• POTENSI BISNIS KAMBING PEDAGING

    by  • 20/02/2017 • PETERNAKAN • 0 Comments

    Menurut Badan Pusat Statistik, populasi kambing nasional tahun 2015 sebesar 18.879.596 (18,8 juta) ekor, dengan produksi daging 65.851 ton. Populasi domba sedikit lebih kecil yakni 16.509.331 (16,5 juta) ekor dengan produksi daging 40.952 ton.

    Mengikuti sistem perdagangan produk peternakan dunia, pemerintah Indonesia membedakan kambing dengan domba. Secara biologis, dua jenis ternak ini memang berbeda. Demikian pula dengan tatacara beternak serta jenis hijauan sebagai pakan. Dalam perdagangan dunia, daging kambing disebut mutton, dan daging domba disebut lamb. Meskipun sebutan mutton juga digunakan bagi daging domba dewasa, sementara lamb digunakan untuk menyebut daging anak domba (domba di bawah 1 tahun). Tetapi di Indonesia, tak pernah ada sebutan daging domba. Setelah kambing dan domba dipotong,  semua disebut daging kambing.

    kambing-2a
    Ternak kambing (Capra aegagrus hircus), merupakan domestifikasi kambing liar (Capra aegagrus), dari Timur Tengah dan Eropa Selatan. Sekitar 300 jenis kambing budi daya di dunia, berasal dari kawasan ini. Ternak kambing dibedakan dari ternak domba (Ovis aries) yang merupakan domestifikasi dari domba liar (genus Ovis). Dua hewan ternak ini berbeda jenis pakan dan cara pemeliharaannya. Kambing lebih banyak makan daun tumbuhan semak, perdu dan pohon berkayu. Sementara domba lebih banyak makan rumput. Masyarakat Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur, lebih menyukai ternak kambing dan sapi. Masyarakat Jawa Barat dan Banten, lebih menyukai ternak domba dan kerbau.

    Selama ini masyarakat menganggap bahwa kandungan kolesterol daging kambing lebih tinggi dari daging domba. Padahal terbalik. Kandungan kolesterol daging kambing lebih rendah dibanding daging domba. Dilihat dari tujuan budi daya, kambing dipelihara sebagai hewan pedaging, sebagai kambing perah penghasil susu, dan sebagai kambing penghasil wool. Meskipun kambing perah dan kambing penghasil wool, juga akan dipotong, tetapi dagingnya merupakan produk sampingan, bukan sebagai produk utama. Produk utama kambing perah susu, produk utama kambing penghasil wool berupa bulu.

    # # #

    Di Indonesia, terutama di Jawa, ada tiga jenis kambing peliharaan dengan populasi  paling banyak. Pertama kambing kacang yang bertubuh kecil tetapi padat. Inilah jenis kambing yang pertama dibawa masuk ke pulau Jawa dari daratan Asia (India atau Tiongkok). Kedua peranakan etawa (PE). Di India, kambing ini disebut jamnapari, bertubuh lebih besar, tanpa tanduk, dengan telinga menggantung ke bawah. Kambing PE masuk ke pulau Jawa lebih belakangan. Ketiga, kambing jawarandu, yang merupakan persilangan antara kambing kacang dengan kambing PE. Kambing jawarandu juga disebut bligon, gumbolo, koplo dan kacukan.

    Selain itu, masih ada kambing kosta di sekitar DKI Jakarta dan Banten, kambing muara di Tapanuli Utara, kambing samosir di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara, kambing gembrong di Bali, dan kambing marica di Sulawesi Selatan. Pada zaman Hindia Belanda, masuklah kambing boer dari Afrika Selatan, dan kambing saanen dari Swiss, dan kambing anglo nubian dari Afrika Utara yang telah dikembangkan di Inggris. Tahun 1950an, pemerintah Indonesia kembali memasukkan kambing jamnapari dari India, untuk memurnikan kambing PE yang telah banyak kawin campur dengan jenis kambing lain.

    Kambing PE, saanen, dan anglo nubian sebenarnya merupakan kambing perah. Tetapi jarang sekali peternak rakyat yang memelihara kambing perah secara serius dengan produk utama susu kambing. Hingga PE, saanen, dan anglo nubian juga dipelihara sebagai kambing pedaging. Tiga jenis kambing ini, hanya cocok dibudidayakan di dataran menengah dengan elevasi antara 400 – 800 m. dpl. Di bawah 400 m. dpl. tiga jenis kambing ini tidak bisa tumbuh optimum, di atas 800 m. dpl. pertumbuhannya lebih lamban. Kambing kacang, lebih cocok dibudidayakan di dataran rendah dengan elevasi dari 0 – 400 m. dpl.

    Kambing jawarandu paling bandel dan adaptif dengan lokasi budi daya dari 0 – 1000 m. dpl. Ukuran kambing jawarandu mendekati PE, tetapi dengan kepadatan mendekati kambing kacang. Peternak yang sulit memperoleh benih kambing jawarandu, biasanya menyilangkan sendiri kambing kacang dengan PE. Silangan antara kambing boer jantan dengan kambing etawa betina juga relatif unggul dibanding etawa, PE, dan boer asli. Kambing silangan boer dengan etawa ini kadang disebut boerawa. Kambing anglo nubian dan saanen juga banyak yang kawin campur dengan jenis kambing lain, dengan jejak genetiknya masih tampak jelas.

    # # #

    Penggemukan anak kambing jantan (bakalan), sampai mencapai bobot ideal untuk dipotong, paling tinggi tingkat keuntungannya. Bakalan untuk digemukkan, dicari dari pasar-pasar tradisional di Jatim, Jateng dan DIY. Kecuali kambing kacang juga bisa dijumpai di Pantura Jawa Barat dan Banten. Para penggemuk kambing bakalan, umumnya tak punya breeding farm sendiri, dan hanya mengandalkan bakalan dari pasar. Kelemahan sistem ini, ketika bakalan dari pasar tak tersedia dalam populasi cukup, aktivitas penggemukan akan terganggu. Kandang dan tenaga kerja akan menganggur. Maka idealnya, peternakan kambing pedaging dimulai dengan membangun sebuah breeding farm.

    Para peternak kambing dengan populasi besar, umumnya juga tak memiliki lahan penghasil hijauan. Akibatnya pada musim kemarau kambing kekurangan pakan, atau, peternak terpaksa membeli hijauan dengan harga sangat tinggi. Maka idealnya, sebelum memulai peternakan kambing pedaging, investor membuka kebun buah, hutan sengon (albisia, jeungjing), agar menghasilkan hijauan secara rutin. Daun avokad, nangka, mangga, sangat disukai kambing. Tanaman ini juga perlu rutin dipangkas. Kebun kopi, kakao, vanili juga bisa dikembangkan untuk mendukung peternakan kambing, karena lamtoro, gamal, dadap sebagai tanaman pelindung akan menghasilkan hijauan.

    Kendala kelangkaan hijauan pada musim kemarau, bisa diatasi dengan membangun silo, untuk menyimpan hijauan segar hingga menjadi silase. Meskipun kambing lebih suka daun-daunan dibanding rumput, tetapi dalam rumput gajah, rumput raja, dan setaria, tetap perlu ditanam sebagai selingan. Demikian pula dengan tanaman tarum daun (nila, Indigofera) yang dulu terkenal sebagai penghasil zat warna biru untuk kain, bisa dikembangkan sebagai penghasil hijauan pakan kambing. Yang menjadi pertanyaan, bagaimanakah pasar daging kambing untuk 20 tahun ke depan? Dengan populasi penduduk di atas 200 juta jiwa, daging kambing tak akan pernah sulit terpasarkan di Indonesia. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *