BISNIS ANGGREK BULAN TAIWAN
by indrihr • 08/05/2017 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments
Tiap musim semi, secara rutin Taiwan menyelenggarakan Taiwan International Orchid Show (TIOS) yang diikuti oleh penganggrek dari seluruh penjuru dunia. Tahun 2016 ini, TOS diselenggarakan pada 12 – 21 Maret yang lalu, yang didatangi 320.000 pengunjung.
Dalam pembukaan TIOS tersebut, Su Mao-hsiang, Kepala Sekretariat Badan Pertanian dan Pangan Taiwan; memrediksi ekspor anggrek Taiwan tiga tahun ke depan sejak 2016 akan mencapai 306.390.000 dollar AS (Rp 3,9 triliun) per tahun. Hampir seluruh anggrek yang diproduksi Taiwan, merupakan anggrek bulan hibrida (Phalaenopsis hybrids). Anggrek bulan tersebut dipasarkan berupa tanaman dalam pot, dengan bunga beraneka bentuk, ukuran dan warna. Sebagian besar produksi anggrek bulan Taiwan diekspor ke AS dan Jepang. Belakangan, makin banyak anggrek bulan Taiwan yang masuk ke RRT melalui Hongkong.

Anggrek bulan Taiwan, diproduksi dalam full greenhouse, dengan sinar lampu, suhu dan kelembapan udara, sistem pengairan dan nutrisi, yang semua diprogram komputer. Satu full greenhouse seluas satu hektar (seluas lapangan sepak bola), hanya dikelola oleh satu tenaga kerja. Agroindustri anggrek di Taiwan benar-benar telah terspesialisasi dengan sangat baik, mulai dari para kolektor, pemulia (penyilang), penangkar benih, pembesaran benih, dan terakhir petani bunga. Yang paling banyak menyerap tenaga kerja di bagian tengah, yakni agroindustri penangkar dan pembesaran benih.
Semua kegiatan itu didukung oleh perusahaan sarana/prasarana, pupuk, kelembagaan pertanian yang kuat. Di negeri pulau ini ada asosiasi penangkar (breeders), petani (growers) dan pedagang (traders). Bisa saja seseorang menjadi anggota organisasi penangkar, petani dan pedagang, karena ia bisnisnya mencakup tiga bidang tersebut. Tetapi umumnya, para pelaku agroindustri anggrek di Taiwan hanya spesifik menjadi penangkar, petani bunga, atau pedagang. Semua bisnis anggrek bulan Taiwan ini, berhulu pada kolektor anggrek. Merekalah yang memiliki koleksi beraneka jenis anggrek bulan, termasuk anggrek bulan Indonesia.
# # #
Taiwan memang punya spesies anggrek bulan putih Phalaenopsis aphrodite, yang berhabitat asli di bagian tenggara negara pulau tersebut. Anggrek bulan putih Taiwan, mirip dengan anggrek bulan putih kita, Phalaenopsis amabilis. Bedanya, tanaman anggrek bulan putih Taiwan berukuran lebih kecil, dengan tangkai bunga lebih pendek, ukuran bunga juga lebih kecil tetapi dengan sepal, petal dan labellum lebih kompak. Anggrek bulan putih Indonesia, sangat beragam. The International Plant Names Index, membagi anggrek bulan putih Indonesia menjadi tiga jenis. Pertama anggrek bulan putih Jawa, Phalaenopsis amabilis, yang berhabitat asli Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.
Kedua anggrek bulan putih Maluku (Phalaenopsis amabilis subsp. moluccana), yang berhabitat asli seluruh Pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku. Ketiga anggrek bulan putih Papua (Phalaenopsis amabilis subsp. rosenstromii), yang berhabitat di Papua dan kawasan timur laut Australia. Selain perbedaan sepal dan petal, anggrek bulan putih Indonesia ini dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan karakteristik lidah (labellumnya). Meskipun masing-masing jenis bisa sangat beragam ukuran dan bentuk bunganya. Anggrek bulan putih Jawa misalnya, bisa seperti anggrek bulan putih Taiwan, bisa bertangkai bunga panjang dan bercabang-cabang.
Anggrek bulan putih yang tumbuh di dataran tinggi basah, misalnya di Taman Nasional Gede Pangrango di Jawa Barat, berpenampilan mirip dengan anggrek bulan putih Taiwan. Bertangkai bunga tunggal dan pendek, dengan bunga yang kecil-kecil serta kompak. Sepal dan petalnya tak jarang saling menindih (overlapping). Sebaliknya, anggrek bulan putih yang tumbuh di dataran rendah, misalnya di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten; bertangkai bunga panjang, dan bercabang-cabang. Ukuran bunganya lebih besar, dengan sepal dan petal ramping dan terpisah satu sama lain.
Selain keturunan anggrek bulan putih Taiwan dan Indonesia, anggrek bulan hibrida juga berindukkan anggrek-anggrek bulan Filipina. Negeri ini punya beberapa spesies Phalaenopsis yang menjadi sumber genetik dasar bagi anggrek-anggrek bulan hibrida komersial, yakni sanderiana dan schilleriana yang berbunga pink; philippinensis yang berbunga putih, dan stuartiana dengan bunga bertotol coklat. Warna merah, kuning dan totol serta loreng, antara lain diperoleh dari spesies corningiana, fasciata, dan amboinensis. Phalaenopsis merupakan genera, dengan 70 spesies, dan ribuan hibrida.
# # #
Lain Taiwan, lain pula di Indonesia. Di Taiwan, anggrek bulan merupakan komoditas bisnis yang diproduksi massal. Di Indonesia, masyarakatnya lebih banyak mengambil spesies anggrek bulan dari hutan, untuk dijual keluar. Maka tak heran kalau anggrek bulan raksasa (Phalaenopsis gigantea), dan anggrek bulan Jawa (Phalaenopsis javanica), lebih mudah dijumpai di Singapura dan Thailand, dibanding di habitat aslinya. Anggrek bulan Jawa yang berhabitat sangat sempit di kawasan selatan Kabupaten Sukabumi dan Cianjur, malahan sudah punah di habitat aslinya.
Untunglah, belakangan ini masyarakat Indonesia sudah mulai menerima anggrek bulan sebagai hiasan di berbagai tempat dan event. Kalau sebelumnya Genus Dendrobium mendominasi pasar anggrek Indonesia, belakangan justru Phalaenopsis yang lebih banyak tampil. Selain oleh perorangan, anggrek bulan hibrida di Indonesia juga diproduksi secara massal oleh P.T. Eka Karya Graha Flora. Awal tahun 2000an tercatat ada beberapa perusahaan yang memroduksi anggrek bulan hibrida dengan menggunakan benih dan teknologi Taiwan. Satu per satu perusahaan ini tutup dan sekarang hanya tinggal Eka Karya.
Sepintas, anggrek bulan hibrida seharga Rp 200.000 sampai di atas Rp 1 juta per pot, tampak terlalu mahal. Tapi dibandingkan anggrek potong (Dendrobium dan Vanda), yang bisa dibeli dengan harga puluhan ribu per ikat, jatuhnya anggrek bulan dalam pot justru lebih murah. Sebab daya tahan anggrek potong, paling lama satu minggu. Itu pun air vas harus selalu diganti tiap hari, dan pangkal tangkai dicuci serta dipotong. Anggrek bulan hibrida dalam pot bisa tahan sampai satu bulan tanpa perawatan apa pun. Setelah bunga habis, tanaman itu bisa dibuang, atau ditempelkan di pohon.
Menurut Badan Pusat Statistik, produksi bunga anggrek Indonesia tahun 2015 sebesar 21,5 juta tangkai. Produksi anggrek ini sangat kecil dibanding sedap malam sebesar 116,6 juta tangkai; mawar 188,3 juta tangkai; dan krisan 442,6 juta tangkai. Padahal bersamaan dengan bunga melati (Jasminum sambac), bunga raflesia (Rafflesia arnoldii), anggrek bulan putih Phalaenopsis amabilis, merupakan salah satu bunga nasional kita berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 1993. Dan bunga nasional kita itu, justru menjadi komoditas bisnis di Taiwan. Sebab bunga nasional Taiwan, bunga plum (Prunus mume), memang tak bisa dibisniskan. # # #
Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
Foto : F. Rahardi
