• AVOKAD MENTEGA

    by  • 15/05/2017 • Buah, Sayur, Tanaman Hias, PERTANIAN • 0 Comments

    Pada awal April 2017 ini harga avokad di kios buah kakilima Jakarta, sekitar Rp 15.000 per kilogram isi empat atau lima butir buah. Di Pasar Swalayan, harga buah ini sudah Rp 25.000 sampai Rp 35.000 per kg, isi tiga atau empat butir buah.

    Avokad merupakan komoditas buah yang agak aneh. Pada tahun 1960an buah avokad tak ada yang mau makan. Konsumennya hanya sebatas etnisitas Tionghoa. Sejak zaman Belanda, kawasan pegunungan di Indonesia sudah banyak pohon avokad. Tanaman buah ini didatangkan oleh Bangsa Belanda dari Amerika Tengah dan Laut Karibia. Masyarakat Belanda dan orang Eropa pada umumnya senang buah ini. Merekalah konsumen utama buah avokad yang dibudidayakan di dataran menengah sampai tinggi (400 – 1.500 m. dpl). Ketika Indonesia merdeka, dan tahun 1957 orang-orang Belanda kembali ke negeri mereka, buah avokad tak terpasarkan.

    avokad-a
    Tahun 1960an, buah avokad tua berjatuhan, masak, dan membusuk di bawah pohon. Masyarakat Indonesia memang tak suka buah avokad. Para petani banyak yang memotong pohon avokad untuk kayu bakar. Tentu tak semua pohon avokad dipotong dan dibuang. Salah satu pohon avokad yang tersisa ini berada di halaman Hotel Wina, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tahun 2000, Turmanto, warga dusun Ngasem, Desa Jetis, Kecamatan Bandungan; melihat buah avokad di halaman Hotel Wina itu dan tertarik mengembangkannya. Buah avokad di Hotel Wina itu memang berukuran besar. Satu buah bisa berbobot di atas satu kilogram, berdaging buah warna kuning dan lembut.

    Bersama Kelompok Tani Berkah Jaya Dusun Ngasem, Turmanto mengembangkan avokad dari halaman Hotel Wina ini. Avokad unggul ini kemudian diberi nama Avokad Wina oleh Muhammad Saryono, Ketua Kelompok Tani Berkah Jaya. Melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility, CSR), PT Sido Muncul Tbk mengembangkan avokad Wina sebagai buah unggulan di Desa Wisata Buah di Kawasan Pemandian Air Hangat Kalisori, Desa Diwak, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Avokad Wina hanyalah salah satu dari avokad unggul yang dikembangkan para petani di beberapa kawasan penghasil buah di Indonesia.

    # # #

    Avokad lalu kembali naik daun setelah selama beberapa dekade dilupakan. Tahun 1980an kalau kita pesan jus avokad, acapkali jus itu berwarna kehijauan, berasa pahit, dan banyak seratnya. Sebab buah avokad yang digunakan untuk jus itu berkualitas sangat rendah. Kadang dipetik saat masih muda. Yang ini pun sulit untuk dicari. Tak semua kios buah menjual avokad. Pada dekade 1980an, avokad masih merupakan “buah si malakama”. Konsumen fanatiknya sulit mendapat avokad kualitas baik, petani tak berani menanam karena takut tak terpasarkan. Sekarang lain. Sejak dekade 2000an, di mana-mana kita bisa memperoleh avokad kualitas baik, tapi harga juga tak pernah jatuh.

    Ini merupakan indikator bahwa permintaan dan pasokan masih imbang. Pertumbuhan budi daya avokad yang sangat pesat selama dekade 2000an, juga diimbangi oleh pertumbuhan konsumen yang juga pesat. Generasi muda kelahiran tahun 1990an, merupakan konsumen avokad fanatik, karena pengaruh media massa , terutama televisi. Jadilah gayung bersambut. Upaya publisitas oleh media massa, merupakan langkah yang pas; bukan model publisitas “menggoreng isu”. Misalnya yang pernah terjadi pada komoditas jangkrik, cacing, Anthurium daun dan lain-lain yang hanya bermanfaat untuk menaikkan tiras. Sementara komoditasnya sendiri tak mungkin dikembangkan karena tak pernah ada permintaan riil dari konsumen.

