• BISNIS BUAH DELIMA

    by  • 02/05/2017 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Seseorang akan dianggap belum berkunjung ke kota Istanbul, Turki; apabila tak  datang ke Masjid Sultan Ahmed (Masjid Biru) yang merupakan ikon kota tersebut. Juga apabila tak sempat mencicipi jus buah delima yang banyak dijajakan di kakilima Istanbul.

    Jus buah delima itu biasa disajikan murni; bisa pula dicampur dengan jeruk manis. Jus buah delima murni berwarna merah tua, dengan rasa manis-manis masam, dan beraroma khas delima. Di kakilima kota Istanbul, Turki; pedagang jus buah delima memang tampak sangat mencolok. Buah delima bakal jus ini digerai dengan bagian pangkalnya telah dibuka, hingga tampak biji buah dengan warna merah menyala, mirip permata ruby. Di Istanbul satu gelas jus delima murni atau campuran, dibandrol tiga lira Turki atau sekitar Rp 25.000. Di negeri ini, delima dipanen pada bulan September sampai Februari; hingga selama musim dingin buah ini akan tampak dominan di kakilima Kota Istanbul.

    delima-merah-a
    Meskipun delima sangat populer di Istanbul, sebenarnya Turki hanya berada pada peringkat enam penghasil delima utama dunia. RRT merupakan penghasil delima terbesar dunia dengan produksi sebesar 1.600.000 ton; kedua Iran 940.000 ton; India 820.000 ton; Irak 790.000 ton; Afganistan 450.000 ton; dan Turki 320,000 ton. Di kota Baghdad, Irak; juga bisa kita jumpai penjaja jus delima di kakilima. Tapi jumlahnya tak sebanyak pedagang jus delima di Istanbul. Demikian pula di Beijing dan New Delhi, penjaja jus delimanya tak mencolok seperti halnya di Istanbul. Di RRT sebagian besar delima diserap oleh industri minuman dalam kemasan.

    Di kawasan Timur Tengah, Pakistan dan India, delima juga dikonsumsi segar sebagai jus, dan diolah menjadi minuman biasa maupun difermentasi menjadi minuman beralkohol. Namun di kawasan tersebut penyerap terbesar buah delima justru dunia kuliner. Ada puluhan masakan khas Timur Tengah, Pakistan dan India, yang menggunakan buah delima segar sebagai salah satu bumbu penyedapnya, atau sekadar untuk hiasan (garnish). Maka jangan heran kalau di Iran, Pakistan atau India kita akan ketemu gulai kambing atau nasi kebab dengan taburan biji buah delima segar. Di India, ada ratusan menu yang menggunakan biji buah delima. Di masyarakat yang terbiasa mengonsumsi buah delima sebagai minuman atau rujak, gulai dan nasi kebab dengan taburan biji delima terasa aneh.

    # # #

    Delima (Punica granatum), berasal dari daratan Asia, tepatnya dari Iran, Afganistan, Pakistan dan India utara. Delima sudah menyebar ke Timur Tengah, Afrika Utara dan Eropa Selatan, pada awal zaman perunggu (3300–2100  SM). Itulah sebabnya buah ini sudah dibudidayakan secara komersial pada zaman Firaun di Mesir, dan juga disebut-sebut dalam kitab Keluaran (Exodus 28:33; 28:34; 39:25 dan 39:27). Bahkan sebagian ahli kitab Yahudi, berpendapat bahwa Buah Pengetahuan Baik dan Buruk yang dimakan Adam serta Hawa di Taman Eden menurut Kitab Kejadian (Genesis), bukannya apel melainkan delima. Diduga, delima sudah masuk ke kepulauan Nusantara, bersamaan dengan datangnya para pedagang Hindu pada milenium II SM.

    Di Indonesia, delima juga bisa tumbuh baik. Meskipun di kawasan basah dengan curah hujan di atas 2000 mm per tahun, kualitas buahnya tak sebaik di habitat aslinya di Iran, Pakistan, Afganistan dan India utara. Karenanya di Indonesia delima tak berkembang sebagai buah komersial, melainkan sekadar dibudidayakan sebagai tanaman hias di halaman rumah. Setelah berbuah pun, buahnya jarang dikomsumsi. Selain sebagai tanaman hias, delima varietas ungu (hitam). juga ditanam di halaman rumah sebagai penolak bala. Sementara buah delima putih sering dicari-cari orang untuk digunakan sebagai obat alternatif. Ada tiga varietas delima yakni delima merah, delima putih, dan delima ungu.

    Pemanfaatan delima putih sebagai bahan obat alternatif, dan delima ungu sebagai penolak bala; diduga merupakan pengaruh kebudayaan Hindu. Mengingat delima dibawa ke Kepulauan Nusantara oleh Bangsa India. Kemudian Islam yang masuk ke Kepulauan Nusantara, ikut pula menguatkan informasi tentang manfaat buah delima. Kitab Suci Al Quran, menyabut buah delima dalam Surah Al-Aníaam – 99; Al-Aníaam – 141; dan Ar-Rahman – 68-69. Selain dalam Al Quran, delima juga disebut-sebut dalam beberapa Hadist. Pengaruh kultur Hindu dan Islam ini, tetap saja tak membuat delima dibudidayakan secara komersial, karena faktor agroklimat. Padahal di kawasan kering seperti Pantura Jawa, Madura, Sulawesi Selatan, dan NTT; delima bisa berproduksi sebaik di Timur Tengah.

    Selain karena faktor agroklimat, delima tak berkembang di Indonesia juga karena pengaruh cara mengonsumsinya. Buah delima terdiri dari biji kecil-kecil, dengan lapisan daging buah (pulp) yang tipis dan berair banyak. Di habitat aslinya, dan di Timur Tengah yang kering; delima dibudidayakan untuk diambil airnya sebagai minuman. Di Indonesia yang beriklim tropis, air tersedia cukup. Varietas buah-buahan yang relatif mudah dikonsumsi juga tersedia sangat banyak. Hingga mengonsumsi delima menjadi tidak terlalu menarik. Paling banter, di Indonesia delima dikonsumsi sebagai rujak oleh kalangan tertentu; terutama bagi perempuan yang sedang hamil.

    # # #

    Keengganan masyarakat untuk mengonsumsi delima, berdampak ke impor buah ini yang juga tak berkembang. Delima sudah diimpor secara terbatas sejak awal tahun 2000an. Saat ini harga delima impor sekitar Rp 40.000 per kilo; dengan tingkat penjualan rendah. Kadang delima yang tak laku di pasar swalayan, terpaksa diobral di kaki lima Jakarta dengan peminat yang juga tak terlalu banyak. Seretnya pasar buah dan tanaman delima; sangat kontras dengan euforia masyarakat Indonesia terhadap buah tin (ara, common fig, Ficus carica); dan kurma (Phoenix dactylifera). Minat masyarakat untuk “mengebunkan” buah tin, dan “kurma tropis” sangat tinggi. Dampaknya harga benih tin dan terutama kurma juga ikut melambung.

    Padahal habitat asli tin dan kurma lebih ekstrim dibanding delima. Sebutan “kurma tropis” di Thailand, telah dimanfaatkan oleh kalangan tertentu untuk menangguk keuntungan secara tidak fair. Seakan-akan “kurma tropis” ini bisa dibudidayakan di Indonesia; dengan hasil sama baik dengan di Thailand, karena Indonesia dan Thailand sama-sama beriklim tropis. Padahal provinsi Nakhonrachasima, Thailand, lokasi perkebunan “kurma tropis” itu, berada pada 15° Lintang Utara (LU). Kalau ditarik garis sejajar, posisi Nakhonrachasima sama dengan Yaman, Eritrea, Sudan dan Chad, yang selama ini merupakan salah satu penghasil kurma dunia. Sementara Pulau Jawa, berada pada posisi antara 6° Lintang Selatan (LS), dan  9° LS.

    Euforia “kurma tropis” sangat wajar, mengingat buah ini umum dikonsumsi pada bulan Ramadan, dengan volume impor di atas 70.000 ton, dengan nilai di atas Rp 1 triliun. Namun buah tin yang volume impornya juga tak lebih besar dari delima; bisa juga menjadi trend di masyarakat. Padahal meski sama-sama disebut di Kitab Perjanjian Lama maupun Al Quran; buah tin baru diintroduksi ke Indonesia pada dekade tahun 1990an. Sementara delima sudah masuk ke Kepulauan Nusantara pada milenium II SM. Suatu saat, tak tertutup kemungkinan akan terjadi euforia budi daya delima di masyarakat Indonesia, dan harga benihnya juga akan melambung tinggi. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *