratasi. Database kependudukan untuk berbagai kepentingan bisa dibangun, termasuk database pertanian.

    Sayangnya, dunia online yang semakin mudah dan murah ini, tak kunjung dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa. Dampaknya, kita tak pernah tahu dengan pasti, mengapa dengan produksi jagung 19,13 juta ton, kita masih mengimpor sebanyak 3,24 juta ton. Kita tak pernah tahu, apakah benar kita kekurangan jagung, atau catatan produksi nasional kita yang terlalu besar dibanding kenyataan di lapangan. Apabila data online itu belum terbangun dengan baik secara nasional, kita tak akan pernah menemukan jawaban tersebut. Dampaknya, Indonesia akan terus menjadi pengimpor produk bahan pangan utama. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
    Foto : F. Rahardi
        

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *