SOGA SEBAGAI POHON BERBUNGA
by indrihr • 06/04/2017 • Perkebunan, PERTANIAN • 0 Comments
Di The Green, BSD, Tangerang Selatan; di trotoar depan Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, Jakarta Timur; dan di sekitar Taman Tugu, Malang; kita bisa melihat pohon dengan tajuk rindang, dengan bunga kuning cerah. Itulah soga.
Padahal dulu, soga dibudidayakan hanya untuk diambil kulitnya sebagai bahan pewarna kain. Soga, batai laut, jemerlang laut, siár, soga jambal, kayu jhuwek, hau kolo, laru, lalu loëh, léwĕttĕr, yellow-flame, yellow-flamboyant, yellow flametree, yellow poinciana, Peltophorum pterocarpum; berupa pohon dari suku Fabaceae. Tumbuhan ini berhabitat asli Asia Tenggara, tetapi sekarang telah menyebar ke seluruh dunia sebagai pohon peneduh (pelindung) berbunga indah. Pohon-pohon soga yang ada di DKI Jakarta masih berukuran kecil, karena baru berumur beberapa tahun. Yang di Malang sudah berumur puluhan, bahkan beberapa mungkin sudah ratusan tahun, karena diameter batangnya lebih satu meter, dengan tinggi 30 meteran.

Di Halaman dalam Hotel Sriwedari, Jl. Laksda Adisucipto no. 6 Yogyakarta, juga ada pohon soga raksasa dengan diameter batang lebih dari satu meter, dengan ketinggian 30 meteran. Bulan-bulan Desember dan Januari, pohon-pohon soga ini akan menampakkan rona bunganya yang kuning cerah, hingga seluruh tajuk pohon itu seakan berwarna kuning. Warna kuning bunga soga seperti kuning kunyit (kuning mengarah oranye). Lain dengan warna bunga tengguli, trengguli, golden rain tree, Cassia fistula; atau johar, Siamese cassia, cassod tree, Senna siamea, yang cenderung pucat (kuning keputihan). Tajuk soga juga rindang dengan daun hijau tua hingga cocok untuk meredam panas matahari.
Meski tidak sekuat asam jawa, tamarind, Tamarindus indica; batang dan percabangan soga tidak serapuh angsana, amboine, Pterocarpus indicus; atau trembesi, ki hujan, rain tree, Albizia saman; yang selama ini populer sebagai tanaman penghijauan, karena pertumbuhannya yang sangat cepat. Tetapi, selama ini soga memang hanya dikenal sebagai tanaman peneduh di luar DKI Jakarta. Itu pun karena merupakan sisa-sisa tanaman peneduh yang ditanam oleh Pemerintah Hindia Belanda. Untunglah Kota Malang sangat menjaga pohon-pohon besar warisan Belanda ini sebagai “monumen hidup”. Sebab di Bogor misalnya, deretan tanaman kenari tua ini sudah banyak yang ditebang.
# # #
Sebenarnya yang bisa menghasilkan zat warna coklat untuk kain, terutama batik; bukan hanya soga Peltophorum pterocarpum, yang kemudian disebut soga jambal. Tengar, tangar, tengal, tengah, tingi, palun, parun, bido-bido, spurred mangrove, Indian mangrove, Ceriops tagal, yang merupakan tumbuhan mangrove, dan berpenampilan mirip bakau (Rhizophora Sp) juga merupakan penghasil warna coklat. Soga dari bahan kulit pohon Ceriops tagal ini kemudian dikenal dengan nama soga tingi, untuk membedakannya dengan soga jambal yang berasal dari pohon soga Peltophorum pterocarpum. Kemudian ada pula soga akasia, dari kulit batang pohon Acacia catechu. Hingga ada tiga jenis tumbuhan yang kulit batangnya menghasilkan warna coklat, yakni soga jambal, soga tingi dan soga akasia.
Kosa kata soga dalam kasanah batik tulis tradisional, tak hanya digunakan untuk tumbuhan penghasil warna coklat, melainkan juga warna merah dan kuning. Kayu secang, sappanwood, Caesalpinia sappan; yang sekarang populer sebagai pewarna minuman tradisional Yogyakarya wedang uwuh, sebenarnya juga merupakan penghasil warna merah untuk kain batik. Kayu secang, sesuai dengan namanya, menghasilkan warna merah dari kayu batang maupun cabang, bukan kulit batang. Sebagai penghasil warna merah pada kain batik, kayu secang disebut sebagai soga jawa. Kelemahan kayu secang, saat dilorod (kain direbus untuk menghilangkan malam batik); sebagian besar warna merah itu luntur.
Kalau kayu secang sebagai penghasil warna merah disebut soga Jawa; tegeran, hau molo, manuhain, cockspur thorn, Maclura cochinchinensis disebut soga begerm yang akan menghasilkan warna kuning. Bagian yang digunakan sebagai penghasil warna kuning bonggol kayunya (bagian pangkal batang/akar). Tegeran berupa perdu berkayu, dengan duri-duri tajam di seluruh permukaan kulit kayunya. Sebenarnya kayu nangka, jackfruit, Artocarpus heterophyllus, dan bonggol mubei, Chinese mulberry, Morus australis; juga menghasilkan warna kuning. Tetapi sama dengan kayu secang, warna kuning dua tumbuhan ini akan luntur saat kain dilorod. Bonggol soga begerm menghasilkan warna kuning yang relatif tahan panas saat kain dilorod. Namun saat ini kayu tegeran sangat sulit dijumpai di alam sementara yang membudidayakannya tidak ada.
Masih banyak tumbuhan yang bagiannya (kayu, kulit kayu, daun, bunga, dan buah); digunakan sebagai bahan pewarna kain. Yang paling populer tarum daun, nila, tom, true indigo, Indigofera tinctoria. Sesuai dengan namanya, tarum daun dimanfaatkan daunnya sebagai penghasil warna biru indigo (nila). Dari sinilah muncul peribahasa “Karena nila setitik (setetes warna biru); rusak susu sebelanga (yang berwarna putih). Pada abad IV – VII, Jawa Barat merupakan penghasil utama tarum daun dunia untuk diekspor, terutama ke India dan Tiongkok. Sedemikian pentingnya komoditas tarum, hingga kerajaan yang ada di Jawa Barat waktu itu diberi nama Tarumanagara, dan sungainya bernama Citarum.
# # #
Sama dengan pohon soga jambal yang beralih fungsi dari penghasil warna kain batik menjadi pohon hias; tarum daun juga berganti peran. Sejak digunakannya bahan pewarna sintetis; warna indigo dari tarum daun dilupakan. Dampaknya, tak ada lagi petani yang membudidayakannya. Tarum daun kembali hanya bisa dijumpai di alam liar. Memang masih tetap ada pembatik yang menggunakan warna indigo tarum daun; tetapi volumenya sangat kecil. Masyarakat memang masih ingat peribahasa “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Tapi mereka tak tahu apa itu nila. Demikian pula dengan nama Tarumanagara dan Citarum, yang masih dikenal masyarakat; tetapi mereka tak tahu mengapa kerajaan dan sungai ini bernama demikian.
Belakangan tarum daun kembali dibudidayakan petani. Tujuannya bukan untuk dipanen daunnya lalu diekstrak untuk menghasilkan zat warna biru indigo; melainkan sebagai pakan ternak. Tersebutlah para peternak ruminansia Indonesia berupaya untuk membudidayakan hijauan pakan ternak dengan kandungan nutrisi tinggi. Selain rumput, mereka juga mencoba membudidayakan Alfalfa, Medicago sativa yang merupakan tumbuhan sub tropis. Tentunya alfalfa tak bisa tumbuh baik di kawasan tropis seperti Indonesia. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba para peternak sapi, kambing dan domba mencoba membudidayakan tarum daun. Hasil produksinya jelas cukup bagus, karena tarum daun memang tumbuhan tropis.
Ternak ruminansia yang diberi pakan tarum daun tumbuh bagus, karena daun tumbuhan ini ternyata juga kaya nutrisi. Sejak itulah budi daya tarum daun kembali populer. Soga jambal juga sama. Bedanya, mereka yang menanamnya sebagai pohon pelindung, misalnya para personel Dinas Pertamanan DKI, tak tahu bahwa soga merupakan pohon penghasil zat warna coklat pada proses produksi batik tradisional. Mereka hanya tahu bahwa di Malang, pohon-pohon soga jambal yang sudah berumur ratusan tahun itu, pas berbunga akan menghadirkan panorama yang menarik. Sebab kuning soga memang sangat kuat, persis kuning kunyit, bukan kuning keputihan seperti tengguli atau johar. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : F. Rahardi