    Publisitas avokad belakangan ini, sebenarnya juga ada unsur “menggorengnya”. Misalnya penggunaan istilah avokad mentega. Daging buah avokad selalu berwarna kuning, dengan sedikit warna kehijauan pada bagian yang berdekatan dengan kulit buah. Sebutan avokad mentega digunakan untuk avokad dengan daging buah kuning kunyit yang mengarah ke orange. Sebab beberapa kultivar avokad berdaging buah kuning pucat. Tapi bukankah warna mentega justru kuning pucat? Yang berwarna kuning kunyit bukan mentega yang berbahan baku susu mamalia, melainkan margarine dari bahan nabati, terutama dari minyak sawit. Namun upaya publisitas avokad mentega, masih wajar dan bukan upaya “pembodohan publik”.

    Menyikapi euforia komoditas avokad yang naik daun ini, Kementerian Pertanian juga telah melepas (merilis) beberapa kultivar avokad unggul. Beberapa di antaranya adalah avokad ijo bundar dari Tlekung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Avokad ijo bundar sudah dilepas Menteri Pertanian pada tahun 1987. Kemudian avokad ijo panjang yang juga dilepas tahun 1987. Lalu ada avokad merah bundar dan avokad merah panjang. Sebutan bundar dan panjang, mengacu pada bentuk buah, sementara sebutan ijo dan merah mengacu pada warna kulit buah. Avokad mega gagauan dari Balai Penelitian Buah Solok, Sumatera Barat dilepas tahun 2003.
    Avokad mega murapi dan mega paninggahan juga berasal dari Solok dan dilepas tahun 2003.

    # # #

    Total ada tujuh kultivar avokad unggul yang telah dilepas Menteri Pertanian RI. Tujuh kultivar ini, sama dengan kultivar wina dari Bandungan, hanya cocok dibudidayakan di kawasan dataran menengah sampai tinggi. Untuk kawasan dataran rendah, ada dua kultivar yang juga sangat populer di kalangan petani. Pertama avokad cipedak dari Jagakarsa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan; dan kedua avokad miki dari Depok, Jawa Barat. Dua kultivar ini lebih mudah beradaptasi dengan iklim basah di dataran rendah, karena merupakan hasil seleksi dari avokad yang selama ratusan tahun berkembangbiak di Pasar Minggu serta Depok. Pasar Minggu dan Depok merupakan kawasan dataran rendah basah.

    Tujuh kultivar hasil seleksi Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropis (Balitjestro), serta Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok; sama dengan avokad wina dari Bandungan;  merupakan kultivar dataran tinggi. Avokad memang menghendaki agroklimat kering dan dingin. Adaptasi dengan agroklimat dataran rendah basah, memerlukan waktu beberapa abad. Menurut hukum Mendel, sebuah kultivar akan stabil apabila telah berkembangbiak secara generatif sebanyak delapan kali, dengan agroklimat yang sama. Paling sedikit diperlukan waktu 50 tahun untuk mendapatkan generasi ke delapan. Avokad  sudah tumbuh di Pasar Minggu dan Depok selama berabad-abad, hingga sudah bisa menciptakan kultivar dataran rendah basah.

    Tanaman avokad paling rentan terhadap serangan ulat kipat (cricula silkmoth, Cricula trifenestrata). Ulat kipat sebenarnya tak hanya menyerang avokad, tetapi juga jambu mete, kedondong, kayu manis, dan beberapa tanaman lain. Tapi serangan terhadap avokad biasanya paling parah. Avokad yang terserang ulat kipat akan benar-benar habis daunnya. Di kalangan masyarakat memang ada anggapan, bahwa tanaman yang terserang ulat kipat justru akan segera berbuah dengan lebat. Alasan mereka, avokad yang tumbuh di kawasan beriklim empat musim akan rontok daun pada musim gugur. Di kawasan tropis, ulat kipatlah yang akan merontokkan daun agar tanaman mau berbuah.

    Logika ini ada benarnya. Saat tanaman stress karena daun habis dimakan ulat kipat dan pertumbuhan vegetatif terganggu, pertumbuhan generatif akan segera terjadi. Tapi sebenarnya, ulat kipat tetap mengurangi produktivitas avokad. Sebab beda dengan apel dan anggur yang merupakan tumbuhan sub tropis, avokad berasal dari Amerika Tengah dan Kepulauan Karibia yang tropis. Di habitat aslinya, avokad tak pernah mengalami musim gugur. Di beberapa sentra avokad di Indonesia, avokad tetap bisa berbuah lebat, meskipun tak pernah diserang ulat kipat. Hingga tetap diperlukan penanggulangannya, baik dengan pestisida maupun secara alami, agar produktivitas terjaga. # # #

    Artikel pernah dimuat di Mingguan Kontan
    Foto : F. Rahardi

    About

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *