• SUKUN SEBAGAI BREADFRUIT

    by  • 25/04/2017 • Pangan, PERTANIAN • 0 Comments

    Tanggal 20 September 1519, Ferdinand Magellan dengan lima buah kapal layar dan  270 awak; memulai perjalanan keliling dunia dari Spanyol. Magallan berlayar ke ujung selatan Benua Amerika, melintasi Pasifik, dan di sinilah mereka kehabisan makanan.

    Untunglah samudera ini tak ganas, hingga Magellan dan rombongan menyebutnya Pasifik. Jarak antar pulau/kepulauan di Samudera Pasifik juga tak jauh. Pulau-pulau ini penuh dengan pohon kelapa dan buah yang kalau dibakar atau direbus, berasa seperti roti. Maka buah itu pun mereka beri nama “buah roti” (breadfruit). Rombongan pengeliling dunia itu terselamatkan oleh kelapa dan sukun, yang merupakan makanan pokok masyarakat Kepulauan Pasifik. Sejak itulah sukun dikenal dunia dan benihnya menyebar ke seluruh kawasan tropis. Tapi, bukankah sukun tak berbiji?

    sukun-a
    Buah sukun memang tak berbiji. Dalam daging buah itu hanya ada serat dan karbohidrat. Karenanya, buah yang tak berbiji atau berbiji kecil, disebut “sukun”. Misalnya jambu sukun (jambu biji yang tak berbiji). Jambu kristal yang ngetren belakangan ini merupakan salah satu kultivar jambu sukun. Durian yang tak berbiji disebut durian sukun. Tanaman yang tak berbiji, atau berbiji tapi fertil, biasanya dikembangbiakkan dengan setek cabang/batang, atau cangkokan. Tetapi batang/cabang sukun juga tak bisa disetek/dicangkok. Sukun hanya bisa dikembangbiakkan dengan stek akar.

    Ketika akar tanaman sukun terpotong, bagian yang masih tersambung dengan batang akan menumbuhkan akar baru, sementara bagian yang terputus dari batang akan menumbuhkan tunas sebagai individu tanaman baru. Teknik inilah yang digunakan petani untuk mengembangbiakkan sukun. Akar digalu, dipotong, dan bagian yang terputus dari batang utama ditarik hingga muncul ke atas permukaan tanah. Akar inilah yang akan menumbuhkan tanaman baru. Karena masih ada bagian akar yang akan menyerap air serta nutrisi, pertumbuhan benih hasil pemutusan akar ini sangat cepat.

    # # #

    Pembenihan sukun dengan cara pemutusan akar dan menariknya ke permukaan tanah, hanya akan menghasilkan benih dalam volume kecil. Untuk memroduksi benih dalam volume besar, biasanya para penanggar membongkar satu batang tanaman sukun, akarnya dipotong-potong, lalu disemai dengan cara disungkup plastik bening. Cara menyemainya bagian yang tersambung dengan batang berada di atas, bagian ujung akar berada di bawah. Pertumbuhan benih dari potongan akar dari pohon yang dibongkar, tak akan sepesat apabila akar tanaman masih berada dalam tanah, tetapi volume benih bisa sangat besar.

    Sukun (Artocarpus altilis), masih satu genus dengan nangka (Artocarpus heterophyllus), cempedak (Artocarpus integer), dan kluwih, timbul (Artocarpus camansi). Di seluruh dunia, genus Artocarpus, suku Ara-araan (Moraceae), terdiri dari 64 spesies, yang tersebar di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik. Di Indonesia, kluwih dikonsumsi sebagai sayuran seperti halnya nangka muda. Lain dengan di Kepulauan Pasifik, di sana kluwih dikonsumsi bijinya. Hingga sukun disebut breadfruit, kluwih disebut breadnut. Di Kepulauan Pasifik, kluwih dibiarkan masak di pohon dan jatuh, agar mudah diambil bijinya.

    Di Indonesia, sukun hanya sebatas dikonsumsi sebagai makanan ringan dengan cara digoreng. Di Kepulauan pasifik, sukun merupakan makanan pokok yang dikonsumsi dengan cara direbus, atau dibakar. Sebagai salah satu sumber karbohidrat, sukun dikonsumsi bersama sayuran, ikan atau daging babi. Selain dikonsumsi langsung setelah direbus, dikukus atau dibakar; buah sukun juga dikonsumsi dalam bentuk pasta. Caranya, daging buah sukun yang telah dikukus, ditumbuk sampai halus, diencerkan dengan air panas, lalu dimakan seperti bubur. Di Kepulauan Pasifik, “bubur” buah sukun ini disebut Ulu.

    Ulu dikonsumsi merata di Pasifik Selatan, sementara di Pasifik Utara (Hawaii), lebih populer Poi, hasil olahan umbi talas. Cara membuatnya sama, yakni umbi talas dikukus, direbus atau dibakar, kemudian dikupas dan ditumbuk sampai halus. Setelah dicambur air dan diaduk rata, bubur umbi talas ini disebut Poi. Di Vanuatu dan Tuvalu, selain Ulu dan Poi, juga dikenal Kanomel. Sama dengan Ulu dan Poi, Kanomel juga berupa bubur, hasil tumbukan umbi pulaka (Cyrtosperma merkusii). Umbi pulaka mirip dengan senthe (Alocasia macrorizos), yang di Vanuatu dan Tuvalu juga dikonsumsi sebagai makanan pokok.

    # # #

    Selain dikonsumsi langsung, buah sukun juga bisa ditepungkan. Caranya, buah sukun yang sudah cukup tua dikupas, dipotong tipis, lalu dimasukkan ke dalam air bersih agar tak bersentuhan dengan udara dan teroksidasi hingga menjadi coklat. Bahan yang sudah terpotong dan terendam air, dikukus selama 10 – 20 menit untuk menonaktikan enzime. Hasil kukusan ini dijemur atau dikeringkan pakai dryer. Bahan baku yang telah kering digiling, diayak. Tepung sukun bisa dikonsumsi berupa bubur, roti, dan kue; berupa bahan tunggal (tepung sukun murni), atau sebagai campuran tepung beras, tapioka, sagu dan terigu.

    Di Situs Tokopedia, tepung sukun merk Hasil Bumiku, ditawarkan seharga Rp 40.000 per kemasan 1 kg. Di situs yang sama, tepung sukun merk Mama Kamu, ditawarkan seharga Rp 30.000 per kemasan 1 kg. Di situs Priceza, variasi merk tepung sukun yang ditawarkan cukup banyak. Mulai yang termurah Rp 21.000 sampai yang tertinggi Rp 59.000 per kemasan 1 kg. Di antara tepung sukun yang ditawarkan di situs Priceza, ada yang diberi predikat organik. Nah kalau yang ini harus dipertanyakan label (nomor sertifikat) organik Standar Nasional Indonesia (SNI). Sebab produk pangan baru bisa diklaim organik, apabila sudah ada SNI organiknya.

    Sukun merupakan tanaman yang cepat pertumbuhannya. Dalam jangka waktu empat sampai lima tahun sudah akan berbuah. Daun sukun lebar-lebar, hingga merupakan penghasil oksigen (O2) cukup baik. Di Pasifik Selatan, daun sukun dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk sebagai alas makan. Para turis asing senang makan sukun, talas, dan menu khas lain dengan beralaskan daun sukun. Bunga jantan sukun yang berserakan di bawah tajuk pohon, bisa dikeringkan dan dibakar sebagai pengusir nyamuk. Aroma asap bunga jantan sukun relatif lebih aman dibanding “obat nyamuk bakar” yang berpestisida.

    Sebenarnya, rombongan Pelaut Spanyol Magellan, berlayar bukan untuk berkeliling dunia, melainkan mencari jalan ke “Pulau Rempah-rempah” (Kepulauan Maluku). Berkat breadfruit, tahun 1521, dua tahun setelah meninggalkan Spanyol, rombongan Magellan tiba di Kepulauan Maluku. Magellan sendiri, dengan sebagian besar awak kapalnya, tewas di Pulau Cebu, Filipina. Satu kapal yang tersisa segera ngebut agar bisa sampai ke Spanyol. Tanggal 6 September 1522, tiga tahun sejak keberangkatan, satu kapal dengan 18 awaknya, dan 18 ton rempah-rempah berhasil kembali ke daratan Spanyol. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *